Oleh: Harry Hardian

Kemajuan bidang teknologi dan ekonomi menghadirkan revolusi industri di tanah Britania Raya. Diawali penemuan mesin uap dan munculnya pemikiran ekonomi semakin meningkatkan perkembangan industri pada era itu. Sama halnya dengan Industri sepakbola, hadirnya teknologi televisi dan ide kreatif membuat Liga Inggris semakin menarik ditonton.

Bukan karena para Wags-nya yang makin cantik dan super seksi itu, tetapi karena permainan klub-klub Inggris yang cenderung menghibur ketimbang menyebalkan kaya di Italia.

Pertengahan tahun 1980-an, sepakbola inggris berada pada titik nadir. Dua tragedi besar menghampiri, Tragedi Heysel dengan korban 39 orang meninggal dunia dan lebih dari 600 orang mengalami luka-luka, serta dan Tragedi Hillsborough yang menewaskan 96 suporter dan melukai 766 orang.

Selain itu, aksi hooliganisme yang semakin menjadi-jadi. Suporter klub Inggris yang liar kayak om-om senang lihat pelajar SMA, menjadikan citra buruk bagi persepakbolaan Inggris.

Hasil gambar untuk hillsborough disaster
Tragedi Hillsborough yang terkenal. (The New York Times)

Ibarat ungkapan yang mengatakan, “belajar dari kesalahan”, sepakbola Inggris mulai berbenah. Perdana Menteri Inggris saat itu, Sang Iron Lady, Margareth Thatcher menyebut “English Desease” karena melihat ulah dan kelakuan para suporter. Dia pun memaksa FA untuk menarik keikutsertaan klub-klub Inggris di level Eropa.

Itulah yang menjadi salah satu pelatuk rivalitas Everton dan Liverpool hingga sekarang. Akibat ulah pendukung Liverpool di Tragedi Heysel, Everton yang jadi juara Inggris saat itu dilarang ikut kompetisi Eropa. Kasihan.

Secercah Harapan dari Sky Sports

Kegalauan tim-tim Inggris semakin meningkat. Beberapa klub membuat koalisi yang berencana keluar dari Football League, kasta tertinggi Liga Inggris saat itu, melihat kondisi liga yang semakin menurun. Ditambah ketakutan para suporter hadir ke stadion.

Kejelian sang pebisnis terlihat, Rupert Murdoch dengan unit bisnisnya hadir memberikan angin segar. Dengan rayuan hak siar yang tinggi menjadi daya tarik, akhirnya Football League merevisi sistem Liga Inggris yang berlaku saat itu. Kemudian lahirlah Liga Primer yang aktif hingga zaman Presiden Jokowi ini.

Tagline Kick and Rush mulai didengungkan. Sky Sports sebagai pemegang hak siar memberikan kenyamanan seperti sang pacar yang memberikan kelembutan apalagi jika lagi ada di kosan.

Tidak usah jauh-jauh datang ke stadion, cukup duduk di depan layar kaca TV anda, Sky Sports akan memberikan semuanya. Para pemirsa disuguhkan prediksi pertandingan, wawancara live, serta suasana di lorong pemain (Tunnel Cam) yang saat itu belum ada di liga manapun.

Sky Sports sangat pengertian sekali kemauan penonton. Jelas bisa jadi suami dan menantu idaman jika seperti caranya. Apapun diberikan untuk memanjakan istri dan mertua.

Semakin membaiknya pengelolaan Liga Inggris, membuat sponsor maupun investor berduyun-duyun datang menghampiri. Berdasarkan data The Guardian, saat ini 28 klub di empat kasta teratas Liga Inggris dimiliki oleh investor asing.

Ternyata bukan hanya Presiden SBY dan Jokowi saja yang berminat pada investor asing, di Inggris sana pun juga tergantung pada investasi dari luar.

Menurut Alisher Usmanov salah satu pemegang saham Arsenal mengatakan pada BBC, “I’m sure it is good [for English football]. When investors come and invest in the economy, in British football, it is a big part of the entertainment economy in the United Kingdom. ‘What’s bad?’.” 

Artinya mungkin bisa Anda cari sendiri di Google Translate. Singkatnya, meski perusahaan mencari keuntungan, tapi ide-ide kreatif mulai bermunculan. Setiap klub membuka akun Youtube, menjalankan tur pramusim, hingga membeli pemain top demi keuntungan penjualan jersey.

Dampak Komersialisasi

Aspek komersial Liga Primer yang begitu tinggi dan menjadi daya tarik para pencinta sepakbola dunia rupanya tak selalu berefek positif. Dibalik kilaunya Liga Primer yang enak ditonton dan kompetisinya yang sengit, ternyata ada hal lain yang dikorbankan. Memang tak sampai mengorbankan nyawa, tapi dampak komersialisasi cukup terasa beberapa tahun terakhir.

Muara kompetisi liga adalah menghasilkan tim nasional tim yang kuat. Tapi, pernahkah Anda lihat tim nasional Inggris berprestasi di level internasional sejak majunya liga tersebut? Paling-paling hanya semifinalis Piala Eropa 1996, itupun mainnya di kandang sendiri.

Hal itu terjadi karena terlalu banyaknya pemain asing yang berlaga di Liga Inggris. Bahkan pelatih pun didatangkan dari luar. Mudah-mudahan tak sampai mendatangkan kuli dari Cina.

Sebut saja, klub-klub papan atas tidak ada yang menggunakan jasa pelatih lokal. Efeknya, gaya permainan kick and rush tak lagi terlalu berasa. Bahkan Chelsea kini mulai menerapkan formasi tiga bek ala Italia dan Jerman. Sebuah hal yang tabu bagi sepakbola Inggris yang dulunya mengandalkan sayap dengan formasi 4-4-2.

Pelatih asing tampak mulai jarang memperagakan bola panjang ke daerah sayap dan permainan ngotot di lapangan tengah sebagai ciri khas sepak bola Inggris. Sepertinya mereka suka yang lembut-lembut kayak selimut baru.

Begitu juga dengan kiper. Setelah Joe Hart hengkang, praktis tak ada lagi kiper asli yang punya level bermain di tingkat tinggi. Wajar jika selama ini timnas Inggris kesulitan mencari pelatih dan kiper yang cocok.

Pemain muda juga hanya penghangat di bangku cadangan. Para pemilik klub cenderung memilih pemain top dan matang yang dapat secara instan menghasilkan prestasi berujung pada masuknya para sponsor. Tidak hanya pemain mudanya, pemain seniornya pun tergerus oleh para tenaga kerja asing.

Tak hanya itu, peringkat Liga Inggris yang tadinya dicap sebagai liga terbaik di dunia pun kini melorot hingga posisi ketujuh. Berdasarkan IFFHS tahun 2015, Inggris berada di bawah Spanyol, Italia, Jerman, Argentina, Prancis, dan Brasil.

Faktanya demikian, dalam empat edisi Liga Champions terakhir, tak ada satupun tim Inggris yang mencapai final. Jika diibaratkan sebuah bukit, sepak bola Inggris sempat jatuh kemudian menanjak hingga puncak topnya pada era 2000-an. Apalagi ketika Liverpool, Manchester United, dan Chelsea menjadi juara Liga Champions.

Jika pada tahun 2000-an masih ada pemain-pemain kelas dunia yang asli Inggris macam David Beckham, John Terry, Frank Lampard, Steven Gerrard, Ashley Cole, hingga Michael Owen. Sekarang mungkin separuhnya adalah pemain asing.

Pemain lokal jarang punya kesempatan untuk bermain lebih banyak. Pada musim 2013/14, hanya lima pemain Inggris yang bermain penuh selama 38 pertandingan.

Akibat kebanyakan pemain asing, efek negatifnya baru dirasakan sekarang. Klub-klub papan atas yang kurang melakukan pembinaan membuat timnas Inggris kesulitan mencari pemain top yang asli Inggris. Sudah tidak ada lagi sisa-sisa kejayaan pemain dulu macam Gerrard dan kawan-kawan tersebut.

pemain muda
Pembinaan pemain Liga Primer masih jauh di bawah Ligue 1. (Goal)

FA Mulai Sadar

Untungnya, federasi tertinggi sepak bola Inggris, FA, mulai menyadari hal ini. Tahun lalu, mereka mengumumkan rencana aturan pembatasan jumlah pemain non-Uni Eropa sekaligus pemberlakuan aturan pembinaan pemain muda.

Ketua FA, Greg Dyke, sangat menyoroti pemain asing berkemampuan biasa-biasa saja begitu merajalela di Inggris sehingga talenta muda sulit berkembang.

“Jika sistem yang kami perkenalkan diberlakukan selama lima tahun terakhir, sepertiga pemain non-Uni Eropa yang bermain di sini tidak akan bisa masuk. Lalu, apabila sistem itu diberlakukan selama tiga, empat, lima tahun mendatang, Anda akan melihat jumlah pemain binaan klub naik dari 20-an % ke 40%. Rencana ini bermanfaat jika diterapkan di sepak bola Inggris, namun khususnya sangat bermanfaat bagi Liga Primer,” ujar Dyke dikutip dari BBC. 

Adapun FA mulai mengeluarkan empat butir rencana FA. Mulai dari batas usia 15 tahun (sebelumnya 18) bagi pemain binaan klub, jumlah pemain binaan bertambah harus mencapai 8-12 orang dari 25 pemain, sampai minimal dua pemain binaan klub harus terdaftar selama tiga tahun di klub tersebut sejak usia 15 tahun.

Langka revolusioner FA ini bukan tanpa penolakan. Pelatih Arsene Wenger yang gemar berternak pemain muda dan pemain asing mengkritik kebijakan tersebut. “Idealnya semua harus lebih terbuka dan semua bisa masuk,” katanya.

Nah, sekarang tinggal menunggu keputusan FA saja, apakah bisa diterapkan selama empat tahun ke depan di semua klub Liga Primer. Namanya perubahan pasti ada dampak negatif yang ditimbulkan. Alhasil ini akan menjadi lagunya Nelly bersama Kelly Rowland, Dilemma, yang sempat booming pada tahun 2002-an itu.

Sama ketika revolusi industri dulu memiliki dampak tenaga kerja jadi murah dan polusi yang meningkat akibat banyaknya pabrik. Begitu juga dengan revolusi industri di sepak bola yang punya dampak melemahkan pemain lokal sehingga kurang kuatnya bentukan tim nasional “The Three Lions“.

Main photo credit: Goal


HarryHarry Hardian

Penulis yang selalu diawali dengan kata mantan. Mantan pemain, mantan pelatih dan mantan seseorang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here