Sepak bola Italia menjadi yang terdepan dalam mengimplementasikan VAR di ranah Eropa. Musim lalu mereka sudah pakai teknologi kamera tersebut di Seri A. Musim ini, mereka ketagihan dan mau dipakai lagi. Sepertinya seterusnya bakal demikian. Tapi yang menarik, mereka mau meng-upgrade supaya lebih greget.

VAR sebenarnya berjalan dengan sukses di Italia. Namun, tetap saja ada suara-suara sumbang dari warga alias suporter yang masih belum puas dengan tayangan tersebut. Katanya tayangan VAR cuma bisa dinikmati oleh wasit saja, padahal suporter juga pengen. 

Ya namanya juga warga, pasti ada saja suara-suara sumbang yang kurang puas terhadap suatu kebijakan. Ujung-ujungnya pemerintah disalahkan.

Penonton rupanya kecewa karena saat terjadi VAR, ada waktu cukup lama yang membuat penonton bertanya-tanya. Sementara wasit belum juga ambil keputusan.

Memang rada susah kalau penonton ikut melihatnya di pinggir lapangan, bakalan penuh banget. Bisa-bisa terjadi dorong-dorongan dan pada saling tuduh, “Yang belakang jangan dorong-dorong dong!”.

Namun, penonton juga agak pintar, mereka juga ogah kalau disuruh nonton bareng wasit di pinggir lapangan. Bikin sesak saja. Mereka ingin agar tayangan VAR diputar di TV stadion sehingga mereka bisa melihatnya secara jelas, apakah benar pelanggaran, offside, penalti, dan sebagainya.

Hal itu sudah dilakukan di Piala Dunia 2018 kemarin saat semua mata di seluruh dunia dapat melihatnya secara transparan. Makanya, suporter Seri A juga mau begitu.

Kegelisahan penonton akhirnya diterima dan diakomodasi oleh badan liga. Mereka menerima keresahan tersebut dan siap menayangkan VAR di TV stadion. Kalau perlu ditambah suara-suara sound effect biar lebih greget meski hal itu urung dilakukan.

“Jelang bergulirnya musim baru, hari ini Serie A mengumumkan aturan di stadion yang berhubungan dengan sesi latihan, panjangnya rumput, teknologi garis gawang, dan lainnya,” demikian pernyataan resmi Lega Calcio seperti dikutip Football Italia yang dikutip lagi dari Detik.

“Ini juga termasuk ketentuan baru VAR, yang ada pembaruan dari sistem lama, yaitu video bisa ditayangkan di layar-layar TV stadion. Itu termasuk semua gambar yang disiarkan oleh televisi.”

Meski begitu, video VAR tersebut baru bisa ditampilkan setelah wasit memutuskan harus menggunakan VAR dalam mengambil keputusan serta hanya diputar ketika laga sedang berhenti. Jadi jika ada protes dari para pemain, VAR belum bisa ditayangkan sampai wasit memutuskan pakai VAR. Kasihan nanti wasitnya bisa-bisa makin diserang kalau tiba-tiba muncul tayangan VAR.

Penonton pun tak bisa sembarangan minta tayangan VAR apalagi kalau sedang tak ada kejadian sama sekali. Penonton juga tak bisa menyaksikan tayangan VAR setelah pertandingan selesai, apalagi kalau stadion sudah sepi. Lebih baik menyaksikan ulangannya di Youtube saja.

“Video pengulangan itu hanya bisa ditampilkan setelah wasit memastikan bahwa harus menggunakan VAR dalam mengambil keputusan, pun hanya diputar ketika laga sedang berhenti,” sambung pernyataan tersebut.

Dengan adanya video VAR di layar TV stadion, para pemain sebaiknya harus ekstra waspada agar jangan melakukan hal yang enggak-enggak. Seperti pelanggaran keras, pelanggaran iseng, sampai berbuat cabul.

Pasalnya, seluruh penonton bakal melihat kelakuannya di lapangan dan malunya bisa sampai ke ubun-ubun kalau sudah tertangkap VAR. Contohnya saja pelatih Joachim Loew yang pernah ketangkap garuk-garuk ‘sesuatu’ lalu diciumnya dengan nikmat. Andai tayangan itu diputar di TV stadion, pasti dia bakal menerima gemuruh tepuk tangan dari satu stadion.

Main photo: Stereo Seri A

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here