Oleh: Paundra Jhalugilang

Sang maestro, Andrea Pirlo, dikabarkan mendapat tawaran dari Juventus untuk kembali ke J-Stadium. Bukan untuk jadi pemain lagi, apalagi jadi kiper. Melainkan jadi brand ambassador klub berkostum hitam-putih itu yang kayak kostum tahanan.

Pirlo saat ini masih berstatus sebagai pemain New York City di negara yang sepak bolanya tidak bagus-bagus amat, yang belum lama baru terpilih seorang presiden atlet smackdown. Kontrak Pirlo akan habis pada Desember 2017 dan belum ada indikasi kalau dia ingin isi ulang kontraknya di konter-konter terdekat.

Pemain yang rambutnya gitu-gitu saja sejak dulu itu pernah mengutarakan keinginannya untuk jadi pelatih. Namun dia belum memutuskannya dan masih asyik menendang-nendang bola dari tendangan bebas. Apalagi kalau musim hujan, enaknya main sliding-sliding-an di lapangan becek.

Pirlo juga memang belum menjawab pinangan Juve untuk jadi brand ambassador saat pensiun nanti. Tapi pertanyaannya, kenapa harus Juventus yang menawarkan sebuah pekerjaan kepadanya? Ke mana AC Milan yang jauh lebih lama mengasuhnya sejak dia masih lucu-lucunya sampai beranjak dewasa?

Pirlo memang pernah bermain juga di Inter, tim kuat Italia lainnya. Tapi sementara kita tinggalkan klub berlambang ular itu. Pasalnya Pirlo cuma secelup-dua celup saja di Inter karena masih seumuran personel JKT 48 saat itu.

Juve memang memilih Pirlo sebagai brand ambassador atau duta besar, bukan Duta Sheila On 7. Namanya brand ambassador pastinya harus merepresentasikan sebuah merek. Dalam hal ini, citra seorang Pirlo adalah sosok pemain elegan dan jenius. Mungkin Juve yang sedang melakukan rebranding besar-besaran juga ingin terlihat elegan dan jenius.

Juve lah yang ngebet mendapatkan Pirlo kembali. Bukan Milan. Mengapa begitu? Jawabannya hanya Tuhan dan Silvio Berlusconi yang tahu.

Kalau kita merunut kembali sejarah, Pirlo memang besar namanya di San Siro. Selama 10 tahun, dari zaman Gus Dur sampai zaman SBY, dia sudah membela “I Rossoneri” sebanyak 401 pertandingan dan mencetak 41 gol. Dia juga mempersembahkan dua trofi Liga Champions, trofi yang tak dia berikan kepada Juve.

Wajar jika fans berat Milan menyayangkan keputusannya untuk meninggalkan San Siro pada 2011. Saat itu usia Pirlo masih 32 tahun. Masih bisa lah kalau cuma sekadar passing-passing efek jera sampai mencetak gol dari tendangan bebas super.

Buktinya, Pirlo masih jago banget saat main di J-Stadium hingga membuat fans mantan galau berujung menyeka air mata, menyesali kepergian pujaan hati begitu saja dengan gratis, tis.

Bersama Juventus, kontribusi yang disumbangkan Pirlo bukan sekadar sisa-sisa ampas kopi di Juve. Pemain berusia 37 tahun itu menyumbangkan empat gelar Seri A atau dua trofi lebih banyak yang dia berikan kepada Milan. Piala Super Italia juga begitu. Satu trofi lebih banyak kepada Juve dibanding Milan. Sedangkan Coppa Italia masih cukup adil, sama-sama menyumbang satu gelar.

Bedanya itu tadi, Pirlo tak sempat memberikan gelar Liga Champions yang berlanjut pada Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antar-Klub. Dia cuma mengantarkan Juve sampai final sebelum dijadikan kue cucur oleh Barcelona.

Menariknya, berdasarkan Transfermarkt, jumlah gol Pirlo di Juve memang jauh lebih sedikit. Yakni hanya 19 gol dari 164 pertandingan. Tapi kalau dibaca seksama, dia kira-kira mencetak satu gol tiap delapan pertandingan.

Angka itu masih lebih bagus dari penampilannya di Milan. Seperti yang tadi disebutkan, dia mencetak 41 gol dari 401 pertandingan, artinya dia mencetak satu gol tiap sembilan pertandingan.

Menariknya lagi, jumlah assist Pirlo selama 10 musim di Milan dengan empat musim di Juventus, jumlahnya sama. Yakni sama-sama 38 assist. Ini bukti bahwa Pirlo di Juve mungkin sama hebatnya saat dia bermain di Milan.

Makanya, Juventus merasa kontribusi yang Pirlo berikan ke Juve mungkin melebihi kontribusi yang Pirlo berikan di Milan. Itulah kenapa, klub yang sudah kenyang dengan gelar Scudetto itu merasa lebih layak mendapatkan Pirlo, ketimbang Milan.

Bahkan, suporter Juve pun sangat menyayanginya, bagai anak sendiri. Tiap namanya disebut saat pengumuman starting XI, Pirlo selalu dapat applause tambahan. Legend.

Meski cuma jadian empat tahun, romansa itu tak terlupakan buat Juventus. Hubungan mereka begitu berarti sampai-sampai Pirlo yang sudah dimiliki orang lain, rela ingin dikejarnya kembali.

Suka duka dijalani bersama, sampai-sampai merasakan nikmatnya sepiring berdua. Prinsip Juve juga mungkin ada dua, ‘kutunggu jandamu’ atau ‘selama belum ada bendera kuning berkibar, kau masih milik bersama’.

Tapi pertanyaannya belum terjawab. Ke mana Milan saat Juve sebagai klub pesaingnya memburu gelandang yang kalau jatuh saja juga terlihat elegan itu?

Mungkin jawabannya, Milan belum mengarah ke sana. Belum sampai pemikirannya seperti apa yang dipikirkan oleh Juventus saat ini, membangun klub dari pendekatan sebuah brand. Tim asuhan Vincenzo Montella itu masih sibuk merapikan skuat untuk lolos ke kompetisi Eropa musim depan.

Manajemen Milan juga masih sibuk mencari uang jajan tambahan. Kali-kali ada uang tambahan buat jajan bakso dan tahu bulat. Hal itu memang jadi masalah klasik bagi klub yang warna kausnya sama kayak Persipura Jayapura itu.

Berlusconi ke sana kemari berusaha menjual Milan. Hasilnya, investor asal Cina mau membelinya. Mungkin setelah ini, barulah mereka mencoba melakukan apa yang sudah dilakukan Juve lebih dulu. Dan, tak ada yang tahu apa rencana Berlusconi untuk Pirlo.

Siapa tahu saja, dia sudah meneleponnya khas mafia-mafia Italia, meminta Pirlo menjadi pelatih tim utama Milan? Atau bisa juga tak memedulikannya sama sekali, bak debu-debu yang ada di atas pintu kamar mandi. Wallahu a’lam.

Source: Transfermarkt

Main photo credit: Sporting News


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here