Republik Irlandia dengan sangat menyesal harus gagal melaju ke Piala Dunia 2018. Yang bikin nyesek, tim berkostum hijau kayak botol air tukang ketoprak itu dibantai 1-5 oleh Denmark di negaranya sendiri, di depan publiknya sendiri.

Fans Irlandia sebenarnya sudah mekar hidungnya tanda geer saat Shane Duffy mencetak gol pada menit keenam. Namun, keunggulan 1-0 ternyata cuma bertahan 20 menitan saja. Benar-benar PHP ini Irlandia.

Kira-kira satu jam berikutnya malah diberondong lima gol tanpa balas oleh Denmark melalui Andreas Christensen, Christian Eriksen (3 gol), dan Nicklas Bendtner lord-nya Denmark lewat titik penalti.

Entah apa yang ada di benak pemain Irlandia. Sudah main di depan suporter sendiri yang asyik-asyik dan bersahabat itu, tapi malah melempem mainnya kayak kerupuk kelamaan di kaleng warteg.

Pelatih Martin O’Neill langsung bertanggung jawab atas kekalahan besar ini. Dia menolak kalau Irlandia dibilang bermain jelek, melainkan Denmarknya yang terlampau hebat. Apalagi diperkuat beberapa pemain kelas dunia seperti Eriksen, Eriksen, dan Eriksen. Ya memang cuma dia saja sebenarnya sih.

“Saya sangat kecewa. Kami akhirnya kalah meski memulai pertandingan cukup baik. Kami dikalahkan oleh tim yang secara teknis masih lebih baik dari kami dan mereka punya pemain kelas dunia di timnya. Kekecewaan sangat besar hari ini, tapi saya harus mengapresiasi pemain yang sudah melangkah sejauh ini,” ucap O’Neill dikutip Guardian.

 

Kegagalan Irlandia membuat masyarakat dunia tak akan menyaksikan dukungan dari suporter Irlandia yang terkenal asyik dan selon. Di ajang Piala Eropa 2016 lalu, banyak video soal sikap pendukung “The Green Army” yang sangat bersahabat.

Mereka seolah tak mengenal lelah dan tak pernah terlihat sedih. Mereka selalu happy, selalu bergembira bersama-sama, bersama-sama mereka bergembira. Happy-happy together-togethertogether-together they are happy-happy.

Bahkan, mereka kerap merayakannya bersama suporter lawan. Tak peduli menang atau kalah, pokoknya yang penting happy. Tak cuma itu saja, fans Irlandia juga sangat baik hati dengan semua orang di manapun mereka berada.

Mulai dari membantu membetulkan mobil mogok sampai membersihkan sampah-sampahnya sendiri di stadion dan tempat nobar. Mungkin kalau ada nenek hendak menyeberang atau si adik kesulitan mengerjakan PR, bakal dibantu juga.

Belum lagi rasa respeknya yang besar terhadap masyarakat lokal dan aparat setempat. Jarang rasanya mereka bernyanyi bernada menghina. Yang ada malah dipuji dalam chant-chant mereka. Makanya, pada Piala Eropa lalu suporter Irlandia mendapat apresiasi sebagai suporter terbaik.

https://twitter.com/Sporf/status/929477306040635392

 

Tak berhenti sampai di situ, pendukung Irlandia juga masih bersikap sama ketika babak kualifikasi dan play-off. Saat di leg pertama di Kopenhagen, mereka bernyanyi dan berdansa bersama fans Denmark.

Orang-orang Irlandia itu bahkan berbuat usil dengan ramai-ramai nongkrong di depan toko pakaian dalam. Siapapun yang keluar dari toko tersebut langsung disambut meriah. Memang tidak ada kerjaan, namanya juga iseng. Kalau iseng sudah pasti tak ada kerjaan. Kecuali kerjaannya memang ingin iseng.

Pada bulan Juni nanti, dipastikan tak ada fans-fans gokil macam pendukung Irlandia. Sudah tak ada Italia, Belanda, Chile, dan Amerika Serikat, kini tak ada aksi-aksi konyol dari fans Irlandia yang asyik-asyik itu.

Fans negara lain juga banyak yang tak kalah seru dari mereka. Tapi sepertinya, tak ada yang kayak mereka. Selalu happy di manapun berada.

Main photo: @FIFAWorldCup

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here