Jerman mengawali start bagus di babak kualifikasi Piala Dunia 2022. Menghadapi Iceland atau “Pulau Es” atau Islandia, Jerman sukses membekukan tim tamu. Ya karena memang wilayahnya banyak esnya, memang sudah seharusnya beku.

Namun di pertandingan ini, bekunya benar-benar dibuat tak berkutik. Jerman sukses menghajarnya 3-0. Jika hasilnya terus begini, tentu ini bakal jadi kado manis bagi pelatih Joachim Loew yang bakal mundur setelah Piala Eropa 2021 nanti.

Masa kepelatihan Loew memang tampak sudah habis siklusnya. Setelah mengantarkan ke final Piala Eropa 2008, semifinal Piala Dunia 2010, semifinal Piala Eropa 2012, dan menjuarai Piala Dunia 2014, mereka lalu mengalami performa.

Di Piala Dunia 2018, Jerman cuma kayak kuah soto kemarin saja. Enggak enak dilihat, enggak enak disantap. Bahkan belum lama ini dibantai Spanyol 0-6 di Nations League.

Namun di laga melawan Islandia ini, Jerman bisa kembali normal. Skor 3-0 sudah cukup lumayan di Jerman era baru ini.

Belum ada 10 menit, Jerman sudah unggul 2-0. Leon Goretzka dan Kai Havertz. Baru berjalan tiga menit, Serge Gnabry enak banget jadi tembok untuk kasih umpan mantul ke Goretzka.

Padahal, dia sudah sendirian di depan gawang namun posisinya memang agak susah karena membelakangi gawang. Kecuali dia mau bergaya Mario Balotelli yang sok-sokan pakai backheel tapi hasilnya entah ke mana tahu.

Sementara Havertz juga menembak dari posisi yang enak. Sendirian tanpa terkawal usai menerima operan pendek dari Leroy Sane yang bukan singkatan dari Sadio Mane.

Di babak kedua, gelandang produktif yang hobi banget bikin gol di klubnya, membuktikan bahwa dia bukan pemain kaleng-kaleng. Ilkay Gundogan namanya.

Gundogan yang mencetak banyak di Manchester City, menunjukkannya di level timnas bahwa performanya memang patut diacungi jempol. Kalau perlu tambah jempol kaki.

Setelah menggocek satu pemain Islandia, dia lalu menyelesaikannya dengan tembakan dari luar kotak penalti mendatar, tapi terarah. Percuma kalau tak terarah. Pasti tak bakalan gol. Skor 3-0 bertahan sampai akhir, cukup buat Jerman buat nyengir.

“Itu bukan penampilan kami yang paling luar biasa, tetapi sangat penting untuk membuat awal yang positif di tahun baru dan itulah yang telah kami lakukan malam ini,” ujar Loew dikutip Okezone.

“Kami tahu mereka akan duduk dalam dan kami tahu kami harus memaksa mereka untuk bergerak menciptakan ruang,” lanjutnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here