Oleh: Harry Hardian

Sepakbola adalah permainan para lelaki, berbenturan adalah hal wajar dalam sebuah pertandingan. Tapi bagi penonton akan kurang menarik, karena sedikit-sedikit pelanggaran yang mengakibatkan permainan jadi berhenti sejenak.

Di Liga 1 Indonesia, seringkali ada gerakan tambahan setelah merebut bola. Ada ungkapan yang tak asing di Indonesia bahwa “bola boleh lewat, asal orang jangan lewat.”

Secara psikologis, akan menjadi mindset bagi pemain sepak bola bahwa tindakan apapun boleh dilakukan agar tidak masuk garis pertahanan, seperti kaki jahil pemain menginjak kaki lawan, sliding brutal padahal bola sudah jauh dari kaki lawan.

Hal itulah, yang selalu dipertontonkan dalam setiap pertandingan-pertandingan bola di Indonesia. Sepintas bikin seru, tapi kadang juga enggak enak ditonton karena sebentar-sebentar “Prit!”.

Setidaknya ada beberapa faktor yang menyebabkan sepak bola Indonesia jadi permainan yang keras cenderung kasar, meski tak sampai menjurus jorok dan cabul. Ya, kalau jorok sudah pasti jarang kita lihat. Jarang kita lihat kan ada pemain ingusnya masih menempel di hidungnya?

Tekanan Suporter

Bagai sayur tanpa garam, bagai taman tak berbunga. Kurang enak kurang sedap, itulah penggambaran suporter. Tanpa suporter, pertandingan bola jadi garing kayak pinggiran koreng.

Motivasi pemain sepakbola akan berlipat ganda jika suporter memberikan gemuruh suaranya di tribun stadion. Di mana pun di dunia, setiap suporter menginginkan kemenangan bagi timnya.

Ketika menang maka akan bersorak sorai, memuja pemain bak pahlawan. Namun, seringkali ketika mengalami kekalahan dan para pemain tidak perform dalam suatu pertandingan akan mengalami mendapatkan kritikan bahkan hujatan.

Hal itu yang menjadi beban tersendiri bagi pemain. Yang mengharuskan pemain harus dapat tampil sempurna di atas lapangan. Terkadang, energi besar setiap pemain dari dukungan penonton berubah menjadi semangat yang terlalu berlebih sehingga timbul permainan keras cenderung kasar.

“Jika Anda tak bisa mendukung kami ketika kami imbang atau kalah, jangan dukung kami ketika kami menang,” itulah pernyataan Bill Shankly, mantan pelatih Liverpool.

Belum lagi, teriakan-teriakan kompor dari warga sekitar alias penonton. Macam “hajar!”, “sikat!”, sampai “patahin kakinya!”, juga bikin pemain makin bernafsu menghajar pemain lawan.

Kualitas Lapangan

“Yang membedakan mungkin kondisi rumput lapangan. Ada lapangan yang sangat keras dan tidak rata. Lapangan yang perlu diperbaiki. Bila lapangan lebih bagus, mungkin kualitas permainan juga akan lebih bagus,” kata Peter Odemwingie dikutip dari Goal.

Pernyataan marquee player Madura United, si Odemwingie, menunjukkan bahwa kualitas pertandingan akan meningkat apabila fasilitas ditingkatkan secara signifikan. Hal ini yang menjadi pekerjaan rumah sepakbola Indonesia.

Memang tidak bisa dinafikan kenapa sepakbola Eropa enak sekali ditonton, jawabannya simpel, karena rumputnya bagus. Para pemain di Eropa selalu memperagakan umpan-umpang pendek, satu atau dua kali sentuhan dengan mudahnya.

Berbeda dengan kualitas lapangan rumput di Liga Indonesia. Kalau kita memperhatikan sepakbola Indonesia, sulit sekali memperagakan permainan tersebut.

Sepakbola di Eropa dapat melakukan satu sentuhan atau satu kali passing, sedangkan sepakbola Indonesia setidaknya dua atau tiga kali sentuhan baru dapat mengoper bola.

Pemain sepakbola Indonesia butuh waktu lebih lama untuk mengontrol dan mengoper bola. Hal inilah yang memudahkan pemain lawan mempunyai waktu mengejar dan menghadang sehingga menimbulkan benturan antar pemain sepak bola.

Cuaca

Faktor cuaca juga berpengaruh ke dalam permainan sebuah tim. Suhu udara yang cukup tinggi menyebabkan stamina pemain dengan cepat berkurang. Ketika stamina pemain mulai menurun dan keletihan melanda, konsentrasi pun akan menurun.

Hal ini lah penyebab pemain terkadang cepat mengambil keputusan dalam menghentikan lawan, yaitu sliding tackle atau mendorong permainan lawan mengakibatkan pelanggaran.

Cuaca panas juga bikin pemain cepat emosi. Sebagai gambaran, coba saja Anda naik motor pakai jaket tebal saat matahari terik lalu melewati kemacetan kota Jakarta. Ada yang menyerempet saja, bisa-bisa sudah Anda maki habis-habisan.

Wasit

Wasit adalah faktor penting mengontrol sebuah pertandingan sesuai dengan rule of the game. Tapi akhir-akhir ini wasit menjadi bahan perbincangan sepak bola Indonesia. Keputusan kontroversial kerap mewarnai keputusan yang diambil.

Hal ini menjadi perhatian Cristian Gonzalez a.k.a “El Loco“. Dia mengatakan masalah utama dalam persepak bolaan Indonesia yaitu wasit. Tidak seharusnya, dalam sebuah pertandingan bisa berkali-kali melakukan kesalahan.

“Saya sekarang harus hati-hati kalau bicara, karena sekarang sedang emosi. Itu bukan masalah di Indonesia (regulasi pemain U-23), pemain muda, atau senior. Begitu juga dengan suporter. Masalah sepak bola kita itu wasit. Saya mengerti mereka manusia, tapi dalam satu pertandingan mereka tidak bisa sepuluh kali salah terus,” ucapnya, dikutip Liputan 6.

Jika mengambil lirik lagu Seurieus band, “Wasit Juga Manusia”, terlihat beban wasit begitu tinggi dalam memimpin sebuah pertandingan liga. Tekanan suporter tuan rumah, pemain, dan pelatih sepanjang pertandingan kerap memengaruhi keputusan yang diambil.

Oleh karena itu, tidak harus selalu menyalahkan wasit, PSSI harus dapat menjaga netralitas sebelum wasit memimpin sebuah laga. Agar saat wasit bertugas dapat memimpin dengan tenang dan nyaman setiap mengambil keputusan.

Keputusan kontroversial yang terkadang menguntungkan salah satu tim akan menimbulkan gesekan. Hal ini lah yang penyebab para pemain terbawa emosi. Alhasil, permainan keras akan terlihat sebuah pertandingan.

Main photo: Bolabanget


Harry Hardian 2Harry Hardian

Penulis yang selalu diawali dengan kata mantan. Mantan pemain, mantan pelatih dan mantan seseorang.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here