Jordan Henderson mengungkapkan bahwa dirinya telah banyak berubah sejak menjadi kapten di Liverpool. Sejak melakukan sumpah jabatan kapten dua tahun lalu, mantan pemain Sunderland itu merasa dirinya lebih dewasa.

Itu berarti, dia sudah tak lagi jadi ‘terong-terongan’ yang suka naik motor bonceng tiga bersama cabe-cabean malam-malam. Henderson memang sudah menyadari bahwa sekarang usianya menginjak 26 tahun, usia ideal untuk proses pendewasaan serta melangkah ke jenjang pernikahan.

“Saya terpaksa menjadi dewasa dalam waktu yang singkat. Jujur saja, saya berusaha keras menjadi pemimpin di lapangan, bertindak bagaimana layaknya seorang kapten. Berteriak di lapangan tapi juga harus bicara dari hati ke hati pada rekan-rekan saat di luar lapangan,” ujarnya seperti dikutip Liverpool Echo. 

Henderson memang terbilang masih kinyis-kinyis saat meneruskan kepemimpinan Steven Gerrard. Kariernya dimulai saat terpilih sebagai wakil kapten menggantikan Daniel Agger tanpa melewati proses Pilkada.

Dia kemudian mulai di-trial menjadi kapten “The Reds” pertama kalinya ketika menghadapi Stoke City di Liga Primer. Saat itu Gerrard lagi asyik nonton pertandingan dari bangku cadangan.

Henderson akhirnya terpilih jadi kapten saat Gerrard resmi cabut dari Anfield. Mirip-mirip dengan karier Ahok di DKI, saat Jokowi cabut dari Balai Kota, dia otomatis pimpin gubernur DKI, suka atau tidak suka.

Padahal, pada masa itu masih banyak seniornya yang layak dijadikan kapten. Sebut saja Glen Johnson, Kolo Toure, Martin Skrtel, dan Adam Lallana.

Namun, mungkin karena Brendan Rodgers dan Juergen Klopp melihat ada sosok kepemimpinan di diri Henderson, tak ada salahnya mereka menunjuk pemain bernomor 14 itu menjadi seorang pemimpin muda.

Dia mungkin bisa mencontoh gaya kepemimpinan para pemimpin muda lainnya seperti Zumi Zola atau Ridwan Kamil. Wajah ganteng dan aktif di media sosial, menjadi salah satu kuncinya.

Main photo credit: Empire of the Kop

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here