Tottenham Hotspur dipastikan berada di peringkat kedua di Liga Primer setelah Chelsea usai mengalahkan Manchester United (MU) 2-1 di Stadion White Hart Lane. Yang bikin kocak, suporter Tottenham merayakan kesuksesannya dengan heboh. Padahal ya enggak juara.

Victor Wanyama membuka pesta kemenangan Spurs lewat golnya saat pertandingan baru berjalan enam menit. Fans MU bahkan belum sempat update status tapi sudah kebobolan saja.

Wanyama mencetak gol lewat sundulan kepala memanfaatkan umpan membelah samudera dari Ben Davies. Kiper MU yang bernama David de Gea hanya bergerak normatif, seperti komentar politikus DPR.

Tottenham menggandakan keunggulan di babak kedua kali ini lewat sontekan maut Harry Kane dengan memanfaatkan umpan jujur Christian Eriksen, warga negara Denmark. Kane dengan rambut klimis tanpa ketombe cukup memasang kaki saja dan bola langsung berubah arah masuk ke gawang De Gea.

MU memperkecil ketinggalan setelah aksi keren Anthony Martial mampu dimanfaatkan dengan baik oleh Wayne Rooney yang kembali dilanda kebotakan. Sayang, sisa waktu yang ada tak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh “Setan Merah”. Mereka akhirnya pulang dengan tangan hampa.

Kemenangan ini memastikan Tottenham di peringkat kedua. Sebuah pencapaian luar biasa bagi klub sekelas Tottenham yang dulunya cuma berstatus hidup segan mati tak mau.

Bagaimana tidak, klub berjuluk “The Lilywhites” itu cuma juara Inggris dua kali saja. Itu pun saat Indonesia masih dipimpin Presiden Soekarno lengkap dengan PKI-nya.

Makanya, musim ini jadi performa paling mengagumkan buat para suporternya meski cuma berstatus “nyaris” juara. Begitu selesai, mereka langsung berhamburan ke tengah lapangan. Serasa juara, padahal ya cuma peringkat kedua. Harap dimaklumi saja.

Entah apa ada yang sampai menyiapkan tumpeng atau tidak. Yang jelas tidak sampai ada yang memakai helm dan membawa bendera Slank.

“Permainan Spurs sempurna dan saya berbahagia melihat para suporter merayakan kemenangan ini. Mereka layak menyaksikan kami menang,” ujar pelatih Mauricio Pochettino yang berwajah ganteng standar itu.

Rupanya, bukan cuma merayakan peringkat kedua yang jarang-jarang mereka dapatkan itu, macam THR lebaran. Fans Tottenham sekaligus pesta perpisahan dengan Stadion White Hart Lane yang sudah ditempati selama 118 tahun, melebihi usia jamu Nyonya Meneer.

Itu merupakan pertandingan terakhir Tottenham di White Hart Lane karena pihak klub bakal membongkar total stadion tersebut. Sementara Tottenham bakal main di Wembley sampai stadion baru rampung yang ditargetkan pada Agustus 2018.

Diharapkan dengan stadion baru, Tottenham bakal naik statusnya. Dari yang tadinya kelas menengah ngehek, bisa jadi klub papan atas yang mainannya bukan lagi sekadar liburan ke Bali, tapi ke Maldives.

“Kami percaya stadion baru akan membantu klub ini meraih level yang lebih tinggi. Ini adalah harapan kami karena fasilitas yang baru bisa membantu kami bersaing di Eropa,” ucap pelatih yang entah kenapa sejak kecil sudah pandai berbahasa Argentina itu.

 

Selain itu, Tottenham juga merayakan keberhasilan mereka untuk pertama kalinya sejak musim 1994/95 berhasil finis di atas Arsenal, klub rival terdekat, tapi kangen kalau enggak ada. Mungkin tak enak karena tidak ada yang bisa diajak ribut.

Tottenham berhasil membuat suporter Arsenal gagal merayakan Saint Totteringham’s Day, yakni perayaan kalau Arsenal memastikan finis di atas Tottenham.

Ya bagi mereka, bisa finis di atas Arsenal mungkin sudah juara. Tapi kalau mau berubah jadi tim besar, maka visinya bukan lagi cuma sekadar di atas Arsenal. Tetapi bisa di atas ke-19 tim lainnya di Liga Primer.

Main photo credit: Twitter (@SophieThfc10)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here