Oleh: Paundra Jhalugilang

Jargon “Kepak Sayap Kebhinnekaan” yang dipopulerkan mbak Puan Maharani semakin semarak di dunia maya. Meski banyak meme berupa sindiran terhadap spanduk kampanye dari mbak Puan, namun kata-kata itu tanpa disadari melekat di benak kita.

Tanpa disadari, dunia sepak bola juga terkena virus “Kepak Sayap Kebhinnekaan” ala mbak Puan. Yang teranyar, muncul meme Kepa Arrizabalaga yang menjadi pahlawan Chelsea di Piala Super dengan jargon “Kepa Sayap Kemenangan”.

Tentu saja, ini cuma lucu-lucuan saja. Saya yakin timnya mbak Puan serta pesaingnya, Airlangga Hartarto, yang juga sedang berlomba bikin baliho, tidak akan mempermasalahkan hal ini. Justru ini semakin menarik dan menambah sisi kreativitas masyarakat.

Jika jargon tersebut dibawa ke PSG, maka cocoklah “Les Parisiens” mengusung “Kepak Sayap Kebhinnekaan” itu tadi. Kepak sayap diartikan sebagai burung. Burung yang dimaksud tentu saja burung Garuda lambang negara kita. Di burung Garuda, terdapat “Bhinneka Tunggal Ika” yang bermakna persatuan meski berbeda-beda suku bangsa.

https://twitter.com/mejajangmyeon/status/1425717143161561089

Musim ini, PSG semakin melengkapi “kebhinnekaan” tersebut. Meski berasal dari Prancis, tetapi mereka memiliki banyak pemain dari berbagai macam suku bangsa.

Mereka memiliki pemain yang berasal dari enam negara top Eropa di sepak bola yakni Jerman, Prancis, Italia, Spanyol, Belanda, dan Portugal. Tinggal Inggrisnya saja yang belum, mungkin mereka lagi sibuk “Is Coming Home”.

Dari Amerika Latin, terdapat Argentina dan Brasil. Tak usah disebut siapa pemain-pemainnya. Pasti sudah pada tahu.

Dari Afrika, ada duo Senegal, Abdou Diallo dan Idrissa Gueye. Kemudian bertambah satu pemain dari Afrika Utara, yakni Achraf Hakimi, yang berasal dari Maroko.

Dari Amerika Tengah, ada Keylor Navas yang kalian juga sudah pada tahu negaranya dari Kosta Rika, bukan dari Brunei Darussalam. Tinggal pemain dari ras Asia saja nih yang belum. Mungkin Rizky Ridho bisa mengisi lini belakang PSG, ya siapa tahu saja.

Memang masih banyak suku bangsa yang belum ada di PSG, contohnya saja dari Kosovo, Kep. Fiji, Mongolia, atau Tibet. Namun, dari segi skill tentu saja “kebhinnekaan” itu sudah terasa lengkap. Mau segala jenis pemain ber-skill apa juga ada.

Mau yang tipe lari ada, mau yang gampang jatuh juga ada, mau yang bola lengket di kaki ada, mau yang bervisi ada, mau yang jago tekel ada, mau ngajak ribut ada, bahkan sampai yang tukang ngembat istri orang juga ada.

Kedatangan Gigi Donnarumma, Hakimi, Sergio Ramos, Giorginio Wijnaldum, dan terakhir adalah dewa dari segala dewa sepak bola, Lionel Messi, semakin melengkapi kualitas permainan PSG dan sudah pasti bintang lima full kalau di PES atau FIFA.

Kok bisa-bisanya, dalam satu bursa transfer kedatangan pemain-pemain bagus dan juara, mulai dari kiper sampai striker. Semuanya top class. Kelas dunia.

Wajar, jika muncul meme atau lelucon adanya “pelarangan” memakai PSG di gim PES atau FIFA. Sebenarnya boleh-boleh saja, tapi siap-siap di-bully karena kalau pakai PSG jadi serba salah.

Jika menang, maka akan dibilang “Ya wajar lah namanya PSG kebangetan banget kalau enggak menang.” Giliran kalah makin parah, “Idihh pake PSG aja enggak menang.”

Jadi, memang sebaiknya tidak usah dipakai lah seonggok tim bernama PSG itu. Biarkanlah mereka mengepakkan sayap kebhinnekaan versi mereka sendiri.

https://twitter.com/Bolatory_ID/status/1425374262571900934

This image has an empty alt attribute; its file name is Screen-Shot-2021-07-02-at-16.01.31.png

Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here