Juventus kembali mempertahankan tren positifnya di fase gugur Liga Champions musim ini. Yang ter-update, tim asuhan Massimilliano Allegri itu sukses mengalahkan Monaco 2-0 di leg pertama semifinal. Luar biadab!

Kebolehan Juve dalam mengolah permainan memang patut diacungi jempol. Meski tertekan oleh tim yang punya rumah, Gianluigi Buffon dan kawan-kawan tetap konsisten mengawal gawang mereka sendiri karena gawang lawan tak perlu mereka jaga.

Monaco sejatinya tim yang selalu mencetak tiga gol dalam setiap laga di fase gugur, namun tren keren itu terhenti oleh Juventus. Tim berkostum putih-hitam kayak zebra cross itu jadi tim keempat yang mampu membuat Monaco gagal mencetak gol di segala kompetisi musim ini.

Ketiga tim ekslusif lainnya itu adalah Bayer Leverkusen, Paris Saint-Germain, dan Nice. Sementara Juve, berhasil mempertahankan tren mereka yang belum kebobolan selama fase gugur. Bahkan jika ditambah fase grup, total mereka tidak kebobolan selama 621 menit.

https://twitter.com/TrollFootball/status/859870373365600260

Beberapa peluang dari Kylian Mbappe dan kawan-kawan seusianya itu tak mampu menjadi gol. Sebagian disapu oleh bek-bek Juve yang badannya gede-gede, sebagian lagi digagalkan kiper yang sudah bangkotan.

Monaco unggul penguasaan bola dengan tipis, 52-48%, tidak sebesar kemenangan Anies di Pilkada kemarin. Namun, serangan mereka selalu tersapu oleh ombak laut selatannya Juve. Giorgio Chiellini jadi pemain paling banyak yang melakukan clearance sampai 15 kali.

Lagi asyik-asyiknya menyerang, Monaco lupa kalau mereka juga punya gawang. Alhasil, cukup serangan satu pukulan ala Chinmi di komik Kungfu Boy, tetapi begitu berarti.

https://twitter.com/TrollFootball/status/859873735435853829

Adalah Gonzalo Higuain yang makin lama makin lebar perutnya padahal lebaran belum tiba. Dia dua kali menghujam gawang Monaco yang dikawal Danijel Subasic.

Gol pertama terbilang indah dan sejuk seperti wajahnya Raisa. Berawal dari kerjasama Claudio Marchisio dengan Paulo Dybala, kemudian dilanjutkan Higuain dengan Dani Alves.

Alves kemudian memberikan umpan cuek cenderung asal-asalan karena tidak melihat Higuain saat mengoper dengan tumitnya. Tanpa ampun, Higuain langsung menendang bola dengan kakinya yang tebal menembus gawang Subasic.

Gol kedua juga lumayan oke tanpa ‘oce’. Lagi-lagi umpan keren Alves mampu dimanfaatkan Higuain yang sudah menunggu datangnya bola. Kemenangan 2-0 pun bikin Juve bersandar dengan nyaman.

Meski begitu, warga Juve tak mau jemawa dan keburu senang. Pasalnya, skor 2-0 memang bikin nyaman tetapi tetap belum aman. Tim asal Prancis itu bisa saja membalikkan skor menjadi 3-0, 4-0, 5-2, 8-4, 10-4, sampai 23-2. Lagi-lagi, jika Tuhan berkehendak.

“Saya ucapkan selamat kepada para pemain. Ini bukan pertandingan mudah karena Monaco sangat kuat dan memiliki teknik bagus. Pekerjaan kami belum usai, masih ada satu laga di Turin yang pastinya Monaco akan bermain lebih lepas,” ucap Allegri di situs UEFA.

“Bunga” untuk Buffon

Pujian tentu tak lepas kepada Buffon yang terbilang gemilang dan cemerlang. Meski sudah dimakan usia, keriput-keriput di wajah serta uban di rambut mulai tampak, Buffon tetap main ganteng maksimal.

Setidaknya ada dua penyelamatan penting di laga ini yang bikin Juve tetap cleansheet. Pertama saat menggagalkan sontekan Mbappe di babak pertama. Kedua saat menepis sundulan Valere Germain di penghujung laga. Kalau saja itu gol mungkin sedikit memudahkan Monaco di leg kedua.

Kalau di Indonesia, mungkin markas Juve sudah ramai dikirimkan bunga ucapan selamat atau rasa simpati. Maklum, kirim-kirim bunga memang belakangan lagi kekinian sekali.

“Buffon banyak melakukan penyelamatan apalagi ketika masih 0-0, dia memang selalu yang terbaik di dunia,” tambah Allegri.

Bek Chiellini turut memuji, “Kami sangat senang meski kami bisa lebih baik lagi di lini belakang. Beberapa kami kecolongan oleh peluang-peluang Monaco, ketika kami lengah, Buffon ternyata mampu menggagalkannya. Dia sangat sempurna.”

Buffon sendiri berusaha merendah. Maklum, sudah sering dia mendapatkan pujian semacam ini. Apalagi usianya sudah 39 tahun, sudah kenyang dengan yang begituan.

Yang bikin respek adalah ketika Buffon bertukar kaus dengan Mbappe. Mantan kenangannya Parma itu memang dikenal ramah dengan semua orang. Semua pemain diajak bersalaman dan dipeluknya.

Ketika bertemu Mbappe yang usianya 20 tahun lebih muda bagai bapak dan anak, dia kembali memperlihatkan keramahannya bertukar kaus dengan Mbappe. Buffon ternyata punya trauma masa ABG yang kini membuatnya ramah ketika diajak bertukar kaus.

“Saya senang bertukar jersey dengan siapapun karena itu tanda penghormatan. Saya ingat ketika masih muda, saya ingin bertukar kaus dengan seseorang tetapi dia menolak. Saya benar-benar kecewa, jadi saya memutuskan ketika saya menjadi pemain hebat saya tak akan seperti itu,” ujarnya.

Lebih lanjut, Buffon menambahkan, “Pada setiap laga saya ingin memperlihatkan bahwa saya layak bermain di level ini meski usia sudah setua ini. Saya bekerja keras tiap hari untuk ini, saya ingin orang-orang sedih ketika saya memutuskan untuk berhenti.”

Main photo credit: UEFA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here