Oleh: Harry Hardian

Keberhasilan Timnas U-19 asuhan Indra Sjafri menjuarai Piala AFF dan lolos Piala AFC 2015, merupakan modal usaha bagi Luis Milla. Bukan usaha kuliner atau start up yang lagi happening itu, melainkan usahanya dalam bertugas memegang timnas Indonesia.

Kalau kita mengenang kenangan yang lalu, polesan Indra Sjafri begitu ciamik, bagai mantan yang sekarang terlihat begitu cantik. Indra berhasil memadukan kemampuan pemain yang dimilikinya.

Pemain U-19 yang mungil, kecil, dan ‘unyu’ namun memiliki kecepatan mematikan, dimanfaatinya dengan permainan Pe-Pe-Pa (Pendek-Pendek Panjang), meski terkadang juga Pendek-Pendek Palsu alias umpannya hanya sekadar memberi harapan.

Namun, sentuhan mirip ala tiki-taka yang diakhiri oleh umpan terobosan maupun bola panjang yang melewati kepala pemain belakang, kerap memanjakan kawan, menyulitkan pemain lawan. Korea Selatan yang muka pemainnya kayak anggota K-Pop dan memakai make up itu pun dilibas putra-putra terbaik negeri masa depan bangsa.

Euforia masyarakat Indonesia begitu tinggi atas keberhasilan timnas gorengan Indra Sjafri. Bahkan, kata “jebret” sering diucapkan komentator saat pertandingan ketika itu. Menandakan bahwa timnas Indonesia bermain menyerang dan menguasai permainan.

Berbagai kepentingan yang membelit sepakbola Indonesia, menjadi titik nadir perkembangan sepakbola dalam negeri. Asa yang telah membumbung tinggi, hilang tak berbekas. Pemain timnas kembali bermain di level bawah, bermain di kompetisi tarkam.

Luis Milla Melatih Indonesia

Setitik cahaya tiba-tiba muncul seketika. Seolah ada seorang wanita baru yang hadir di kehidupan kita. Memberikan perhatian dan kasih sayang meski belum jadian.

Hadirnya kepengurusan baru, semuanya pun berbenah. PSSI sekarang memahami betul bagaimana timnas itu dibentuk. Pendekatan culture sepakbola menjadi poin. Gaya permainan tidak bisa dipaksakan, tapi disesuaikan dengan kapasitas dan kapabilitas pemain.

Menjadi hal yang patut diperhitungkan dalam memilih pelatih. Itulah jawaban mengapa PSSI akhirnya berkiblat ke Spanyol. Maka dipilihlah seorang pria dewasa asal Spanyol bernama Luis Milla. Mantan pemain Barcelona, Real Madrid, dan Valencia, tiga klub besar akamsi Spanyol sana.

“Kebetulan kita ini, dari tubuh dan cara bermain hampir mirip dengan taktik serta teknik Spanyol. Kami dekatkan ke situ, culture-nya. Kami juga rencanakan timnas try out di sana,” kata Ketua PSSI, Edy Rachmayadi, ketika itu.

PSSI berhasil mendaratkan tanda tangan pelatih sekaliber Luis Milla. Lulusan La Masia ini, diberi tanggung jawab memimpin Garuda. Tak tanggung-tanggung, dua timnas sekaligus diembannya, U-22 dan timnas senior. Mantap.

Milla merupakan pelatih yang berhasil membawa Spanyol merebut Piala Eropa U-21 pada 2011. Anggota timnya saat itu di antaranya yang kini jadi pemain top Eropa seperti Thiago Alcantara, David De Gea, Ander Herrera, Javi Martinez, sampai Juan Mata. Berdasarkan prestasi tersebut, Milla ditargetkan merebut emas Sea Games dan posisi empat Asian Games.

“PSSI menargetkan coach Luis Milla membawa juara SEA Games 2017 dan masuk empat besar Asian Games 2018. Semoga target ini tercapai dan saat kami bertemu, dia menceritakan bagaimana pada 2011 berhasil menjuarai Piala Eropa U-21. Ia membangun tim dengan pemain sejak U-19 dan semua pemainnya sudah bermain di tim elite Eropa,” ujar Sekjen PSSI, Ade Wellington.

Milla dikontrak PSSI selama 2 tahun, dengan opsi perpanjangan. Melihat bahwa pria berusia 50 tahun itu memegang dua timnas, diharapkan terjadi kesinambungan di mana pemain muda yang dipromosikan ke senior, tidak akan susah untuk mengikuti gaya bermain timnas senior.

Regenerasi, faktor penting untuk tim dapat berprestasi. Pemain bintang tidak muncul dengan sendirinya, harus diciptakan sejak anak-anak. Kalau perlu setelah lahir langsung dikasih bola biar akrab kayak Tsubasa. Bola adalah teman.

Hal ini lah yang sudah diterapkan di Eropa baik level timnas maupun klub. Asisten pelatih didapuk sebagai pelatih kepala ataupun terlibat langsung memantau di level junior.

Arah dan Gaya Bermain Milla

Banyak yang beranggapan Milla yang namanya kayak cewek di Indonesia itu akan memainkan gaya tiki-taka ala Spanyol. Namun demikian, Milla masih mempelajari para pemain lebih lanjut dan tidak terburu-buru memainkan konsep tiki-taka.

Maklum, kemampuan passing dan kontrol para pemain Indonesia memang perlu ditingkatkan lagi. Masih banyak yang suka salah oper atau kontrolnya belepotan entah ke mana, macam Awkarin kalau lagi nyanyi. Untuk memainkan konsep tiki-taka tentu harus menguasai passing dan kontrol yang oke punya.

“Terlalu cepat mengatakan taktik tiki-taka di sesi latihan ini. Secara pribadi, saya tidak terlalu suka memperagakan tiki-taka karena di dunia sepak bola itu memiliki berbagai macam taktik seperti menyerang dan bertahan,” kata Milla.

Meski begitu, Luis Milla puas dengan hasil seleksi tahap pertama. Melihat kualitas yang dipertontonkan oleh pemain. Hal itu diucapkan asisten pelatih, Eduardo Perez, saat adzan maghrib berkumandang, hayya alal sholah..

“Yang jelas kami senang dengan hasil latihan ini. Saya berbincang dengan pelatih (Milla) bahwa kami senang, kami sangat terbantu dengan kualitas pemain yang ada sehingga latihan bisa berlangsung cepat,” ucap Perez.

Melihat tiga hal di atas, postur dan teknik pemain, daftar seleksi U-22, dan puasnya Milla terhadap pemain di seleksi tahap pertama, bukan tidak mungkin gaya tiki-taka sedikit revisi akan dikembangkan. Seperti Pe-Pe-Pa yang ditemukan Indra Sjafri, mengalirkan bola bawah cepat dan mengandalkan permainan sayap.

Dari daftar pemain seleksi tahap pertama, tercatat delapan pemain adalah lulusan juara Piala AFF U-19 dan pernah merasakan nikmatnya Piala Asia U-19. Mereka yang beruntung itu adalah Evan Dimas, Hargianto, Zulfiandi, Ryuji Utomo, Paulo Sitanggang, Hansamu Yama, Putu Gede, dan Yabes Roni.

Setidaknya mereka telah berpengalaman dan memiliki jam terbang di tingkat internasional. Gaya bermainnya pun seperti filosofi Spanyol mengandalkan bola bawah cepat. Hal itu diakui oleh Ricky Fajrin, salah satu peserta seleksi.

“Gaya melatihnya mirip. Intinya bola harus dimainkan, jangan pemain yang dimainkan bola. Sebagian dari kami alumnus U-19 juga banyak yang kenal, jadi harusnya hapal gaya bermainnya,” ujar Ricky dikutip dari JPNN. 

Milla setidaknya sudah mendapat warisan dari polesan Indra, bukan Indra Bekti, melainkan Indra Sjafri. Warisannya juga bukan tanah, rumah, dan kontrakan, melainkan pemain-pemain yang mumpuni di bidangnya untuk dijadikan modal usahanya itu.

Hanya memang, timnas Spanyol U-21 tentu berbeda materinya dengan timnas kita. Setelah memegang Juan Mata dan kawan-kawan, kini memegang Evan Dimas Darmono dan kawan-kawan. Semoga saja Milla tidak kaget sampai latah “ayam..ayam” kayak Ruben Onsu.

Semoga saja Milla dapat mengemban tugas ini dengan baik dan menghasilkan pretasi menuju Sea Games 2017 dan Asian Games 2018. Apakah ini durian runtuh bagi Luis Milla?Apalagi kalau duriannya durian Monthong yang enak banget itu. Mana montok pula.

Bagaimanapun hanya waktu yang dapat menjawabnya. Tamat.

Main photo credit: Vebma.com


Harry Hardian 2Harry Hardian

Penulis yang selalu diawali dengan kata mantan. Mantan pemain, mantan pelatih dan mantan seseorang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here