Oleh: Harry Hardian

Empat tahun lalu, gairah pecinta sepakbola Indonesia sekarang melihat pemain muda yang berada di puncak-puncaknya. Tentu bukan puncak kenikmatan, tapi sebuah gelar yang lama ditunggu-tunggu masyarakat se-Indonesia yang beraneka-ria ini.

Momentum itu hadir ketika Indonesia menjadi berhasil menjuarai Piala AFF U-19 di Sidoarjo pada 2013 dengan mengalahkan Vietnam lewat adu penalti. Evan Dimas dkk menjadi buah bibir masyarakat bahwa Indonesia dapat bermain dengan bagus dan menjadi aset tim nasional ke depannya.

Euforia akan keberhasilan tim ini terus membumbung tinggi bagi masyarakat sepakbola Indonesia. Bahkan kebanggaan dan luapan kegembiraan ini terus berlanjut hingga tim asuhan Indra Sjafri lolos kualifikasi Piala Asia di Myanmar.

Permainan Indonesia penuh dengan determinasi tinggi membuat pemain lawan sulit untuk mengembangkan permainan. Sangat seru dan asyik menontonnya melihat tim lawan dipermainkan oleh pemuda-pemuda harapan bangsa. Apalagi kalau ditemani kopi, teh, dan pisang goreng. Beuh…

Gaya permainan yang oleh Indra disebut “Pepepa”. Tentu bukan sejenis makanan, tapi akronim dari Pendek-Pendek Panjang. Dengan memanfaatkan kecepatan lari Maldini Pali dan Ilham Udin menjadi tumpuan bagi lini serang Indonesia. Menjadi ciri khas permainan tim nasional muda Indonesia.

Sepanjang pergelaran turnamen AFF U-19 2013, timnas berhasil menciptakan 14 gol dan lima gol kemasukan. Evan Dimas dan Ilham Udin menjadi pencetak gol terbanyak bagi tim Indonesia masing-masing mencetak lima dan empat gol. Menariknya, Evan yang menjadi top skor adalah seorang gelandang dengan roh-roh Xavi.

Pada Piala AFF U-19 2017 di Myanmar, timnas memainkan gaya serupa dengan umpan-umpan pendek, namun penampilan mereka kali ini lebih menyerang. “Garuda Muda” menempatkan dua gelandang serang. Tak heran, pada AFF kemarin, Indonesia berhasil mencatatkan 26 gol dari enam laga selama turnamen.

Meskipun hanya menduduki posisi ketiga, namun kita sudah sepatutnya memberikan apresiasi untuk para pemain. Gairah sepakbola Indonesia kembali meningkat, setelah sebelumnya sempat terpuruk akibat adanya sanksi FIFA.

Dalam lima tahun terakhir terlihat bibit unggul pemain muda Indonesia. Secercah harapan muncul dengan banyaknya pemain muda potensial. Bagai minum es teh manis di siang bolong.

Indra Sjafri menyebut bahwa semua pemain yang dibawa ke kejuaraan harus mendapat pengalaman bertanding. Ujung pembinaan pemain muda adalah mencapai prestasi di timnas Indonesia.

“Di ajang ini saya ingin semua pemain diberikan kesempatan bermain. Di tim usia muda, jauh lebih penting yakni kita kasih kesempatan ke semua pemain, karena hakekatnya nanti akan menjadi generasi baru untuk timnas senior,” ucap pelatih berkumis tebal itu.

Tekanan sebagai pemain bola apalagi membawa nama Indonesia, memang menjadi beban psikologis bagi para pemain. Bermain bola bukan hanya sekadar urusan teknis berupa skill, taktik, dan strategi, tapi faktor non-teknis menjadi penting ketika berada di atas lapangan.

Tanpa mental yang kuat apa yang dilatih akan percuma, sia-sia, seperti sayap-sayap laron yang patah tersapu angin. Para pemain tidak akan mampu mengeluarkan teknik terbaiknya.

Kemampuan Indra dalam memompa sebuah tim juga patut diapresiasi. Memotivasi pemain sehingga bisa menampilkan permainan 100% di atas lapangan.

Teringat kata-kata yang disampaikannya kepada pemain timnas U-19 menjelang pertandingan antara Indonesia vs Korea Selatan beberapa tahun lalu. Yang pada akhirnya Indonesia berhasil lolos kualifikasi Piala AFC.

“Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua,” katanya ketika itu.

Sebuah kalimat yang begitu mendalam, disematkan kepada “Garuda Muda” tentang keyakinan akan kemenangan, tapi diajarkan pula ketidak-sombongan dan kerendahan hati karena doa dan restu orang tua merupakan segalanya.

Tak mungkin orang tua sendiri dilawan kecuali jika mereka memang jahat. Tapi sejahat-jahatnya, mereka tetaplah orang tua kita. Bisa berabe kalau tak dapat berkahnya.

Tak ada yang tak bisa dikalahkan. Kita sama-sama manusia yang makan nasi atau roti. Meski beda fisik, tak berpengaruh terlalu banyak. Lihat bagaimana Diego Maradona dan Lionel Messi tetap bisa jadi pemain hebat meski dengan postur mungil.

Dalam urusan sepak bola, tidak ada yang tidak mungkin dikalahkan sepanjang dalam 2×45 menit bermain spartan dan tidak kenal lelah. Rasa sakit dan lelah hanya selama pertandingan, tapi penyesalan akan terus menghinggapi seumur hidup jika kalah. Itu yang harus ditanamkan kepada setiap pemain yang bertanding.

Hal itu juga terlihat pada pertandingan semifinal antara Indonesia versus Thailand. Bermain dengan 10 orang, kegairahan pemain Indonesia muncul, “Garuda Muda” mampu bermain penuh determinasi, bahkan dapat mencetak peluang untuk mencetak gol. Sayang kita hanya kalah beruntung di babak adu penalti.

Teringat sebuah kalimat, “Sekadar keinginan untuk menang itu penting, lebih dari itu persiapan merupakan faktor yang menentukan segalanya.” Itulah yang ditunjukan oleh tim keseluruhan tim “Garuda Pancasila”.

Gairah yang sama juga diperlihatkan para pemuda harapan bangsa U-16 di kualifikasi Piala Asia, cuma beda usia saja. Entah berapa gol dilesakkan Sutan Zico dan kawan-kawan. Sudah terlalu banyak sampai bosan menghitungnya.

Semoga gairah sepakbola tidak hanya hadir pemain muda, namun juga menular ke timnas senior Indonesia. Selalu ingat, “Hanya Tuhan dan orang tua yang tak bisa dikalahkan.”

Main photo: MLD Spot


Harry Hardian 2Harry Hardian

Penulis yang selalu diawali dengan kata mantan. Mantan pemain, mantan pelatih dan mantan seseorang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here