Juventus akhirnya kembali mendapatkan tahtanya yang biasa mereka miliki. Tahta itu adalah capolista yang sempat dipinjamkannya kepada Inter Milan selama beberapa saat.

Inter mesti mengembalikan capolista ke yang punya gara-gara mereka kalah 1-2 dalam pertarungan sengit dengan Juventus tadi malam. Padahal, “Nerazzurri” sudah main di depan warganya sendiri.

Inter memang tampak percaya diri bisa memenangkan laga ini. Mereka begitu semangat hari ini dan tak lupa menggosok gigi demi menyapa pertandingan yang sudah dinanti.

Misi mereka ingin mengalahkan Juventus yang sudah sekian lama tak bisa mereka kalahkan. Apalagi, Inter lagi punya performa bagus di Seri A dengan mengenyam performa 100 persen alias menang enam kali berturut-turut without seri dan kalah.

Jika menang lawan Juve, Inter bakal melebarkan jarak bisa jadi lima poin. Peluang buat Scudetto bisa lebih mudah. Sayangnya, semangat itu berbanding terbalik dengan takdir.

https://twitter.com/juventusfc/status/1180965202537394178

Meski di-press dan laminating begitu ketat oleh pemain-pemain Inter, Juve tetap tenang dalam mengendalikan permainan. Begitu juga ketika menghadapi serangan-serangan dari Inter Milan.

Lini belakang Juve tampak padu macam aliansi mahasiswa saat demo besar kemarin di depan sebuah gedung tak berguna di bilangan Jakarta.

Juve bahkan bisa mencetak gol lebih dulu saat laga baru berjalan empat menitan. Paulo Dybala menerima umpan terobosan lambung alias tombol L1+segitiga dari Miralem Pjanic, kemudian menyelesaikannya dengan sebuah finishing yang cukup mantap. Tendangannya melewati sela-sela kolong kaki Milan Skriniar yang tidak pakai sarung Behaestex malam itu.

Tak lama kemudian, Cristiano Ronaldo berhasil menggetarkan gawang Samir Handanovic lewat tendangan kencang. Sayang cuma menggetarkan tiangnya saja, tapi tidak sampai masuk ke gawang.

Inter mencoba bangkit dan lumayan bisa dapat hadiah penalti. Matthijs de Ligt malah main MMA di lapangan, menggunakan sikutnya untuk menghalau bola.

Lautaro Martinez kemudian mencetak gol dengan tendangan mendatar yang gagal dibendung kiper Juventus asal Polandia yang namanya susah dieja.

Juve memang tampak lebih matang karena tetap mampu membuat banyak peluang yang bikin menyusahkan Handanovic beberapa kali. Bahkan sempat terjadi gol oleh Ronaldo.

Sudah selebrasi “siu”, tapi ternyata offside. Kasihan banget si Ronaldo. Besok-besok mending enggak usah selebrasi dulu, dua kali bikin gol musim ini sudah gaya-gayaan, tapi enggak jadi.

https://twitter.com/TrapDonDro/status/1180955146836152321

Di babak kedua, pertandingan masih dalam tempo tinggi. Jarang terlihat adanya perlambatan tempo macam lagi ada keramaian di jalan.

Sampai akhirnya, Maurizio Sarri memasukkan Rodrigo Bentancur dan Gonzalo Higuain yang berdampak besar pada kemenangan Juve malam ini. Soalnya Bentancur yang memberikan assist kepada gol kemenangan Higuain.

Gol terjadi pada menit ke-80, lewat sebuah skema serangan cukup taktis dan kece, Ronaldo memberikannya kepada Bentancur yang mengopernya lagi kepada Higuain. Boom! Sudut Meazza yang terdiri dari suporter Juventus pun bergemuruh.

Juventus akhirnya menang setelah wasit meniupkan peluit terakhirnya di laga ini yang tak bernada seperti tukang parkir Alfamart.

Antonio Conte yang merupakan mantannya Juventus mengakui kekalahan ini. Bahkan dia mengaku selalu apes saat berhadapan dengan Juve. Ya mau gimana lagi, kalau sudah cinta memang tidak bisa ditinggalkan begitu saja. Atau jangan-jangan, si Conte ini sengaja kalah saking cintanya? Wallahualam.

“Ini pertandingan penting karena kami melawan tim yang sangat kuat. Ketika menghadapi Juventus, saya selalu kalah, bersama Arezzo, Atalanta, dan kini terjadi bersama Inter Milan,” ucap Conte dikutip dari BolaSport.

“Pemain sudah memberikan segalanya, tapi Juventus memang jauh lebih berpengalaman menghadapi situasi seperti ini.”

Sementara itu, Maurizio Sarri mendapatkan acungan jempol baik jempol tangan maupun jempol kaki karena perubahan taktik di babak kedua. Bentancur dan Higuain yang dimasukkan di pertengahan babak kedua memberikan efek yang sangat besar.

Pada saat itu, kami mendominasi permainan dan menurut saya tidak adil untuk tidak menang, jadi kami mencobanya sebentar,” ucap Sarri dikutip dari Kompas.com.

“Namun, saya mendapat sensasi saat menyentuh garis di mana momentum berbalik ke arah lain, jadi saya berubah lagi.”

Selamat buat Juve, sebelum liburan internasional bisa balik lagi ke tahta sesungguhnya. Sedangkan buat Inter, revolusi Seri A belum berakhir. Masih ada kesempatan pada 31 pertandingan sisa. Semangat!

Main photo:

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here