Mau sukses memang mahal. Inilah Manchester City. Sekitar 20 tahun lalu masih main di Divisi Satu, lalu beberapa tahun berikutnya jadi penghuni tetap papan tengah Liga Primer. Namun sekarang, masuk final Liga Champions.

Tentu saja bukan cuma doa dan usaha yang bisa membuat mereka jadi begitu. Jelas ada investasi besar yang namanya duit. Mulai 2008, City berinvestasi jor-joran untuk mendatangkan pemain dan pelatih hebat. Namun cara instan tetap tidak memberikan hasil di kompetisi Eropa.

Setelah bertahun-tahun, bahkan Pep Guardiola butuh lima tahun, akhirnya bisa bawa City ke final tertinggi ini di level klub Eropa. Uang memang bukan segalanya, tapi segalanya butuh uang.

Duel pemodal gede tersaji di semifinal Liga Champions mempertemukan City dengan PSG. Di leg pertama, PSG menyerah 1-2 di kandang sendiri. Otomatis memberikan jalan lebih mudah bagi City.

Di leg kedua, City sukses mengalahkan PSG dengan skor 2-0. Berdasarkan aturannya, tim yang mencetak gol lebih banyak dari lawan dalam dua leg, berhak lolos ke babak berikutnya. Apalagi bisa sampai menang dua kali.

Bermain di lapangan yang banyak bintik putihnya, City langsung membuka keunggulan saat pertandingan belum lama dimulai. Ya belum sampai sejam lah, alias 11 menitan.

Tendangan Kevin De Bruyne mampu diblok pertahanan PSG, tapi bola meluncur enak ke samping dan disambar langsung oleh Riyad Mahrez. Meski lapangan banyak salju dan licin, beruntung Mahrez tidak kepeleset. Kalau kepeleset pasti diketawain satu tim.

PSG mencoba membalas ketinggalan dua golnya dengan banyak usaha. Namun pertahanan City yang digalang Ruben Dias dkk begitu kokoh. Tebal dan keras banget macam kue tambang.

Dias ini jadi sorotan utama karena sering banget melakukan blocking tendangan-tendangan para pemain PSG. Dias kayaknya cocok kalau jadi Polisi Anti Huru-hara, dijamin tidak ditembus demonstran.

Di babak kedua, City menambah keunggulan lagi-lagi lewat Mahrez. Dia tinggal cebok saja umpan silang mendatar Phil Foden dengan enak banget.

Hanya berselang tiga menit, PSG akhirnya mencetak skor. Namun bukan gol yang dicetak, melainkan skor kartu merah. Sebuah tindakan tidak penting dari Angel Di Maria menendang atau menginjak kaki Fernandinho.

Biasanya kalau menginjak kaki begitu kalau teman kita keceplosan ngomong. Langsung disenggol kaki atau diinjak. Lha ini entah kenapa Di Maria melakukan itu.

Kalah jumlah gol, kalah jumlah pemain di sisa 20 menitan. Jelas serba kekurangan buat PSG. Peluit akhir dibunyikan, City akhirnya bisa pertama kalinya ke final UCL sepanjang sejarah. Untuk pertama kalinya, dunia bahkan semesta akan menyaksikan City di final UCL.

“Ini untuk kami semua dan klub. Saya sangat bangga dan pikiran pertama saya tertuju pada para pemain yang tidak bermain hari ini,” kata Guardiola dikutip dari BBC, dicopas dari Kompas.

“Mereka semua pantas untuk bermain, semua orang telah memberikan kontribusi dan sekarang ini adalah waktu untuk menikmatinya,” ucapnya.

“Kami harus memenangi liga dan kami memiliki dua atau tiga minggu untuk mempersiapkan final,” tutur Guardiola.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here