Oleh: Paundra Jhalugilang

Alkisah lima tahun yang lalu, seorang pelatih yang jago berbahasa Italia tapi tidak bisa bahasa Arab memulai debut pertamanya di Liga Champions. Sebuah kompetisi bergengsi yang baru dirasakannya sebagai seorang pelatih.

Tentu beda dengan saat dia masih jadi pemain, di mana pada 1996 sudah mencicipi rasanya mengangkat trofi kuping lebar yang sekilas mirip dandang itu. Menjadi pelatih diperlukan keasyikan yang mendalam untuk menemukan ramuan yang tepat menghadapi klub-klub top Eropa.

Pelatih itu bernama Antonio Conte. Seorang masinis yang ekspresif. Selalu memeluk para pemainnya ketika pertandingan berakhir dengan kemenangan. Tapi marah-marah di lapangan ketika anak asuhnya tak bermain sesuai yang diinginkan. Lalu bersungut-sungut setelah mengalami kekalahan.

Tepat lima tahun yang lalu, tidak tepat-tepat amat juga, tapi kira-kira lah, Conte membawa Juventus klub yang dia pernah bela saat jadi pemain kembali berlaga di Liga Champions.

Juve kembali ke Liga Champions setelah mengalami masa pahitnya tanpa gelar. Bahkan pare yang ada di tukang siomay saja kalah pahitnya. Namun, Conte sukses mengembalikan kejayaan Juve itu setelah menjadi Scudetto pada tahun pertamanya pada 2011/12.

Lalu pada musim berikutnya, Conte membawa Juve kembali berlaga di kancah Eropa. Perasaan yang lama telah hilang itu akhirnya dirasakan kembali. Mereka bergabung bersama Chelsea, Shakhtar Donetsk, dan Nordsjaelland.

Baru pertama-tama, Juve yang seragamnya kayak kantong kresek jajanan pasar itu langsung berhadapan dengan Chelsea. “La Vecchia Signora” belum apa-apa sudah tertinggal 0-2 lewat dua gol indah bocah bernama Oscar.

Namun, Juve mampu bangkit dan bisa mencetak dua gol penyama kedudukan via Arturo Vidal dan Fabio Quagliarella. Alhasil, skor imbang 2-2 bisa mereka dapatkan di Stamford Bridge, markasnya Chelsea yang letaknya jauh sekali dari Wibawa Mukti.

Selang dua bulan, kini giliran Juve yang menyambut Chelsea di Juventus Stadium. Stadion pertama di Italia yang tidak mengontrak atau numpang sama mertua alias punya sendiri.

Juve rupanya mulai bisa ingat-ingat lagi caranya main di Eropa. Buktinya, di depan warganya sendiri itu timnya Conte bisa membantai Chelsea dengan skor 3-0. Tidak main-main, semua golnya sah tak ada yang bohongan.

Ketiga gol diborong oleh tiga orang. Adil, dibagi satu-satu biar tidak terkesan tamak. Mereka yang mencetak gol adalah Quagliarella, Vidal, dan si mungil Sebastian Giovinco.

Lima tahun berselang, Conte kini sudah jadi pelatih Chelsea. Mentang-mentang sama-sama huruf depannya C. Entah nyambung atau tidak, tapi namanya orang Indonesia kan suka begitu. Suka mengait-ngaitkan sesuatu.

Conte datang ke Chelsea dengan status sudah jadi pelatih kelas dunia. Membawa Juve meraih Scudetto, bahkan dua tahun jadi pelatih timnas Italia. Artinya, pengalaman internasionalnya sudah mulai banyak.

Conte bahkan langsung membawa Chelsea juara Liga Primer pada musim pertamanya. Persis saat dia menangani Juve dulu. Namun, pelatih berusia kepala empat itu belum langsung merasakan Liga Champions bersama Chelsea pada musim pertamanya.

Barulah musim ini, pada musim keduanya, Conte merasakan menangani klub yang berkostum biru kayak tutup galon itu, bermain di Liga Champions. Hasilnya? Mengingatkan kita pada lima tahun yang lalu. Kenapa begitu?

Bukan, Conte bukan mengulang atau membalas dendam Chelsea atas Juventus lima tahun lalu. Justru mantan pelatih Bari dan Siena itu kena karma.

Jika dulu Conte bermain imbang 2-2 di pertemuan pertama dan menang 3-0 di pertemuan kedua atas Chelsea, tahun ini kebalikannya.

Chelsea zaman ‘now’ zamannya Conte mengalami nasib serupa dengan Chelsea zaman ‘past’. Di penyisihan grup pada pertemuan pertama lawan Roma, klub asal London itu bermain imbang 3-3 di Stamford Bridge yang jaraknya tetap masih jauh dari Wibawa Mukti, tak berubah.

Situasinya juga mirip. Chelsea sudah unggul duluan 2-0 lewat David Luiz dan Eden Hazard sebelum disamakan 2-2 oleh Aleksandar Kolarov dan Edin Dzeko.

Malah parahnya, mereka kesalip jadi 2-3 karena Dzeko masih penasaran bikin gol lagi. Beruntung, Hazard mampu menyelamatkan wajah ganteng mereka sehingga skor jadi seri 3-3.

Namun nahas di pertemuan kedua. Menghadapi tim yang juga berasal dari Italia, bermain di Italia juga, bedanya kali ini di Roma bukan di Turin, Chelseanya Conte keok 0-3.

Dua gol dari Stephan El Shaarawy dan sebiji gol Diego Perotti sudah cukup buat Roma untuk mengembalikan Chelsea ke masa lalu. Biar mereka ingat kalau pernah dibantai klub Italia lainnya, lima tahun silam.

Entah apa namanya si Conte ini. Entah karma atau durhaka, dulu pernah membantai Chelsea 3-0 di Turin, kini merasakan pahitnya Chelsea miliknya dibantai di Roma.

Bisa juga disebut durhaka biar tak kalah dengan lagunya si kampret ala kasidah Nasida Ria yang lagi terkenal belakangan itu. “Tidak akan kuserahkan pada kampret yang durhaka,” begitulah liriknya.

Entah karma atau durhaka, silakan pembaca memutuskannya sendiri. Seperti yang menjadi judul artikel ini dengan adanya tanda tanya di akhir judulnya. Penulis cuma ingin kasih info saja kalau situasinya mirip-mirip. Lalu ingin bertanya kepada pembaca, ini karma atau durhaka?

Jawaban bisa dikirim ke PO BOX 16951 atau SMS ke 08567899xxx (No Call, WA Only).

Main photo: weaintgotnohistory.sbnation.com


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here