Mario Mandzukic yang namanya belakangan mulai jarang terdengar akhirnya resmi capcus alias cabut alias pindah dari Juventus. Pemain Kroasia itu bakal hijrah ke negara muslim, Qatar, bergabung ke klub Al Duhail.

Sejak kedatangan Maurizio Sarri, Mandzukic memang sudah bagaikan kerak-kerak WC. Terabaikan begitu saja, mau dibersihkan tapi susah.

Sarri memang jahat banget. Mandzukic belum pernah sekalipun main di laga resmi musim ini. Pria berusia 43 tahun dikurang 10 itu awalnya enggan pindah dari Juve meski sudah diwanti-wanti Sarri bahwa dia tak masuk dalam rencana taktisnya.

Namun Mandzukic yang kadung betah dan nyaman bak di pundak mantan, memilih bertahan. Kali saja Sarri berubah pikiran. Ternyata itu hanya harapan.

Mandzukic fix jadi cadangan mati alias camat yang abadi dan permanen. Sudah camat, abadi, permanen pula. Alhasil, Mandzukic kini nyerah dan memilih pindah.

Meski dapat tawaran dari Manchester United, tapi entah kenapa dia memilih ke Al Duhail yang jauh dari negaranya. Mungkin daripada pindah ke klub medioker, mending pindah ke klub papan atas meski di negara Qatar sekalipun. Kalau perlu dia pindah ke Simba FC, yang lagi memimpin klasemen Liga Tanzania daripada ke MU.

Dia lalu mengucapkan salam perpisahan lewat akun Instagram, tanpa menyebut nama Sarri sekalipun. Sudah kadung bete.

“Tidak mungkin merangkum empat setengah tahun dalam perpisahan yang sederhana, tetapi saya harap kalian melihat semangat yang saya perlihatkan untuk klub dan tim ini dalam setiap pertandingan yang saya mainkan buat Juventus,” tulis Mandzukic di akun Instragramnya yang dikutip dari Bola.com.

“Terima kasih sebesar-sebesarnya untuk Mister Massimiliano Allegri dan Giuseppe Marotta karena telah menginginkan saya di Turin. Sebuah kehormatan bisa bermain untuk Juventus dan kejadian dalam beberapa bulan terakhir tidak akan mengubah respek dan cinta yang saya rasakan buat klub ini.”

“Terima kasih kepada semua rekan setim yang saya miliki selama ini. Saya sangat menikmati semua pertandingan yang kita jalani dan kita memenangi sebagian besar pertandingan itu.”

“Saya tidak akan pernah melupakan semua kemenangan dan trofi hasil kualitas, kerja keras, dan semangat tim.”

“Akhirnya, terima kasih yang terbesar saya ucapkan untuk fans yang luar biasa, yang menjadi alasan sebenarnya klub ini menjadi begitu besar dan sukses. Saya sangat menghargai dukungan yang kalian berikan sejak hari pertama.”

Semoga sukses, Ukic!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here