Menjalani laga kedua kualifikasi Piala Dunia 2022, Indonesia membuat catatan 100 persen. Sayang catatan 100 persen itu adalah kekalahan. Melawan Thailand di Stadion GBK, timnas “Garuda” kembali kalah cemen.

Kalau kemarin kalah suporter berulah, untungnya kali ini tidak. Tapi tentu saja harus ada yang disalahkan. Kalah lagi, harus ada yang disalahkan lagi.

Kalau kemarin sasarannya suporter Malaysia, kali ini jatahnya Andritany dan Simon McMenemy.

Andritany dicemooh karena melakukan kesalahan yang berbuntut penalti. Apalagi sebelumnya lawan Malaysia juga bikin kesalahan kocak berimbas pada gol ketiga. Antisipasi bola crossing pakai kaki yang sungguh mantap sekali.

Sementara Simon sendiri dianggap tidak mampu membawa timnas kita menunjukan performa gemilang. Dia tampak misqueen ide, permainan tak berkembang padahal tinggal dikasih tepung beras Rosebrand saja. Tidak hanya di stadion, bahkan teriakan “Simon out” sampai menggema di media sosial.

Habis mau bagaimana lagi, menyalahkan suporter Thailand tidak mungkin. Beda bahasa soalnya. Kalau seandainya kita ternyata diejek dalam bahasa Thailand pun tidak mengerti. Paling-paling hanya bisa membalas “sawadikap wik wik wik”.

Sulit juga memang kalau jadi timnas sebab suporter Indonesia ini maunya menang terus. Tinggi sekali ekspetasinya. Dipikir timnas Brasil mungkin. Negeri Samba saja bisa dipermalukan Jerman di Piala Dunia 2014.

Memang ada Messi Kelok Sembilan. Tapi Messi asli yang mega-cyborg-super-ultra pun tak mampu membawa Barcelona melewati babak semi final Champions musim lalu

Lah kita baru jadi tuan rumah saja sudah ekspetasinya tinggi sekali. Mengutip salah satu omongan ‘coach’ Indonesia yang doyan sebat di akun Youtube-nya, kesalahan penonton Indonesia adalah berharap terlalu banyak.

Kalau kalimat yang sering diucapkan oleh para pendukung Manchester United, “if you don’t support us when we lose don’t support us when we draw”. Tapi sayangnya Indonesia bahkan belum meraih hasil seri saja.  

Bangku-bangku stadion GBK sendiri sebenarnya terlihat cukup lega macam jok motor NMax. Penonton yang hadir tidak sebanyak ketika melawan Malaysia.

Pada jalannya laga tersebut, kedua tim berhasil mendapatkan sejumlah peluang berbahaya. Tapi babak pertama berakhir tanpa gol.

Thailand baru berhasil mencetak gol di babak kedua melalui Supachok Sarachat di menit ke-55. Dari luar kotak penalti, Sarachat melepaskan tembakan kotak+R2 a.k.a placing yang tidak terlalu keras tapi ke ujung gawang. Andai jari Andritany lebih panjang 15 cm mungkin bola bisa ditepis.

Pelanggaran yang dilakukan Andritany pada menit ke-65 berbuntut penalti. Sebuah pelanggaran tak perlu sebenarnya soalnya berada di sudut sempit yang enggak bahaya-bahaya amat. Theeraton Bunmathan mampu mengeksekusi dengan baik membuat skor menjadi 2-0 untuk tim tamu.

Hanya berselang delapan menit, Thailand kembali menambah gol melalui Sarachat. Tak terkawal di dalam kotak penalti, Sarachat dengan mudah menaklukan Andritany. Skor akhir 3-0 untuk Thailand.

Pertahanan Indonesia benar-benar bablas-blas di babak kedua. Mungkin PSSI boleh mengajukan petisi ke FIFA agar pertandingan cukup satu babak saja.

Usai laga, menanggapi tuntutan suporter yang menginginkannya mundur, McMenemy menganggap hal tersebut wajar.

 “Tidak masalah dengan suporter, mereka selalu punya opini sendiri, tetapi tidak mewakili seluruh masyarakat Indonesia sebanyak 250 juta jiwa. Sepakbola memang seperti ini. Saya paham kami bermain home dan kami melawan tim dengan salah satu gelandang terbaik di Liga Jepang,” ujarnya dikutip dari Detik.

Kekalahan ini membuat Indonesia masih berada di dasar klasemen dengan nol poin. Sementara Thailand berada di puncak klasemen Grup G dengan empat poin.

Main photo: bolabanget.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here