Uruguay jadi tim kedua yang mendapat tiket ke babak 16 besar Piala Dunia 2018. Kemenangan mereka juga sekaligus memastikan Rusia yang sudah menang atas Mesir untuk melaju bersama ke babak berikutnya. Meski tuan rumah dan sudah lebih tahu daerahnya sendiri, Rusia juga perlu ditemani.

Tentu saja kedua tim itu termasuk cepat dalam menentukan kelolosan ke babak 16 besar. Tak sampai seminggu, mereka sudah bisa lolos grup, bahkan masih jauh lebih cepat daripada mengurus cicilan rumah yang memakan waktu tujuh hari kerja, sedangkan STNK bisa sampai dua minggu.

Tim lain juga masih ada yang baru main sekali, tapi Rusia dan Uruguay sudah memastikan lolos ke knock out. Kepastian itu memang didapat kedua tim setelah Uruguay mengunci kemenangan tipis 1-0 atas Arab Saudi.

Kemenangan itu bikin Rusia dan Uruguay memiliki poin enam dan tak mampu dikejar lagi oleh Mesir dan Arab. Alhasil, Mesir dan Arab resmi tersingkir kecuali Rusia dan Uruguay didiskualifikasi.

Jalannya pertandingan berlangsung normal, tak ada hal-hal aneh yang terjadi di lapangan. Seperti misalnya ada sales asuransi ke tengah lapangan, stadion dipakai konser, atau lapangan tergulung sendiri. Tidak ada.

Semua dimulai dari peluit yang dibunyikan sang wasit, kemudian berlangsung selama 90 menitan, tak ada yang kena kartu merah. Semua berjalan sesuai rencana, meski tak sesuai yang diharapkan tim Arab.

Arab memang tampak sudah berbenah dari lawan Rusia. Mereka tak mau pulang tanpa poin, bahkan tanpa gol. Minimal dapat oleh-oleh boneka pajangan Rusia lah, soalnya jarang dijual di Tanah Abang.

Permainan “Elang Hijau” lebih rapi dan lebih tenang. Mereka tak takut menghadapi duo striker maut, Edinson Cavani dan Luis Suarez. Memang harusnya begitu, takut hanya boleh pada Tuhan dan takdir.

Uruguaynya sendiri juga tak gereget. Kurang nendang, tak seperti micin-micin di cemilan lebaran yang ramai di meja rumah nenek. Paling Cavani dan Suarez sekali-sekali saja membahayakan pertahanan Arab yang dari dulu dikawal satu orang Kiper, tak pernah bertambah.

https://twitter.com/brfootball/status/1009480092781875200

Tak perlu menunggu waktu sampai 3 jam, gol sudah tiba saat laga berjalan 23 menit. Sebuah situasi bola pojok dilakukan Carlos Sanchez. Kiper Arab yang keturunan Arab, Mohammed Al Owais, maksud hati meninju bola tapi ternyata luput.

Owais yang tak ada hubungan saudara dengan Iko Uwais akhirnya cuma meninju angin. Bola lewat depan matanya dan jatuh di kaki Luis Suarez yang tinggal cebok saja.

Ya sudah itu saja gol yang terjadi di laga ini. Tak jauh beda dengan partai Portugal melawan Maroko. Mending artikelnya dibuat sama, toh jumlah golnya juga sama.

Pelatih Oscar Tabarez mengaku girang dengan kelolosan timnya ke final. Meski masih ada yang perlu dirapikan lagi terutama penyelesaian akhir dari skema open play. 

Uruguay yang letaknya lebih jauh dari kota Sabang 0 Km itu baru bikin dua gol, dua-duanya lewat bola mati. Memang di mana-mana bola itu mati, bukan termasuk makhluk hidup.

Tapi di sisi lain, pertahanan Uruguay masih belum bisa bobol di Piala Dunia 2018 kali ini. Meski belum bisa mengalahkan rekor Indonesia yang belum kebobolan sejak Piala Dunia 1938.

“Pertandingan-pertandingan itu mungkin tidak menyenangkan bagi fans untuk ditonton, tapi setidaknya Uruguay tidak kebobolan atau mengalami cedera atau menerima kartu kuning,” ucap Tabarez.

Tapi tentu saja, kami ingin tampil lebih baik lagi dan memiliki lebih banyak peluang mencetak gol. Orang berpikir kami memenangkan pertandingan-pertandingan dengan mudah karena membicarakan Rusia, Mesir, dan Arab tanpa tahu apapun,” sambungnya lagi.

Main photo: @BarcaUniversal 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here