Mauro Icardi akhirnya membuka keran golnya bersama Paris Saint-Germain setelah didatangkan dari Inter Milan pada bursa trasnfer musim panas lalu. Gawang Galatasaray menjadi korban pertama Icardi pada laga yang berkesudahan dengan skor 1-0 untuk PSG.

Setelah didatangkan dari Inter, Icardi yang sebenarnya memang salah satu striker paling gacor saat ini, belum mampu menunjukan kehebatannya. Catatan telur Icardi untuk PSG belum juga pecah.

Hingga akhirnya lawatan ke markas Galatasaray di Turk Telekom Stadium, Turki, jadi saksi pecahnya telur a.k.a catatan nol gol Icardi. Mau memecahkan telur saja sampai jauh-jauh ke Turki. Telur Godzilla mungkin jadi sulit pecahnya.

Satu gol sumbangan Icardi itu sekaligus menentukan kemenangan PSG atas tim tuan rumah. Ini jadi kemenangan kedua PSG setelah pekan lalu membenamkan MU-nya La Liga alias Real Madrid.

Berkat tambahan tiga poin, kini PSG berangkat ke puncak sendiri. Tidak ada yang mau menemani. Paling-paling nanti di atas bisa cari ‘selimut’ biar tidak kedinginan. Sebab dengan enam poin yang dikumpulkan, kini PSG menjauh dari tiga tim lain yang berada di Grup A.

Club Brugge yang berada di posisi kedua baru mengumpulkan dua poin dari dua laga. Sementara itu Galatasaray dan Madrid baru mengumpulkan satu poin. Kedinginan sendiri jadinya PSG di puncak. Klub-klub lainnya masih kena macet di Simpang Gadog.

Pada jalannya laga tersebut, PSG langsung menekan sejak menit awal. Dua peluang dari Angel Di Maria pada menit kedua dan ke-11 masih mampu ditepis Fernando Muslera yang gosipnya tidak bisa mencium siku tangannya sendiri.

Walau menghasilkan beberapa peluang, namun tidak ada gol yang tercipta hingga akhir babak pertama.

Terobosan Marco Veratti bisa didapat Pablo Sarabia yang berhadapan satu lawan satu dengan Muslera. Entah baik atau takut tidak gol, Sarabia mengoper bola kepada Icardi yang dengan mudah tinggal nyikat saja.

Tidak ada gol lain yang tercipta hingga akhir laga. Skor 1-0 bertahan untuk keunggulan PSG.

Thomas Tuchel menilai pada laga itu mereka mau tidak mau beradaptasi dengan formasi yang tidak biasanya diterapkan Galatasaray.

”Kami harus beradaptasi (dengan sistem Galatasaray). Kami punya banyak peluang, penguasaan bola, tendangan, tapi ada fase dalam pertandingan yang tidak dapat dikontrol,” ujar Tuchel dikutip dari Republika.

“Semua orang tahu kami bekerja keras. Kami memberikan segalanya untuk bisa menang, dan (kemenangan) itu layak,” tegas Tuchel.

https://twitter.com/Kate77NG/status/1177723775569321984

Main photo: @championsleague

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here