Oleh: Paundra Jhalugilang 

Pernah dengar slogan “Harga kaki lima, rasa bintang lima”? Ya, itu adalah slogan restoran D’Cost dan beberapa warung makan lainnya. Kalau harga kaki lima, rasa kaki lima mungkin hanya ada di warteg Kharisma atau warteg Berkah karena rasa warteg di mana-mana ya standar saja.

Kalau harga bintang lima, rasa bintang lima sepertinya cocok disematkan untuk Bayern Muenchen saat menggulung Arsenal jadi kue dadar. Muenchen dengan rasa super mantap ala paketan KFC sukses memperlihatkan permainan bintang lima.

Kalau katanya statistik, Muenchen membuat 24 peluang sedangkan Arsenal hanya delapan. Begitu juga dengan ball possesion yang tak memberikan ruang sedikit pun buat Arsenal, 68% lawan 32%.

Die Bayern” memang sangat superior malam itu. Gol demi gol tak cuma sekadar formalitas bola masuk ke gawang. Tapi benar-benar tercipta dari serangan tujuh hari tujuh malam yang mampu memecah belah persatuan Arsenal.

Kunci dari kemenangan nyaris sempurna itu bukan cuma polesan Carlo Ancelotti. Tapi juga perpaduan pemain-pemain kelas dunia yang ada di klub asal Muenchen itu, makanya cocok dijuluki “FC Hollywood”.

Sebut saja Arjen Robben, Thiago Alcantara, Mats Hummels, David Alaba, Arturo Vidal, Xabi Alonso, Philipp Lahm, sampai Manuel Neuer. Pemain-pemain itu merupakan pemain mahal di mana Muenchen cukup banyak mengeluarkan uang untuk menggaet mereka.

Dari 11 pemain yang berlaga melawan Arsenal, hanya David Alaba, Philipp Lahm, dan Robert Lewandowski yang tak perlu mengeluarkan uang untuk merekrutnya. Alaba dan Lahm adalah produk akademi asli alias akamsi, sedangkan Lewandowski didapat gratisan dari Borussia Dortmund.

Yang termahal adalah Javi Martinez (40 juta euro), disusul Arturo Vidal (36 juta euro), Mats Hummels (35 juta euro), Douglas Costa (30 juta euro), Manuel Neuer (22 juta euro), Thiago (25 juta euro), Arjen Robben (25 juta euro), dan termurah adalah Xabi Alonso (10 juta euro).

Wajar kalau Alonso dibeli tak terlalu mahal, karena pada 2014 usia Alonso sudah tak muda lagi, yakni 32 tahun. Umur segitu memang sudah masuk usia mapan kalau berkarier di bank, mungkin sudah jadi pemimpin cabang pembantu. Tapi kalau di sepak bola justru mulai meredup.

Kalau ditotal semuanya, Muenchen sudah menghabiskan uang sebesar 223 juta euro, atau sekitar Rp 3,2 triliun. Angka yang cukup fantastis mengingat dengan uang segitu kita bisa beli 91 juta porsi gudeg Yu Djum, atau beli Toyota Innova segudang yang bisa dibagi-bagikan ke warga di Kampung Pulo.

Coba bandingkan dengan starting XI Arsenal di laga itu. “The Gunners” cuma menghabiskan 162 juta euro saja, atau sekitar setengahnya dari apa yang dikeluarkan Muenchen. Hasilnya? Ya beda kelas.

Harga memang menentukan kualitas. Harga tak pernah menipu. Skuat yang mahal, semahal hotel bintang lima atau semahal wanita yang ada di Malio, sangat menjamin kualitasnya.

Tidak percaya? Silakan dicek pada 10 juara Liga Champions terakhir. Apakah ada tim yang setengah-setengah mampu menjadi juara? Mungkin terakhir kali hanya Porto pada 2004. Atletico Madrid dan Borussia Dortmund yang sempat mencapai final nyatanya tetap kalah dari skuat bintang lima Real Madrid dan Bayern.

Kesepuluh juara Champions terakhir adalah klub-klub bintang lima yang menginvestasikan uangnya besar-besaran. Harga bintang lima, maka rasanya pun tetap bintang lima.

Dari 2007, Milan saat itu sudah mengeluarkan kocek sampai 30 juta euro untuk merekrut Alessandro Nesta pada 2003. Belum ditambah pembelian Clarence Seedorf (22 juta euro), Andrea Pirlo (17 juta euro), dan Filippo Inzaghi (36 juta euro) yang ditotal mencapai sekitar 75 juta euro.

Hasil gambar untuk Nesta milan 2003
Nesta yang dibeli Milan dari Lazio pada 2003, saat itu harganya sudah 30 jutaan. (Bola.net)

Kemudian Manchester United (MU) yang jadi juara tahun berikutnya juga mengeluarkan uang banyak untuk membeli Rio Ferdinand (45 juta euro), Wayne Rooney (36 juta euro), Michael Carrick (25 juta euro), Cristiano Ronaldo (18 juta euro), dan Carlos Tevez (12 juta euro).

Barcelona tak terlalu mengeluarkan banyak uang saat jadi juara pada 2009. Cuma merogoh sekitar 58 juta euro saja demi mendatangkan Yaya Toure, Thierry Henry, dan Samuel Eto’o yang didatangkan beberapa tahun sebelum mereka juara. Sebagian pemainnya berasal dari akademi La Masia.

Barcelona memang yang paling sedikit berinvestasi di antara 10 edisi terakhir, yakni hanya 66 juta euro saja. Tapi jangan lupakan market value mereka di mana Lionel Messi, Xavi, Andres Iniesta, Carles Puyol, dan Victor Valdes sudah bergaji tinggi dan dibanderol sangat mahal ketika itu.

Yang paling berasa adalah Inter Milan yang jadi kampiun sekaligus mencetak sejarah treble yang selalu dibangga-banggakan fans-nya itu. Pada musim 2009/10, “I Nerazzurri” membeli lima pemain yang langsung bikin mereka juara, ditambah satu pemain gratisan.

Mereka adalah Diego Milito (24 juta euro), Eto’o (20 juta euro), Wesley Sneijer (15 juta euro), Thiago Motta (10 juta euro), Lucio (8 juta euro), dan Goran Pandev (gratis). Itu belum ditambah pembelian Walter Samuel (18 juta euro) dan Cristian Chivu (15 juta euro) pada tahun-tahun sebelumnya.

Pada edisi-edisi selanjutnya, tak perlu diuraikan lagi karena uang demi uang digelontorkan untuk membeli pemain bintang yang berdampak besar bagi sebuah klub. Atau minimal, market value dari klub-klub juara itu sangatlah tinggi.

Terakhir adalah Real Madrid yang gila-gilaan menginvestasikan para pemainnya mulai dari Keylor Navas (10 juta euro), Sergio Ramos (27 juta euro), Pepe (30 juta euro), Toni Kroos (30 juta euro), Luka Modric (30 juta euro), Karim Benzema (35 juta euro), James Rodriguez (80 juta euro), Gareth Bale (101 juta euro), dan sang megabintang Cristiano Ronaldo (94 juta euro).

Kalau mau ditotal, silakan hitung sendiri pakai kalkulator. Jari penulis sudah cukup pegal untuk menjumlahkan angka segitu banyaknya.

bolatory infografis 2MB (2)

Dari 10 tim yang jadi juara dalam 10 edisi terakhir, rata-rata menghabiskan investasi di atas 100 juta euro. Hanya Barcelona yang di bawah itu pada edisi 2011 karena sebagian berasal dari akademi. Paling mahal adalah Madrid pada 2014 yang menghabiskan 380 juta euro.

Itulah mengapa, Bayern Muenchen memang pantas disebut sebagai “Hotel Bintang Lima” oleh awak media di sana. Setara Hotel Oakwood, Ritz-Carlton, Fairmont, dan JW Marriott. Sebaliknya, ungkapan harga bintang lima tapi rasa kaki lima malah cocok disematkan pada Barcelona yang juga dijadikan kue dadar gulung oleh Paris Saint Germain (PSG).

PSG sendiri bagaimana? Kita lihat saja berapa uang yang mereka habiskan untuk membeli Starting XI mereka saat melawan Barca. Mereka membayar Edinson Cavani (64 juta euro), Angel Di Maria (63 juta euro), Julian Draxler (40 juta euro), Marquinhos (31 juta euro), Layvin Kurzawa (23 juta euro), Marco Verratti (12 juta euro), Kevin Trapp (10 juta euro), dan Thomas Meunier (7 juta euro). Totalnya sekitar 250 juta euro.

Beberapa tim juga mulai mengikuti jejak Madrid dan Muenchen dalam berinvestasi pemain. Contoh saja Juventus yang membeli Gonzalo Higuain (90 juta euro), Paulo Dybala (31 juta euro), Miralem Pjanic (31 juta euro), Alex Sandro (26 juta euro), Marko Pjaca (22 juta euro), dan Mario Mandzukic (18 juta euro), totalnya sekitar 218 juta euro.

Atau Manchester City yang tak mau kalah membeli Kevin de Bruyne (72 juta euro), Raheem Sterling (62 juta euro), John Stones (55 juta euro), Leroy Sane (51 juta euro), Nicolas Otamendi (43 juta euro), Gabriel Jesus (32 juta euro), Elaquim Mangala (30 juta euro), Ilkay Gundogan (25 juta euro), dan Nolito (18 juta euro).

Kalau dihitung-hitung sudah lebih dari 380 juta euro dana yang dihabiskan City dalam dua musim terakhir untuk belanja pemain. Maklum, uangnya memang tak berseri karena dapat kucuran dari tanah Arab. Investasi mereka memang tak tanggung-tanggung, daripada ikutan investasi bodong yang suka ada di online, lebih baik beli pemain mahal sekalian.

Begitulah kisahnya. Ada ungkapan dalam berbisnis, kalau mau cari uang harus pake uang. Jangan cari uang pakai ludah, nanti diludahi orang. Artinya, kalau mau sukses dalam berbisnis memang harus bermodal besar agar return-nya juga memuaskan. Jangan seperti MLM yang cuma teriak-teriak doang makanya banyak diludahi orang.

Well, bagaimanapun uang bukan segalanya. Dalam sebuah tim sepak bola tetap ada yang namanya kekompakan dan kematangan sebuah tim. Beberapa klub yang jadi juara Champions tak serta merta soal uang, tapi juga karena kematangan mereka dalam mengolah bola.

Main photo credit: Atlantic Reporter


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here