Inter Milan masih belum bisa menang meski sudah menjalankan dua laga di Seri A. Mereka tampak kesulitan mencari kemenangan, macam mencari boneka maskot Asian Games di pasaran.

Padahal, caranya dapat kemenangan cukup mudah. Hanya mencetak gol lebih banyak dari lawannya saja. Sangat begitu sederhana, tak perlu undang-undang bung Jebret buat bikin heboh orang sekampung.

Inter memang hanya meraih satu poin saja hasil dari satu kali kalah dari Sassuolo dan seri dengan Torino. Mereka jauh tertinggal lima poin dari Juventus dan Napoli. Kalau dalam perlombaan GP, hitungannya sudah kalah start.

Namun, perjalanan masih panjang meski tak sepanjang penantian timnas Indonesia menjuarai Piala AFF. Kuncinya tinggal meraih kemenangan di sisa 36 laga terakhir, kalau bisa.

Seorang pengamat Seri A, Bruno Longhi, ternyata berpendapat kalau ketidakberhasilan Inter menang disebabkan pelatih Luciano Spalletti terlalu memaksakan diri memainkan bek anyar, Sime Vrsaljko.

Masalahnya, Vrsaljko ini dipaksa jadi pemain sayap kanan di skema 3-4-3. Padahal, posisi asli dia adalah seorang full back kanan, bukan tipikal bek sayap yang rajin menyerang atau rajin membantu nenek menyeberang.

Akibatnya, serangan Inter jadi mandek di sektor sayap. Padahal, skema 3-4-3 sangat mengandalkan kekuatan di sisi sayap kanan dan kiri. Pemain harus punya stamina cukup buat naik-turun menyerang dan bertahan.

Sepertinya, Vrsaljko selaku anak baru di sekolahan Inter itu masih belum dapat ospek cukup dari senior-seniornya. Masih perlu ditatar lagi, kalau perlu disabet pakai penggaris besi punya ibu guru cantik.

“Jika Anda bermain dengan tiga pemain bertahan, Anda harus menyerang balik secara penuh. Tentunya, kemarin Inter kalah karena kesalahan kiper Samir Handanovic dan kontribusi yang minim dari Sime Vrsaljko,” kata Longhi, dikutip Liputan6. 

Kalau Vrsaljko susah dijadikan bek kanan, mending dia disuruh jadi penyerang lubang saja. Entah lubang WC, lubang got, atau lubang pusar mas Jojo yang hobi banget buka baju.

Seandainya mau dipaksakan, skema tiga bek yang digunakan Inter, kata Longhi, masih bisa dicoba jika peran gelandang dimaksimalkan. Selama ini, Longhi menilai Inter belum memiliki gelandang tengah yang memberikan jaminan perlindungan terhadap tiga bek itu. Sudah seperti asuransi jiwa saja.

“Pengaturan taktik ini sebetulnya masih sangat tergantung pada debut Radja Nainggolan. Tetapi semua teka-teki tentu berada di tangan Spalletti,” lanjut Longhi.

Bagaimana Spalletti? Mau coba memaksimalkan Vrsaljko jadi gelandang tengah? Asalkan jangan gelandangan di jembatan penyebrangan saja.

Main photo: @fcinter

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here