Oleh: Umair Shiddiq Yahsy

Siapa sebetulnya biang keladi kekalahan Chelsea atas Tottenham Hotspur kemarin? Jelas bukan Ayu Ting-Ting karena dia katanya sudah menjadi biang keladi retaknya hubungan Andrea Barzagli a.k.a Raffi Ahmad dan Nagita Slavina.

Jawabannya mudah, yakni kepala. Meski tak harus dinyanyikan, “kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki,” nyatanya dua gol yang disarangkan Tottenham Hotspur ke gawang Thibaut Courtois memang lahir dari sundulan kepala pemuda harapan bangsa Inggris, Dele Alli. Tentu bikin kepala fans Chelsea pun ikutan pusing.

Prosesnya pun hampir sama, rekannya Christian Eriksen memberikan umpan lambung terukur, bahkan bisa diukur pakai penggaris kayu milik Bu Sri, guru Matematika. Kemudian disambut oleh lompatan Alli yang kemudian menyundul bola dan masuk ke jaring si London Biru.

Tapi lucunya, dua gol yang tercipta itu juga menghasilkan respon yang sama dari penggawa-penggawa Chelsea yang saat itu menjaga Alli: Melongo, oleh dua orang sekaligus.

Ya, mereka adalah Cesar Azpilicueta dan Victor Moses yang hobi melongo saat Alli mencetak dua gol tersebut. Pada gol pertama keduanya cuma bisa diam melongo melihat Alli yang seolah terbang mengudara.

Dalam hati mungkin mereka cuma bisa bergumam, “Wow, keren! Andai aku bisa seperti dirinya, sudah tampan, berbodi ranjang, bisa cetak gol dari kepala pula, apalagi kalau bisa pakai kepala yang bawah.

Gol kedua lebih parah lagi, keluguan keduanya bahkan sampai harus membuat mereka bertabrakan untuk bisa menghentikan kepala Alli yang ditumbuhi rambut kribo itu.

Weleh-weleh, seberapa sial sebetulnya klub milik Roman Abramovich ini sama kepala? Mari kita coba analisa lebih dalam.

Terhenti di Angka 13

Sebelum kekalahan dari pasukan yang dikomandoi Mauricio Pochettino ini, Antonio Conte sebetulnya sudah cetak rekor untuk klub asuhannya.

Sejak kalah dari Arsenal 0-3 di Emirates Stadium, Chelsea selalu mencatat kemenangan berturut-turut sampai 13 kali. Tim terakhir yang mengalahkannya pula yang akhirnya harus was-was karena rekornya takut dikejar.

Yup, Arsenal, sang meriam london memang wajar ketar-ketir karena Chelsea bisa saja menyalip rekor mereka yang mencatat 14 kali kemenangan secara berturut-turut. Tapi  akhirnya Tottenham mengandaskan peluang Chelsea ini.

Tak usah berpikir kalau Arsene Wenger bakal menelepon dengan mesra Pochettino untuk mengucapkan terima kasih. Lupakan. Prediksi saya, Wenger justru semakin was-was karena semakin banyak klub yang saat in bersaing ketat untuk mengejar titel juara liga Inggris. Jangankan juara, untuk mendapatkan tiket ke Liga Champions saja semakin berat. Saya pun yakin pelatih-pelatih Liga Inggris lainnya juga akan berpikiran yang sama.

Mari kita masuk ke analisa soal kepala. Dari 14 pertandingan yang sudah dijalani Chelsea berujung pada satu kekalahan, dan 13 kali menang, mantan klub Frank Lampard ini hanya kebobolan sebanyak 6 gol.

Namun, sekuat-kuatnya Superman, dia lemah terhadap batu kryptonite. Sehebat-hebatnya Chelsea di tangan Conte, tentu punya kelemahan juga. Justru kepala yang menjadi kelemahan mereka.

Perlu dicatat, dari enam gol yang tercipta ke gawang Courtois tersebut, setengahnya berasal dari kepala. Padahal, bek-beknya punya postur yang tinggi. Jauh lebih tinggi dari bek tim nasional kita, Hansamu Yama dan Fachruddin.

Pada laga terakhir sebelum kalah lawan Tottenham, “The Blues” juga hampir saja gagal membawa pulang angka di kandang sendiri ketika melawan Stoke City. Salah satu proses gol yang tercipta juga berasal dari kepala. Saat itu gol yang dicetak Martins Indi berasal dari assist kepala Peter Crouch.

Berkat umpan sundulan kepala Crouch tersebut, Stoke menyamakan kedudukan 1-1, dan penonton di Stamford Bridge menjadi dibuat dag-dig-dug-serr sambil menahan pipis untuk beberapa saat. Tapi untungnya, di laga ini Chelsea bisa menang dengan skor 4-2. Tapi, tidak saat melawan Tottenham. Dengan kepala-kepala juga, mereka akhirnya K.O.

Kalah di Piala Liga Inggris oleh Kepala
Yang juga menarik dan perlu dicatat, bahwa di sela-sela rekor 13 kemenangan beruntun di Liga Inggris tersebut, Chelsea juga sempat kalah. Bahkan harus gugur di babak 16 besar Piala Liga Inggris.

Klub yang menyingkirkan mereka adalah West Ham United, dengan skor 1-2. Lalu, kepalanya ada di mana? Pada gol pertama yang “The Hammers” ciptakan. Bahkan gol kepala yang satu ini lumayan luar biasa.

Gol kepala yang dihasilkan oleh Cheikhou Kouyate ini tercipta dari jarak jauh melebihi titik putih pinalti, bahkan hampir di garis terdepan kotak penalti. Bola pun tak bisa dijangkau kiper kedua Chelsea saat itu, Asmir Begovic, yang tak ada hubungannya dengan Asmirandah. Sundulan jarak jauh, bukan tendangan, luar biasa, biasa di luar.

Chelsea tak hanya menelan pil pahit karena kekalahan tersebut, namun juga harus menjadi salah satu tim besar yang menemani Manchester City untuk angkat koper di babak yang masih awal, 16 besar. Kepala memang jadi hantu yang sangat menakutkan buat Chelsea untuk saat ini.

Tiga Kali Kebobolan oleh Isi Kepala Eriksen
Yang satu ini memang agak berbeda. Ini bukan kepala sesungguhnya. Melainkan apa yang ada di dalam kepala seorang Christian Eriksen. Sudah dua kali Chelsea menghadapi Tottenham di Liga Inggris musim ini.

Keduanya berbagi poin sama, sekali kalah, sekali menang. Tapi yang menarik, dalam dua laga tersebut, Eriksen adalah otak dibalik terciptanya gol demi gol Tottenham. Cerdas.

Kalau di laga terakhir dua gol Tottenham lahir dari assist cantik dan jitu Eriksen. Maka di laga pertama, ketika bermain di Stamford Bridge, Eriksen adalah pencetak golnya. Walau akhirnya Tottenham harus kalah dari Chelsea dengan skor 1-2, tapi satu gol yang dibuat Eriksen saat itu sangat berkelas.

Isi kepala Eriksen benar-benar membuktikan kemoncerannya. Begitu mendapat bola, dari jarak jauh tanpa membuang waktu, Eriksen tak melepaskan momentum emas untuk melepaskan tembakan jarak jauh yang sangat mantap. Tendangan itu tak mampu dijangkau Courtois yang salah mengambil posisi karena berada terlalu keluar dari gawangnya. Cerdas.

Kecerdasan gelandang asal Denmark itu memang bisa menjadi modal dia untuk masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tapi, pemain bola sepertinya cukup menggunakan otaknya untuk menjebol gawang lawan, khususnya Courtois.

Alhasil, sudah terbukti. Kepala-kepala mereka ini benar-benar menjadi momok yang menakutkan bagi perjalanan Chelsea-nya Conte yang kata banyak pengamat luar biasa.

Tapi, dengan kejadian ini mari kita berpikir ulang. Khususnya untuk para fans Chelsea, mari berharap semoga kepala-kepala lawan tidak lagi menghambat laju tim kesayangan Anda untuk menjadi juara. Semoga.

Kepala, pundak, lutut, kaki, lutut, kaki.


umair

Umair Shiddiq Yahsy

Penulis adalah pribadi yang sederhana. Pernah menjadi wartawan, tapi merasa gagal. Melihat sepak bola dari sisi (dunia) lain. Bercita-cita menjadi pengamat sepak bola, tapi tak kesampaian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here