Oleh: Paundra Jhalugilang

Pem-bully-an massal terjadi pada beberapa hari terakhir. Seolah tak ada habisnya para netizen budiman menghabisi nyawa Jerman yang sudah habis di Piala Dunia 2018. Semua orang bilang kalau ini adalah kutukan juara bertahan. Benarkah?

Sebagian besar orang memang langsung men-cocoklogi-kan kutukan juara bertahan Piala Dunia dari Eropa dalam beberapa edisi terakhir. Dimulai dari Prancis juara 1998, gagal lolos grup di 2002. Lalu Italia juara 2006, gagal lolos grup di 2010. Kemudian Spanyol juara 2010, gagal lolos grup di 2014.

Korban berikutnya adalah Jerman. Sepintas “Der Panzer” memiliki kualitas yang sama hebatnya dengan skuat 2014. Bahkan skuat mudanya baru saja menjuarai Piala Konfederasi 2017. Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?

Sepintas Jerman bakal mengalahkan kutukan tersebut. Nyatanya tidak, tim asuhan pelatih hobi galer alias garuk sambil meler itu kalah dua kali tanpa mampu bikin gol. Bahkan satu-satunya kemenangan mereka atas Swedia juga ditentukan pada menit terakhir.

Mengapa begitu? Memang ada beberapa alasan mengapa para juara ini lembek banget di Piala Dunia berikutnya macam mainan Squishy yang enak banget di-bejek-bejek.

Pertama, Prancis, Italia, Spanyol, dan Jerman masih mengandalkan pemain-pemain yang sama, alias masih mengandalkan “the winning team” mereka di Piala Dunia sebelumnya. Padahal itu hanyalah ilusi. Sebagian dari mereka sudah menua, empat tahun bukan waktu yang sebentar.

Contoh saat Prancis juara 1998, Youri Djorkaeff, Emmanuel Petit, Lilian Thuram, Marcel Desailly, Frank Leboeuf, Chistophe Dugarry, dan Bixente Lizarazu masih segar bugar, sedang dalam masa puncaknya. Tapi pada 2002, usia mereka sudah berkepala tiga semua. Masih bagus bukan berkepala naga.

Italia pada 2010 masih mengandalkan Gianluigi Buffon, Fabio Cannavaro, Mauro Camoranesi, Gennaro Gattuso, dan Andrea Pirlo. Semuanya pun sudah berkepala tiga. Itu juga Buffon dan Pirlo main sekali doang karena cedera. Bahkan pelatihnya juga Marcelo Lippi lagi.

Spanyol juga sama. Masih mengandalkan Andres Iniesta, Xavi, Fernando Torres, David Villa, Xabi Alonso, dan Iker Casillas sebagai starter pada 2014. Pelatihnya juga masih sama, Vicente Del Bosque.

Sebetulnya mereka yang disebutkan itu belum tua-tua amat. Masih dalam batas kewajaran. Namun semangat dan motivasi mereka bisa jadi sudah mengendur. Permainan juga sudah bisa dibaca lawan. Apalagi masih memakai pelatih yang sama.

Salah satu alasan masih dipakainya pemain-pemain agak tua seperti disebutkan tadi adalah pengalaman. Pengalaman mereka juga masih diperlukan buat itu semua. Cukup masuk akal.

Sayangnya, alih-alih pengalaman yang diperlukan, para pemain juara itu malah seperti kehilangan motivasi buat juara lagi. Mungkin merasa sudah pernah menjuarainya, jadi enggak ngotot-ngotot amat.

Mungkin itulah yang jadi alasan kedua. Mental juara mereka kelewat juara. Jadi bukannya berhasrat ingin juara, tapi mereka datang dengan rada sok-sokan karena statusnya sebagai juara. Dari sok jago, sok berpengalaman, sampai sok ganteng.

Mempertahankan memang lebih sulit daripada merebut. Sementara lawannya datang dengan semangat double seperti Sarimi isi dua. Belum lagi beban dan tekanan dari warga sekitar dengan status “Juara Dunia” yang terlihat ‘Wah’.

https://twitter.com/dephototv/status/1012764743457787904

Alasan ketiga adalah ketidak-beruntungan alias apes. Mungkin inilah yang disebut sebagai kutukan. Pada dua laga pertama Prancis di 2002, mereka mengalami nasib sangat apes. Jauh lebih apes dari nasib Bowo Alpenliebe yang kena bully di media sosial padahal enggak salah-salah amat.

Pada laga pertama lawan Senegal, tim Afrika itu dibombardir habis-habisan. Bahkan Prancis dua kali sampai kena tiang. Memang salah sendiri, bukannya dimasukkan ke gawang malah dikenakan ke tiang.

Pada laga kedua lawan Denmark juga sama. Prancis memiliki dua peluang emas banget yang hanya dikenai ke tiang gawang dengan telak. Akhirnya mereka harus kembali kalah 0-2. Prancis apes gara-gara tiang.

Italia mengalami hal yang tak kalah apes. Datang di grup relatif mudah, hanya Paraguay, Selandia Baru, dan Slovakia ternyata tak membuat mereka melenggang ke 16 besar.

Gli Azzurri” harus kehilangan dua pemain kunci, Buffon dan Pirlo, karena cedera. Buffon cuma main 45 menit saja di laga pertama. Sedangkan Pirlo baru bisa main sekitar 35 menit terakhir di laga terakhir.

Selain itu masa peralihan dari pemain tua ke pemain muda belum berjalan mulus. Hanya ada dua pemain di skuat 2006 yang masih di bawah 30 tahun, yakni Alberto Gilardino dan Daniele De Rossi. Di sisi lain usia Cannavaro (36), Camoranesi (33), Zambrotta (33), Gennaro Gattuso (32) sudah kelewat tuwir. Sedangkan sisanya adalah wajah-wajah baru yang belum berpengalaman.

Menariknya, di laga terakhir lawan Slovakia, Italia juga apes. Sempat tertinggal 0-2, mereka mampu menyamakan kedudukan 2-2 menjelang akhir laga. Sayang gol Fabio Quagliarella dinyatakan offside.

Padahal setelah melihat tayangan ulang, posisi Quagliarella masih sejajar dengan kaki bek Slovakia, Jan Durica. Saat itu mereka cuma butuh hasil seri buat melaju ke babak berikutnya. Akhirnya mereka malah kalah 2-3.

Spanyol juga tak kalah apes di 2014. Keapesan pertama adalah tergabung dalam grup maut bersama Belanda dan Chile. Bahkan langsung berhadapan dengan mereka di dua laga pertama. Perlu diingat, Belanda adalah lawan mereka di final 2010.

Pada laga pertama dilumat habis oleh Belanda 1-5 yang tak pernah dilupakan oleh generasi mecin ‘zaman now’. Di laga kedua mereka menghadapi Chile yang memiliki cikal-bakal skuat juara CONMEBOL dua kali pada 2015 dan 2016. Akhirnya kembali takluk 0-2.

Andai kata Spanyol menghadapi Australia di laga pertama, lalu Chile di laga kedua. Mungkin situasinya bakal beda. Pembantaian 1-5 dari Belanda di laga pertama benar-benar menghabisi mental mereka yang ternyata cuma seperti Castengel lebaran, mudah hancur.

https://twitter.com/FFizzer18/status/1012082320453627907

Semua situasi yang dialami Prancis, Italia, dan Spanyol sebenarnya mirip-mirip. Benang merahnya adalah sial. Prancis sial karena tiang gawang yang cenderung hebat. Italia sial karena tak diperkuat dua bintang yang lagi peakpeak-nya, plus peralihan skuat yang belum siap sehingga tak banyak pilihan bagi pelatih Lippi. Lalu Spanyol yang secara komposisi pemain masih bagus, tapi harus sial tergabung dengan grup berat dengan jadwal yang tak bersahabat pula.

Alasan tersebut tampak bisa diterima. Alasan bagaimana mereka sial cukup jelas terlihat secara alamiah. Dan kesialan-kesialan itu tak bisa dijelaskan dari mana datangnya. Inilah yang bisa disebut sebagai kutukan.

Kutukan atau “Curse” menurut kamus Oxford adalah “a solemn utterance intended to invoke a supernatural power to inflict harm or punishment on someone or something“. Kalau di-copas di Google Translate mungkin hasilnya rada ngaco sedikit.

Tapi artinya kira-kira adalah “sebuah ucapan serius untuk mencelakakan atau menghukum seseorang atau sesuatu dengan kekuatan supernatural”. Kekuatan supernatural di sini kira-kira adalah kekuatan yang mengerikan di luar kemampuan manusia.

Mungkin saja ada kekuatan yang tak bisa dijelaskan mengapa Prancis berkali-kali menendang mengenai tiang gawang. Di satu sisi memang berarti mereka kurang latihan dalam menendang. Tapi di satu sisi juga sial dan tak bisa dijelaskan mengapa bola kok bisa mengarah ke tiang terus-terusan.

Mungkin saja ada kekuatan yang di luar kekuasaan manusia saat Buffon dan Pirlo mengalami cedera sehingga memengaruhi performa Italia. Atau mungkin saja ada kekuatan di luar kemampuan manusia saat Spanyol mendapat undian grup yang begitu berat. Bisa saja semua itu disebut kutukan.

Namun, kasus Jerman pada 2018 ini begitu berbeda dari situasi yang dialami juara-juara bertahan dari Eropa sebelumnya.

Kutukan Buat Jerman?

Pertama, Jerman memang datang ke Rusia yang masih bermaterikan hampir sama dari 2014. Bedanya, pemain-pemain andalan mereka di 2014 macam Mesut Oezil, Thomas Mueller, Mats Hummels, Jonas Hector, Thomas Mueller, Jerome Boateng, dan Toni Kroos di tahun ini belum berkepala tiga.

Semua masih berusia 20 tahunan senior alias 20 tahun tingkat akhir (27-28-29 tahun). Di mana itu adalah usia sedang dalam top performa bagi karier pesepak bola. Paling cuma Manuel Neuer dan Sami Khedira saja yang sudah berusia 32 dan 31 tahun. Itu pun usia 32 tahun bagi seorang kiper tetap dianggap masih dalam top performa.

Lalu peralihan skuat Jerman itu sendiri masih cukup bagus, tak seperti Italia yang begitu timpang. Tercatat ada 12 pemain di skuat Italia 2010 yang memiliki caps di bawah 20 kali, delapan di antaranya tak sampai 10 caps.

Sedangkan Jerman 2018 hanya ada tujuh pemain yang jumlah caps-nya di bawah 20. Bahkan cuma dua pemain yang caps-nya kurang dari 10 kali. Skuat mereka juga sudah berpengalaman di Piala Konfederasi.

Squad Italia
Skuat Italia di Piala Dunia 2010
Skuat Jerman
Skuat Jerman di Piala Dunia 2018

“Kita boleh-boleh saja tersingkir lebih awal bersama sebuah tim yang buruk, tetapi bukan bersama dengan tim seperti ini. DFB harus segera mengevaluasi!” ujar Michael Ballack, sambil marah-marah di Twitter.

Mereka juga tak sial seperti Spanyol yang bergabung dengan grup neraka. Grup Jerman memang rada keras, tapi di atas kertas seharusnya Meksiko, Swedia, dan Korea Selatan mampu mereka kalahkan.

Meksiko saja di Piala Konfederasi 2017 bisa mereka bantai 4-1. Total jumlah pertemuan mereka sebelum Piala Dunia 2018 adalah 11 kali, Jerman cuma kalah sekali. Lalu Swedia juga relatif mudah.

Jerman tak pernah kalah dari Swedia dalam delapan pertemuan selama 20 tahun. Lawan terakhir adalah Korea Selatan yang sudah tak perlu dibahas lagi, harusnya bisa dikalahkan dengan agak mudah.

Situasi Jerman sendiri tak seperti Prancis dan Spanyol yang langsung kalah dalam dua laga awal. “Der Panzer” memang kalah dari Meksiko di laga pembuka, tapi menang dramatis di laga kedua lawan Swedia. Harusnya secara mental tidak jatuh-jatuh amat.

Jerman juga tak sial seperti Prancis yang berulang kali kena tiang gawang. Timnya Joachim Loew yang disingkat J-Lo itu memang menguasai laga dan secara statistik. Tapi jarang menciptakan peluang berbahaya apalagi sampai kena tiang.

Prancis tercatat sampai lima kali menendang kena tiang dalam tiga pertandingan. Sedangkan Jerman cuma sekali saja. Jerman sebagian besar menendang entah ke mana. Ada beberapa yang ditepis kiper, tapi sepertinya tak terhitung sebagai kesialan, melainkan memang kiper lawan yang lebih jago.

 

Kalau digali lebih dalam lagi, sepertinya ini bukan kutukan. Tak ada kekuatan supernatural yang menghalang-halangi Jerman buat tersingkir. Soalnya memang mereka sendiri lah yang jadi penyebab utamanya, bukan kutukan. Kecuali ya memang takdir Tuhan dan sepertinya takdir Tuhan bukanlah kutukan.

Dari tiga pertandingan, Jerman tak punya passion buat menang. Mereka menguasai laga, tapi cuma kebanyakan goreng mentega. Jerman tampak seperti kebingungan, penghabisannya balik lagi ke belakang.

Kesalahan demi kesalahan juga mereka lakukan, bahkan berbuah gol. Mulai dari kesalahan direbut bola di lini tengah saat lawan Meksiko, aksi salah oper seperti yang dilakukan Toni Kroos saat kebobolan lawan Swedia, serta aksi salah oper juga dari Joshua Kimmich saat bobol di gol pertama dan blunder kocak Neuer di gol kedua.

Permainan Jerman begitu lambat. Saat tertinggal satu gol dari Meksiko, mereka masih main santai. Mungkin ingin sok tenang demi menunjukkan mental juara bertahan. Nyatanya malah menunduk saat keluar lapangan.

Tak ada kecerdasan yang diperlihatkan Oezil dan kawan-kawan saat mereka butuh gol. Tak ada cara lain yang mereka ciptakan. Semua berjalan monoton, mencoba merangsek dari samping yang jarang melepas crossing.

Jerman yang ini bukanlah Jerman yang dulu. Jerman yang dulu memang cukup membosankan, tak ada bagus-bagusnya, cenderung pragmatis. Dan mereka tahu dengan kekuatan postur tubuh yang mereka punya. Tak jarang bola-bola panjang dan bola atas dilakukan untuk memenangkan duel udara.

Itulah mengapa Jerman dijuluki “Tim Panser” karena permainannya yang lambat. Juga lambat panasnya, tak secepat panasnya balsem Balpirik.

Jerman yang sekarang sudah jauh lebih modern. Lebih agresif, lebih cepat, lebih dominan dalam penguasaan bola, dan lebih bermain cantik. Namun di Piala Dunia 2018 ini tak terlihat itu semua.

Mereka seperti kehilangan jati diri. Main cepat  enggak, main cantik enggak, kreatif enggak, main pragmatis juga enggak, malah bawaannya mau main ke belakang terus. Ketika mentok di depan kotak penalti lawan, bola malah dibalikkan ke belakang. Ketika ada momen buat menyerang balik dengan cepat, tapi malah ritmenya dilambati.

Saat butuh gol lawan Meksiko dan Korea Selatan, Jerman bisa main pragmatis dengan memainkan bola-bola atas langsung ke depan memanfaatkan postur tubuh mereka yang tinggi-tinggi macam galah rambutan. Tapi itu tak mereka lakukan.

Permainan mereka cenderung lamban, bahkan bisa jadi lebih lamban dari keong sawah. Tak agresif, tak eksplosif, tak greget, tak ada usaha yang lebih keras untuk mencetak gol.

Jerman sempat mengubah permainannya saat lawan Swedia. Dalam 15 menit pertama mereka tampil agresif, enggak kayak lawan Meksiko. Makanya bisa menang. Tapi itu juga di tengah-tengah laga, mereka kembali bermain lamban. Jerman memang akhirnya menang, tapi itu juga dari sebuah situasi tendangan bebas.

Tapi saat lawan Korsel, permainan mereka kembali seperti semula saat lawan Meksiko. Ada yang bilang dimainkannya kembali Oezil dan Khedira yang memperlambat suasana. Alhasil selama 65 menit Jerman tak membuahkan peluang berbahaya.

Tim yang memakai kostum hijau macam pakan hewan kurban pada laga itu baru ngegas menjelang akhir-akhir laga. Itu juga tidak sampai habis-habisan banget. Kaki-kaki pemainnya masih terlihat lemas, sehingga bikin fans-nya geregetan.

Hal itu diakui sendiri para pemainnya. Bahkan juga para legend-nya. Kalau Jerman memang main jelek, tak ada usaha yang lebih giat dalam membuat gol. Tak ada semangat Jerman sebagai bangsa yang memiliki karakter kuat.

“Kami memang tidak layak. Kami tidak bermain seperti Jerman pada biasanya. Ketika Anda menang atas Swedia di menit akhir dan kalah dari dua tim tanpa membuat peluang mencetak gol sama sekali, bahkan tanpa menekan lawan, wajar kalau kami tersingkir. Bagaimana mungkin kami bisa lolos kalau seperti itu?” kata Neuer dikutip situs resmi DFB.

Jadi sudah jelaslah bahwa khusus Jerman ini bukanlah kutukan. Melainkan memang Jermannya yang bermain jelek kayak keset Welcome lama enggak diganti.

Pemain Jerman sendiri yang usahanya kurang, sehingga jadi penyebab ketidak-lolosan mereka. Bukan karena apes kena tiang, apes pemain cedera dan cenderung tua, apalagi apes dapat undian grup neraka yang semuanya di luar batas kekuatan manusia yang tak bisa dijelaskan secara akal sehat.

Main photo: DFB


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here