Chelsea makin berat dalam meraih tiket setengah gratisan ke Liga Champions usai ditahan imbang Huddersfield Town 1-1. “The Blues” kini cuma berharap Liverpool kalah di laga terakhirnya meski harapan itu tak sebesar mulutnya Farhat Abbas.

Menjamu Huddersfield di Stamford Bridge, Chelsea harusnya bisa memanfaatkan poin penting. Soalnya Huddersfield ini bisa dikatakan hidup segan mati tak mau. Degradasi enggak, tapi bersaing di papan tengah juga enggak. Mereka kini cuma berada di peringkat 16.

Sejak awal pasukan Antonio Conte memegang kendali permainan. Mereka sudah tancap gas demi mendapatkan tiket tersebut. Sayangnya meski sudah ngegas, mereka lupa masukkan gigi tiga. Jadi mandek saja, stagnan sampai akhir hayat.

Beberapa peluang tak dimaksimalkan. Salah satunya dari Antonio Ruediger yang sudah menerima sundulan otak kiri Cesar Azpilicueta, tapi malah dibuang-buang keluar gawang. Mungkin dia sukanya memang dikeluarkan di luar.

Alvaro Morata juga ketularan Ruediger. Sudah enak tinggal berhadapan dengan kiper, tapi malah digiring keluar. Untung saja tak sampai digiring keluar stadion. Bola tendangannya akhirnya malah mengarah tidak jelas seperti kelaminnya Lucinta Luna.

Yang ada malah Chelsea tanpa Olivia tertinggal lebih dulu lewat Laurent Depoitre usai menerima umpan antar kota antar provinsi dari Aaron Mooy. Kiper Willy Caballero sebenarnya sudah berusaha memotong, tapi datangnya telat seperti polisi India.

Dia malah bertabrakan dengan Depoitre sampai terpelanting, tersungkur, terjerembab, walau tak sampai tertanam di tanah. Depoitre dengan enak menceploskan bola ke gawang Chelsea yang sudah kosong tak terkawal, terjamin, dan lepas dari pengawasan bank.

Untung saja Chelsea cepat bereaksi. Sekitar 12 menit dari kejadian tak mengenakan tersebut, Marcos Alonso membalasnya lewat sebuah tendangan wajah.

Sebuah umpan mendatar dari Azpilicueta lalu dihalau keluar oleh Mathias Joergensen. Maksud hati membuangnya ke depan, bola malah kena gebok muka Alonso. Hikmahnya, bola justru masuk ke gawang Huddersfield.

Proses gol mirip seperti James Milner yang bunuh diri saat lawan Roma. Bikin gol pakai wajah polosnya dengan telak. Tapi bedanya, Alonso bikin gol ke gawang lawan jadi dia bisa berbangga hati walau meski menahan sakit di hidung dan pipi.

Lucunya, Alonso setelah itu langsung selebrasi senang dan bangga. Padahal golnya juga enggak sengaja. Dasar enggak tahu malu. Atau memang sengaja buat menutupi malu karena kena gebok?

Sayang setelah itu Chelsea gagal bikin gol lagi. Tidak ada gol-gol wajah lagi dari Alonso, padahal kalau ada lagi kan lumayan. Sayang jurus itu cuma keluar sekali.

Mereka kehilangan poin penting padahal lagi butuh banget. Memang kadang suka gitu, kalau lagi dicari suka enggak ketemu. Kalau lagi enggak dicari tahu-tahu ada.

Contohnya tukang toge goreng yang belakangan mulai jarang kelihatan. Giliran lagi sakau berat, enggak ketemu. Giliran lagi kenyang ogah jajan, tiba-tiba nongol.

“Sangat sulit menjelaskan hasil imbang ini, ketika Anda memiliki 82 persen ball possesion dan menciptakan banyak peluang. Lawan hanya mengandalkan serangan balik dan merubah ekspektasi kita. Kita harus menerima tetap berada di posisi kelima saat ini,” kata Conte, bete, dikutip Viva. 

Kondisi ini membuat Chelsea harus menantikan keajaiban dan mukjizat. Mereka wajib menang di laga pamungkas musim ini di markas Newcastle United, seraya berharap Liverpool kalah di kandangnya dari Brighton & Hove Albion akhir pekan ini.

Sebenarnya kalau mau kongkalikong dengan Liverpool bisa saja. Liverpool disuruh mengalah, lalu Chelsea menang. Dengan demikian Liverpool berada di posisi kelima, lalu lolos ke Liga Champions musim depan melalui tiket juara Champions musim ini. Itu juga kalau mau.

https://twitter.com/AkyianuGyamfi/status/994332156062289922

Main photo: @ChelseaFcMI 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here