Juventus akhirnya menggenapi gelar Coppa Italia keempat kalinya berturut-turut usai mengalahkan Milan dengan skor menggemaskan. Mentang-mentang empat kali, maka skornya dibuat empat juga. Ya, Juve membantai Milan dengan skor 4-0.

Skor itu terlihat kayak lagi lawan Perugia atau Salernitana. Padahal bukan, lawannya adalah Milan yang jadi raksasa di Italia salah satu rival terberat Juve. Meski belakangan lagi enggak jadi raksasa-raksasa amat.

Skor sebenarnya tak mencerminkan pertandingan secara keseluruhan. Di babak pertama, pertandingan berjalan seimbang, sengit, adil, dan tak ada yang mau saling mengalah. Maunya menang semua.

Baik Juve dan Milan sama-sama melakukan jual beli serangan. Sayangnya, harga tak ada yang pas sehingga tak ada gol tercipta.

Rossoneri” tercatat dua kali membahayakan gawang Gianluigi Buffon yang malam itu pakai kaos kaki panjang kayak anak cewek mau sekolah. Pertama lewat tendangan Patrick Cutrone yang masih menyasar pada tangannya Buffon.

Kedua lewat tendangannya Suso yang ditendang rada ke samping. Namun, masih bisa dijangkau tangannya Buffon lagi. Perlu dicatat, Buffon bekerja sendirian di bawah mistar, tanpa bantuan tangan orang lain.

Sedangkan Juve masih tampak kurang maksimal. Serangannya tak seberbahaya Milan, cenderung lembek kayak perut hamil-hamilannya Lucinta Luna. Gianluigi Donnarumma tampak mudah menangkap sejumlah bola dari para pemain Juve.

Pada jeda babak kedua, pelatih Massimilliano Allegri sepertinya mengucapkan kata-kata motivasi kepada para pemainnya. Entah kata-kata apa, yang jelas sudah tak lagi musimnya Mario Teguh.

Soalnya, saat babak kedua dimulai para pemain “Bianconeri” ini seperti kesetanan. Entah kesurupan setan apa. Asal jangan hantu muka rata karena tak ada seram-seramnya sama sekali, mukanya polos doang kayak kertas HVS.

Juve tercatat dua kali bikin Donnarumma jatuh-bangun menghalau bola. Pertama lewat tendangan satu kaki Paulo Dybala. Kedua lewat Dybala juga lewat tendangan slice seperti pisau buat potong puding. Beruntung Donnarumma punya tangan panjang sehingga bisa ditepis keluar lapangan meski arahnya sudah ke pojok.

Di sinilah tendangan sudut lahir dan di sinilah awal mula petaka buat Milan bisa sampai bobol empat gol hanya dalam 20 menit. Entahlah kenapa bisa cepat dan gampang begitu. Kalau warganet bilang namanya konspirasi Wahyudi.

Juve melahirkan gol pertamanya lewat tendangan sudut tersebut yang dilakukan Miralem Pjanic. Tendangan sudut janur kuningnya disambut sundulan otak kanan Medhi Benatia lalu masuk ke gawang yang cuma dilihati saja oleh Donnarumma. Dipikirnya Donna itu aktor film Gerhana zaman dulu yang cuma dipelototi saja bisa mental.

Tertinggal 0-1 bikin mental Milan kayak kerupuk bubur, gampang banget hancur. Mereka langsung down dan selebihnya kendali permainan dipegang Juve. Selang lima menitan mereka sudah bikin gol lagi.

Kali ini lewat Douglas Costa yang memanfaatkan operan standar tak bagus-bagus amat dari Juan Cuadrado. Kemudian dilepaskannya pakai tendangan kaki kiri yang tak mendarat mulus di tangan Donnarumma.

Donna harusnya bisa menepis bola dengan baik kalau saja dia fokus dan minum Aqua. Tapi mungkin mentalnya sudah kadung drop sehingga tepisannya tak sempurna sehingga bola masih meluncur masuk ke gawang.

Selang tiga menitan, Benatia bikin gol lagi. Jarang-jarang ada bek tengah bisa bikin dua gol dalam delapan menit. Lagi-lagi lewat tendangan sudut Pjanic yang kemudian disambut Mario Mandzukic.

Bola tandukan Mandzukic sebenarnya pelan, tak kencang-kencang amat, dan seharusnya bisa ditangkap mudah oleh Donna. Namun karena grogi, bola tangkapannya terlepas dan langsung disambar Benatia. Skor 3-0 begitu cepat bikin Milanisti cuma bertopang dagu sambil menutup mulutnya tak percaya.

ertinggal segitu banyak bikin Gennaro Gattuso memasukkan Nikola Kalinic untuk menambah daya gedor. Benar saja, Kalinic langsung mencetak gol 14 menit setelah dirinya masuk ke lapangan. Sayangnya ke gawang sendiri, bukan ke gawang Juve.

Entah lupa atau gimana, atau mungkin belum nyetel dengan gawangnya, tendangan sudut Pjanic malah disambarnya dengan sundulan tipis otak belakang. Membuat bola berubah arah padahal di belakangnya ada Donna mau meninju bola. Sayang, takdir tak dapat dihindarkan.

Keputusan Gattuso memasukkan Kalinic begitu tepat karena langsung memberikan kontribusi besar. Meski kontribusinya kepada tim lawan. Skor 4-0 terus bertahan sampai sekarang. Juve memastikan gelar ke-13 buat Coppa Italia.

Rekor tersebut tak berhenti sampai di situ. Allegri mungkin bakal jadi pelatih pertama dan satu-satunya yang menjuarai Scudetto dan Coppa empat kali berturut-turut.

“Kami sukses meraih trofi ini. Para pemain saya bermain luar biasa dan layak menang. Bukannya meremehkan Milan, karena mereka memang bermain bagus pada babak pertama,” ujar Allegri dikutip dari Bola.net.

Lebih lanjut, Allegri menambahkan, “Saya sudah mengatakan kepada para pemain untuk menikmati malam ini. Mereka sudah memberikan kebahagiaan kepada klub dan fans. Wajar kalau mereka melakukan selebrasi.”

Sementara Gattuso mengakui keunggulan lawannya. Cuma dia menyesalkan harusnya Milan tak sampai kalah setelak ini. Hanya gara-gara beberapa kesalahan, mereka mesti menanggung akibatnya. Pupus sudah gelar yang sudah lama tak mereka raih dalam beberapa tahun terakhir.

“Sepakbola memang seperti itu. Hasilnya tidak mencerminkan performa tim, tetapi Anda membayar untuk kesalahan-kesalahan yang Anda lakukan. Selama 56 menit, kami melakukan apa yang kami lakukan dan Juve tidak pernah menyulitkan kami selain sundulan Mandzukic,” kata Gattuso, dikutip lagi dari Bola.net.

Selamat ya, Juventus! Coba lagi tahun depan, Milan…

https://twitter.com/IFTVofficial/status/994319300998717440

Main photo: @khaledalnouss1

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here