Oleh: Paundra Jhalugilang

Juventus datang ke Cardiff pada Sabtu malam dengan motivasi tinggi, meraih gelar Liga Champions untuk pertama kalinya dalam 21 tahun. Plus peluang mencetak treble winners biar Interisti enggak sombong lagi.

Mereka datang dengan bekal pemain yang lumayan berbeda dari dua tahun lalu. Jika dua tahun lalu, banyak pemain yang minim pengalaman main di Liga Champions, beda dengan kali ini.

Dua tahun lalu lawan Barcelona, Juve hanya punya Gianluigi Buffon, Andrea Pirlo, Carlos Tevez, dan Patrice Evra yang pernah main di final Liga Champions. Tiga di antaranya mengangkat piala yang kelihatannya berat padahal enteng. Bisa ditenteng dengan satu tangan saja.

Hasilnya, mereka takluk 1-3 dari Barca yang memang sebagian besar pemainnya sudah berpengalaman di Liga Champions. Siapa yang tak kenal pemain-pemain “editan” macam Lionel Messi, Luis Suarez, Neymar, Andres Iniesta, Dani Alves, sampai Javier Mascherano. Semuanya pemain kelas dunia nan super.

Dua musim berselang, Juve kembali ke final. Kali ini dengan amunisi tambahan yang cukup berpengalaman di final Liga Champions. Mulai dari Dani Alves, Sami Khedira, dan Mario Mandzukic. Jika ditambah Buffon, Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini, dan Andrea Barzagli maka ada tujuh orang yang berpengalaman di laga sebesar itu.

Belum lagi ditambah pemain yang berstatus kelas dunia seperti Gonzalo Higuain. Dia memang belum pernah merasakan final Liga Champions, tapi sudah beberapa kali merasakan final bersama Argentina, meski semuanya berujung kekalahan dan kesedihan.

Juve datang ke Cardiff dengan tingkat percaya diri yang luar biasa. Merasa timnya lebih matang dari dua tahun sebelumnya. Apalagi dengan bekal tanpa terkalahkan dan paling sedikit kebobolan di Liga Champions musim ini.

Jika dilihat dari rata-rata usianya, skuat Juve punya rata-rata 30 tahunan. Jelas menunjukkan kematangan dan kedewasaan sehingga mereka cukup percaya diri bisa melewati final dengan kemenangan. Bukan sekumpulan anak muda yang masih hobi bercanda dengan jokes-jokes receh.

Paling spektakuler saat menjadikan Barcelona sebagai kolak pisang yang enak disantap untuk buka puasa. Seolah setelah mengalahkan Barca, Juve layak jadi juara.

Bonucci dan Chiellini sudah jauh lebih ranum dan merekah. Sama halnya dengan Claudio Marchisio yang pada laga ini tidak diturunkan sebagai starter.

“Saya kira kami punya banyak pemain baru dan penting. Dan kami menuai banyak pengalaman tahun ini. Kami punya banyak pemain yang sudah merasakan final Liga Champions sebelumnya,” ujar Paulo Dybala, sebelum pertandingan.

Rekannya yang tak kalah ganteng, Bonucci, turut menambahkan, “Kami lebih matang, kami sudah berkembang. Pemain-pemain hebat datang, yang memberikan pengalaman bagi tim.”

Bahkan, Buffon sendiri meminta Alves tips-tips menarik yang tidak ada di Google untuk bisa membawa pulang trofi Liga Champions yang tak pernah bisa dia miliki itu. Alves memang sudah tiga kali juara Champions bersama Barca.

Namun, yang terjadi di final Cardiff, Sabtu malam, adalah pembantaian besar-besaran yang dilakukan oleh sang lawan, Real Madrid. Tembok pertahanan Juve yang sekokoh tiang jalan layang non-tol Tanah Abang-Manggarai itu runtuh seruntuh-runtuhnya.

Empat gol bersarang ke gawang Buffon secara tidak sengaja. Tentu, namanya kebobolan sudah pasti tidak sengaja. Kalau sengaja namanya sepak bola gajah.

Babak pertama memang Juve mainnya bagus banget. Sempat tertinggal tapi bisa menyamakan kedudukan lewat gol spektakuler Mario Mandzukic yang langsung disebut-sebut gol terbaik Liga Champions musim ini. Sebuah kombinasi permainan sepak takraw dan sepak bola.

Namun di babak kedua, pemain Juve seolah hilang fokus. Mungkin karena kurang minum Aqua. Madrid juga tiba-tiba mengubah permainan yang langsung memberikan dampak besar bagi pertandingan. Tiga gol begitu saja tercipta, tanpa ada paksaan.

Banyak warga Juventini yang menganalisis tentang formasi Allegri di laga ini. Kenapa begini, kenapa begitu. Obrolan terjadi di linimasa sampai di grup-grup What’s App. Tapi sudah pasti tak mungkin ada di grup What’s App ibu-ibu arisan komplek.

Sebagian menyalahkan Allegri karena memasang tiga bek bukan empat bek, sebagian menyebut kenapa tak memasang Juan Cuadrado sejak awal seperti saat membantai Barca di leg pertama, dan lain sebagainya. Sah-sah saja mereka berpikir demikian, tak ada yang benar atau salah.

Tapi bagi saya, apa yang dilakukan Allegri sudah benar. Mantannya Cagliari itu sudah membawa skuat terbaiknya ke laga final. Pola, pendekatan, serta skuat yang sama saat mengalahkan Monaco di semifinal. Bukan sebuah aksi eksperimental.

Formasi 3-4-1-2 yang diperlihatkan di susunan formasi resmi dari UEFA sejatinya jadi formasi fleksibel yang bisa berubah menjadi 4-2-3-1 di mana Barzagli dijadikan bek kanan. Tak terlalu berpengaruh karena buktinya Juve mampu superior di babak pertama.

Apabila ada yang salah dengan formasinya, pasti Juve dilumat habis sejak pertandingan dimulai pada babak pertama. Madrid akan mudah mengobrak-abrik pertahanan Juve, tidak seperti malam itu hanya satu tembakan ke gawang yang sialnya berbuah gol.

Lalu apa yang salah? Tentu bukan salah bunda mengandung, juga jangan salahkan ayah yang tak pakai sarung.

Jelas, mental, kematangan, dan pengalaman berbicara. Juve merasa sudah lebih matang dari dua tahun lalu, tapi ternyata tak lebih matang dari skuat Madrid. Sejatinya, tim Zinedine Zidane jauh lebih matang dari Juve.

Skuat yang diturunkan Zidane 90% hampir plek-plekan sama dengan final tahun lalu melawan Atletico Madrid. Hanya beda pada Raphael Varane dan Isco saja. Namun, kedua pemain itu hitungannya tetap pernah merasakan atmosfer final Champions meski dari bangku cadangan.

Sedangkan Juve, memang betul kali ini ada tujuh pemain yang punya pengalaman di final. Tapi secara kuantitas, tetap masih kalah dengan 11 orang pemain Madrid yang semuanya sudah lebih dulu main di final tahun lalu.

Mungkin hanya Marco Asensio satu-satunya pemain “Los Blancos” di laga itu yang belum pernah merasakan final karena baru bergabung musim ini.

Usia rata-rata 30 tahunan yang terlihat matang dan berpengalaman ternyata tak membantu banyak. Tetap saja, pengalaman di sini bukan pengalaman di level liga lokal apalagi tarkam. Tapi di level tertinggi seperti Liga Champions atau Piala Dunia.

Ke-11 pemain Madrid sudah jauh lebih kompak ketimbang Juve. Lebih matang dan lebih berpengalaman di final Liga Champions. Terlihat pada babak pertama, mereka tidak panik meski mendapat tekanan dari Juve.

Sedangkan Juve, tampak bernafsu dengan beberapa kali berspekulasi menendang asal-asalan dari luar kotak penalti yang berujung membentur Sergio Ramos dan kawan-kawan.

Miralem Pjanic, Paulo Dybala, dan Alex Sandro merasakan final pertama mereka dan tampak canggung kayak suami-istri pada malam pertama. Cuma Alex Sandro yang lumayan bagus ketika melakukan set up gol Mandzukic dari sisi kiri.

Dybala beberapa kali memang menyulitkan para pemain Madrid, tapi aksi individunya terbilang gegabah karena jadi mudah dibaca pergerakannya oleh Casemiro dan kawan-kawan.

Pjanic yang superior di semifinal, juga tampak tidak tenang dalam mengalirkan bola. Beberapa kali umpannya ngawur dan jatuh di kaki pemain lawan. Belakangan diketahui kalau pemain kampungan Bosnia itu mengalami cedera lutut dan langsung diganti Marchisio.

Madrid pun membuktikan kematangannya di babak kedua. Cukup dengan satu instruksi Zidane pada jeda istirahat, mereka memulai babak kedua dengan penuh integritas, jujur, dan adil, serta dicintai masyarakat.

Permainan praktis jadi milik Luka Modric dan kawan-kawan. Isco diminta bermain agak melebar untuk memancing Barzagli dan Bonucci lebih renggang. Juve pun tak siap.

Permainan mereka seketika ngawur sejadi-jadinya. Umpan-umpan banyak terpotong, penguasaan bola gampang direbut, bahkan cenderung panik dengan melakukan pelanggaran tak perlu.

Sedangkan Madrid, tampak lebih tenang menghadapi para pemain Juve yang serampangan. Di sini barulah terlihat nyata perbedaan kelas antar kedua tim yang berlaga. Bagaimana pendekatan permainan kedua tim tampak jelas berbeda.

Sampai pada akhirnya tibalah gol Casemiro yang sedikit berbau hoki itu. Dengan membentur Khedira, bola berbelok arah menyulitkan Buffon dalam menepis bola yang berbentuk bundar itu.

Juve kebobolan, semua pemain tampak melongo dengan tatapan kosong. Begitu juga dengan Buffon, tampak tak percaya dengan gol tersebut. Biasanya, kiper 39 tahun itu langsung memberikan semangat saat timnya kebobolan, tapi tidak kali ini.

Tatapan Buffon tampak kosong, tidak mencerminkan seorang pemain kelas dunia. Memberikan semangat seolah hanya formalitas, tapi dalam hatinya tetap kosong tak percaya. Meski setelah laga usai, Buffon tetap menunjukkan ketangguhannya, mencoba tak bersedih hati.

Mental Juve langsung down, tak mampu bangkit lagi. Inilah yang kemudian dimanfaatkan Cristiano Ronaldo membobol gawang Juve lagi dengan mudahnya, lepas dari pengawalan bek-bek Juventus.

“Kami kebobolan lewat gol pantulan dan setelah itu para pemain menyerah secara psikologis. Kami seharusnya bertahan sekuat tenaga, itulah mengapa saya menganggap laga ini layak jadi pelajaran untuk lebih dewasa,” ucap Allegri.

https://twitter.com/SquawkaNews/status/871106857296953348

Memang betul, jika mereka punya mental, maka akan masih tetap fokus, dan tak bakal ada Ronaldo segitu bebasnya di depan gawang Buffon. Bonucci dan Chiellini pasti cepat menutupnya, bahkan Buffon sendiri bisa meneriakkan pemain belakangnya untuk mewaspadai pergerakan Ronaldo.

Tim bermental juara tak akan hilang fokus ataupun panik saat timnya tertinggal. Hal ini tak terlihat di tim berkostum putih-hitam kayak seragam napi di komik-komik itu.

“Real Madrid memainkan paruh kedua yang sangat bagus dan memiliki para pemain hebat yang bisa mengubah pertandingan di setiap saat, gol kedua itu memusnahkan angin untuk layar kami,” tambahnya.

Pernyataan Allegri membuktikan bahwa Juve belum cukup matang dibandingkan para pemain Madrid. Juve merasa lebih matang, tapi nyatanya lawan jauh lebih matang. Jika diibaratkan buah, kalau Juve baru siap dipetik, tapi Madrid lebih siap buat dimakan.

Madrid punya pemain-pemain yang jauh lebih super, mampu membuat perbedaan. Juve boleh saja punya kekompakan dan semangat, tapi mental dan pengalaman lah yang dibutuhkan di laga final seperti ini.

Liga Champions memang diputar terus tiap tahun. Tinggal tunggu waktunya saja buat Juve untuk kembali ke final dan mematangkan diri sampai benar-benar bisa menjadi juara yang sesungguhnya.

Tim dengan kematangan lah yang bakal menjadi juara sebuah kompetisi. Tengok saja bagaimana Italia, Spanyol, dan Jerman memenangkan Piala Dunia dalam tiga edisi terakhirnya. Semua pemainnya sedang dalam masa lucu-lucunya. Ranum sejadi-jadinya.

Main photo: Squawka


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here