Babak perempat final Piala Dunia 2018 sebentar lagi akan dilaksanakan. Inggris pun akan berjumpa dengan Swedia setelah keduanya sama-sama bisa menang atas lawannya di babak perdelapan final. Kalau hanya bermain imbang atau kalah tidak mungkin mereka bisa melaju.

Melawan Swedia, ingatan suporter Inggris tentunya masih lekat dengan gol Ibrahimovic enam tahun silam pada sebuah pertandingan persahabatan. Kala itu ‘Ibrakadabra’ yang sudah mencetak tiga gol, menutup kemenangan 4-2 Swedia dengan sebuah tendangan salto akrobatik dari luar kotak penalti.

Bagus sekali memang tendangannya. Mungkin kalau diberikan nama adalah tendangan salto sepeda Guru Oemar Bakri yang standing dan terbang.

Namun itu adalah kejadian enam tahun silam. Kini Ibrahimovic yang tidak dipanggil untuk membela timnas Swedia, hanya bisa memberikan wejangan saja kepada para juniornya yang unyu-unyu.

Ia menyarankan rekan-rekannya untuk tetap memainkan pola yang sama seperti yang diperagakan Swedia sebelumnya. Pola apakah itu?

Swedia selama Piala Dunia ini kerap kali memainkan strategi defensif saat pertandingan. Mereka lebih sering membiarkan lawan untuk menguasai bola. Barulah ketika berhasil merebut bola, mereka akan melakukan serangan balik cepat yang bisa mengagetkan jika lawannya latahan.

Itulah mengapa strategi mereka layak dinamakan defensif asyik. Asyik saat bertahan, asyik juga saat menyerang. Jerman, Meksiko, dan Swiss sudah merasakannya.

Sementara Inggris dapat dikatakan sebagai salah satu tim yang lebih dominan untuk melakukan serangan dan penguasaan bola. “The Three Lions” hanya satu kali kalah penguasaan bola ketika melawan Belgia.

Permainan pragmatis yang ditunjukan Swedia tersebut menurut Ibrahimovic tidak perlu diubah kala melawan Inggris. Tidak usah gaya-gaya memasang sembilan orang striker mereka mentang-mentang lawang Inggris. Atau juga pasang tiga orang kiper sekaligus.

“Mereka harus terus melakukan apa yang mereka lakukan. Sulit untuk bermain melawan Swedia dan mencetak gol melawan Swedia. Jika mereka bisa mempertahankannya, mereka memiliki peluang bagus,” kata Ibrahimovic dikutip dari Detik.

Untuk diketahui bahwa Swedia adalah tim urutan ketujuh dari delapan peserta tersisa yang memiliki penguasaan bola paling sedikit dengan 40,4 persen. Itu artinya mereka sengaja membiarkan lawan untuk menguasai bola lebih banyak.

Swedia tidak mau silau dengan kekuasaan dalam sepak bola. Daripada sudah berkuasa tapi tidak mampu membela rakyat jelata.

Sementara itu Gareth Southgate juga enggan untuk menganggap remeh Swedia pada laga ini meski di atas kertas Inggris lebih diunggulkan. Kalau di atas lapangan memang bisa berbeda. Apalagi di atas meja. Rindu saja bisa hilang kalau kata Payung Teduh.

Rekor pertemuan kedua tim sebenarnya juga berimbang. Dari tujuh pertemuan sejak tahun 2001, Inggris dan Swedia sama merebut dua kemenangan dan sisanya berakhir imbang.

“Para pemain kami datang dari latar belakang yang sama dengan pemain mereka. Kami tak sepatutnya terbuai dengan anggapan kami lebih baik dari mereka. Mereka lebih tua, lebih berpengalaman, dan punya catatan turnamen yang lebih baik daripada kami,” tandasnya.

Main photo: scoopnest.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here