Oleh: Paundra Jhalugilang

Pergelaran multievent internasional Asian Games 2018 telah berakhir. Menyisakan rindu yang teramat sangat bikin baper. Bagaimana tidak, Asian Games beserta maskot lucu-lucunya itu pergi meninggalkan kita saat lagi sayang-sayangnya.

Semua orang Indonesia larut dalam euforia. Semua ingin menjadi saksi sejarah dalam kegiatan yang entah bakal terjadi lagi kapan. Bisa 10, 20, 30 tahun lagi, atau 50 tahun lagi seperti lagunya Warna.

Riak-riak kecil pastinya ada dalam kegiatan sebesar ini. Mulai dari pesimisme warga terhadap penyelenggaraan ini, amburadulnya tiket, sampai urusan merchandise. Omongan-omongan nyinyir sudah tak terhindarkan. Tapi secara keseluruhan, Asian Games 2018 bisa dibilang sukses. Sukses membuat kita semua takjub dan kagum.

Seperti dikutip pidato Jusuf Kalla yang sampai batuk-batuk segala di acara Closing Ceremony, Indonesia menuai sukses berdasarkan tiga hal. Pertama, infrastruktur yang selesai tepat waktu, bagus, rapi, dan kelas dunia.

Kedua, penyelenggaraan yang bisa dibilang lancar-lancar saja, minim hambatan, bahkan minim berita-berita negatif di media massa. Semua memuji penyelenggaraan ini.

Ketiga, dari segi prestasi yang ternyata tak disangka-sangka, para atlet kita begitu luar biasa. Raihan 31 emas adalah yang terbaik bagi Indonesia, yang terbanyak di Asia Tenggara. Totalnya sampai 98 medali yang sampai bikin pusing Kementerian Keuangan dalam mengucurkan bonusnya.

Padahal, rata-rata Indonesia meraih medali emas di Asian Games paling cuma dapat tiga atau empat medali saja. Ternyata malah dikasih berkali-kali lipat. Alhamdulillah, rezeki anak sholeh.

Dari penyelenggaraan ini pun kita bisa belajar, sekadar buat persiapan jika Indonesia menjadi tuan rumah acara olahraga yang lebih besar macam Olimpiade atau Piala Dunia.

https://twitter.com/motulz/status/1036273484974841856

1. Tonton dari Awal, Jangan Tunggu Ramainya

Pesan tiket pertandingan dari jauh-jauh hari, jangan tunggu seru atau enggaknya, jangan tunggu sukses atau enggaknya, jangan tunggu Indonesia mainnya bagus apa enggak. Ikhlaskan lah kalau memang kita niat mendukung Indonesia dan turut mensukseskan acaranya.

Ini sudah sering terjadi seperti saat Piala Asia 2007, Piala AFF, dan SEA Games. Pada Piala Asia 2007 silam, laga pertama melawan Bahrain masih banyak bangku kosongnya. Begitu melihat Indonesia meraih kemenangan 2-1 atas Bahrain, baru lah orang ngeh dan sadar akan ramainya event.

Laga kedua lawan Arab Saudi, tiket masih relatif mudah didapat. Stadion mulai terisi penuh, tapi tidak separah saat laga ketiga lawan Korea Selatan. Di situ, warga Indonesia baru mulai tumbuh animonya. Mencari tiket lawan Korsel sama susahnya lulus ujian PNS Kemenkeu.

Begitu juga di Piala AFF dan SEA Games. Entah sudah berapa kali timnas Indonesia melalui babak penyisihan grup dengan bangku-bangku yang masih kosong di GBK. Giliran sudah sampai semifinal dan final, mendadak GBK penuh, mau duduk susah. Mau masuk juga antrinya na’udzubillah macam antri ATM habis gajian.

Jangan biasakan, “Gua nontonnya pas final aja lah.” Komentar seperti itu ada di benak seluruh warga Indonesia yang mau datang ke GBK.

Animo Asian Games 2018 juga baru mulai terasa ketika melihat acara Opening Ceremony yang begitu menggelegar, dikiranya Indonesia tidak akan sehebat itu bikin acara Opening Ceremony. Padahal tadinya, Asian Games cuma seperti kerak bumbu siomay di piring saja.

Tiket Opening sendiri sudah dijual dari jauh-jauh hari. Bahkan sampai ada diskonan segala macam supaya orang mau beli. Maklum, bisa dibilang tiketnya rada mahal dan kurang merakyat, padahal sepanjang sejarah Asian Games, justru itu yang termurah.

Tapi saat itu, orang sibuk nyinyir karena tiketnya yang kemahalan. Padahal, tiket masih bisa didapatkan dengan mudah di Kiostix. Giliran mulai mendekati acara, baru lah panik mencari tiket tersebut. Baru lah sadar kalau ini event empat tahunan sekali yang bakal jadi momen bersejarah sepanjang hidup kita.

Beberapa cabang olahraga seperti sepak bola, voli, dan basket sudah tanding duluan sebelum Opening. Namun sebagian orang masih belum ngeh. Malah ada yang pesimistis.

Makanya, tiket-tiket cabor tersebut masih bisa didapati dengan mudah. Tiket laga pertama sepak bola Indonesia vs Taipei sudah bisa dipesan di Kiostix 4-5 hari sebelumnya. Saat masa-masa Kiostix belum hancur lebur sistemnya.

Tiket voli juga masih bisa didapatkan secara on the spot beberapa hari setelah acara pembukaan. Bahkan, saya sendiri masih bisa dapat tiketnya hanya 10 menit sebelum pertandingan voli putri antara Indonesia versus Hong Kong.

Ketika itu, belum banyak orang yang berpikir bakal nonton voli. Sekalinya ada, malah meremehkan karena voli putri sebelumnya kalah dari Jepang.

Zona-zona festival kala itu juga masih tampak sepi pada hari-hari pertama Asian Games. Masih bisa duduk manis menikmati sore sambil menyeruput Kopi Kulo di Zona Kaka dan Atung, atau makan kebab Palestina di Zona Bhin-Bhin.

Euforia Asian Games baru mulai terasa saat Indonesia masuk final beregu badminton lawan China yang bertepatan pada hari Idul Adha. Itulah puncak dari segalanya. Dari situ mulai chaos, heboh pada cari tiket badminton.

Semua tampak berpikir mainstream, padahal masih banyak cabor lain yang bisa ditonton macam polo air, hoki, karate, wushu, anggar, renang, dsb. Masih idealis inginnya nonton sepak bola atau badminton yang memang olahraga rakyat nan seru bingits.

Dan betul saja, dua-tiga hari setelah final badminton, mencari tiket cabor semakin sulit. Tiket polo air saja sudah tidak dapat. Apalagi cabor-cabor favorit macam voli, basket, dan badminton. Bahkan, pada hari Sabtu berikutnya, tiket atletik dan squash sampai kehabisan.

2. Pelajari dan Pahami Jadwal Pertandingan

Rajin-rajinlah buka web resmi penyelenggaraan Asian Games. Di-combo juga dengan web-web berita mainstream dan Wikipedia. Jangan buka Bolatory, soalnya di sini enggak bahas jadwal Asian Games. Jadwal sepak bola saja tidak sama sekali, betul-betul payah.

Mengulik jadwal pertandingan olahraga tak semudah copas tugas kuliah dari Google. Butuh kemampuan untuk melihat jenis-jenis babaknya, babak penyisihan atau sudah langsung sistem gugur.

Buat cabor-cabor seperti sepak bola, basket, dan voli sudah enak, tertulis dengan nyata Indonesia akan berhadapan dengan siapa, mainnya di mana, dan kapan. Itu juga perlu cek ke Wikipedia atau Google untuk melihat klasemen penyisihan dsb.

Saat voli putri Indonesia dikalahkan Thailand di laga terakhir, banyak yang belum tahu kalau Indonesia sudah tersingkir dan tak akan main lagi. Padahal masih penyisihan grup dan Indonesia sudah dipastikan lolos ke perempat final karena dari lima tim dalam satu grup, ada empat tim yang diambil ke perempat final.

Alhasil, tiket perempat final seharusnya sudah bisa dipesan dari sebelum match lawan Thailand. Apalagi, pertandingan voli berlaku tiket terusan, artinya bisa ditonton dari pagi sampai malam asalkan masih dalam hari dan venue yang sama.

Yang rada ribet tentu cabor yang banyak nomornya macam badminton (single putra/putri, ganda/ganda campuran), tenis, sampai atletik dan renang yang jauh lebih banyak lagi nomor yang dipertandingkan, pastinya lebih susah. Makanya harus dipelajari lebih dalam supaya saat nonton langsung, tidak kecele dan kecewa ternyata Indonesianya tidak main pada hari itu.

3. Beli Suvenir dari Awal

Terakhir, bicara mengenai suvenir yang sangat epic itu. Asal tahu saja, boneka maskot legend tiga ekor itu sudah dijual di mana-mana sebelum pembukaan. Dijual di mal-mal sampai Alfamart. Bahkan sudah dijual sejak awal tahun.

Namun, warga Indonesia saat itu belum aware dengan keberadaan Bhin-Bhin, Atung, dan Kaka walau promosinya sudah cukup banyak. Setelah Asian Games dimulai, barulah orang-orang mencarinya sampai ada yang rela mengantri di Super Store dari jam 4 pagi. Bahkan sampai kaca pintunya petjah! Gila banget.

Sama halnya dalam berburu tiket pertandingan, suvenir juga perlu diburu sejak awal. Bahkan, sebelum Opening Ceremony dimulai. Mumpung masih bisa dibeli, kenapa enggak dari awal belinya.

Jangan tunggu ramai, apalagi beranggapan “Ah, merchandise mah jarang ada yang beli, nanti juga ada, enggak bakal kehabisan”, itu salah besar. Nyatanya, orang Indonesia sangat konsumtif dan tak mau ketinggalan momen bersejarah mengumpulkan benda-benda Asian Games untuk disimpan dan dijadikan kenang-kenangan.

Jangan Remehkan Bangsa Sendiri

Intinya dari ketiga poin tersebut, jangan pernah meragukan kualitas bangsa sendiri. Dua bulan lalu, Asian Games tak terasa animonya sama sekali. Bahkan masih banyak yang menganggap event ini adalah SEA Games yang cukup sering diadakan di Indonesia.

Entah apakah penyelenggara yang masih kurang cukup mempromosikan acara ini atau kitanya saja yang terlampau cuek sehingga tidak notice dengan acara ini. Feeling saya, memang kitanya saja yang kelewat cuek.

Sebagian orang menyangsikan acara ini. “Ah paling juga enggak sukses itu acara”, “Ah paling juga kalah itu Indonesia, olahraga kita mana ada prestasinya”, “Orang Indonesia mana bisa ngadain acara kayak gitu, bikin malu nanti”, “INASGOC payah, sampai saat ini belum terdengar hype-nya”, “Infrastrukturnya saja belum jadi, payah banget”, begitulah komentar-komentar nyinyir warga kita sebelum Asian Games dimulai.

Ya boleh lah kita sedikit menyalahkan penyelenggara buat sekadar evaluasi, seperti amburadulnya sistem tiket dan suvenir. Namun bukan berarti menghalangi niat kita untuk menonton atau mensukseskan acara ini.

Nyatanya, para atlet kita berjaya. Idola baru macam Zohri, Lilipaly, Manganang, Jojo, Ginting, Minions, Fajar, Rian, Rungkat, Aries, Ijul, sampai Hanifan dengan pelukan Teletubbies-nya, ternyata kita punya atlet-atlet hebat yang layak didukung.

Sebagian memang ada yang tak dapat medali, tetapi punya potensi besar. Bisa meraih 31 emas dengan total 98 medali adalah pencapaian besar. Jauh melebihi target dan bikin Kemenpora jadi kelimpungan (Rasakan itu…).

Jangan tunggu acaranya seru atau enggak, jangan tunggu Indonesia mainnya bagus atau enggak, lawannya siapa, dan sebagainya. Kalau memang niat menonton Indonesia, selama masih ada tiketnya mending sikat dari awal. Jelas kita berharap Indonesia bisa menang, tapi jangan lupakan tujuan awal adalah mendukung tim dan atlet Indonesia terlebih dahulu.

Kita bukan Jerman, Prancis, USA, atau China yang sudah langganan menang, bisa cari lawan sepadan supaya seru nontonnya. Kita ini Indonesia yang juara AFF saja belum pernah, di badminton juga tertinggal jauh dari China bahkan sudah dikejar Jepang dan Taipei.

Tapi ya itu tadi, dukung saja dulu. Optimistis, menang kalah belakangan. Ramaikan sejak awal, dukung dan sukseskan!

Warga kita juga sepertinya baru menyadari animo dan euforianya seminggu terakhir walau Asian Games sudah dimulai dua minggu sebelumnya. Mungkin baru sadar kalau ini adalah event bersejarah yang tak akan terulang dalam waktu dekat, atau mungkin baru sadar setelah melihat kanan-kiri posting di IG, merasa acara ini sangatlah seru dan patut didatangi.

Bisa terbukti pada hari-hari terakhir terutama tanggal 1-2 September di mana GBK penuh dengan lautan manusia dan jangan coba-coba untuk menghitungnya. Rasanya sudah seperti pasar Tanah Abang menjelang lebaran.

Namun antusiasme itu juga perlu diapresiasi. Walau agak telat, lebih baik daripada tidak ada dukungan sama sekali. Ternyata warga Indonesia masih tetap peduli dan begitu antusias, rela antri panjang demi tiket festival seharga satu mangkuk Mie Ayam tersebut.

Mulai dari anak-anak sampai emak-emak dan nenek-nenek, semua datang ke GBK. Sebuah euforia yang patut dirayakan bersama-sama. Buat yang belum sempat datang, ya sudah mau bagaimana lagi. Berarti belum rezekinya 🙂

Siapa kita? Indonesia!

Main photo: Online24


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here