Pertandingan pertama grup B Piala Dunia 2018 mempertemukan Maroko melawan Iran. Pada pertandingan yang digelar di Kretovsky Stadium di Saint-Petersburg itu, timnas Iran berhasil mengunci kemenangan meski tidak mencetak gol.

Bukan sulap bukan sihir Mister Tarno, namun itulah yang terjadi. Bahkan Iran kini menempati peringkat satu grup B melewati Spanyol dan Portugal. Sekali lagi diingatkan, tanpa mencetak gol. Luar biasa sobat super kalau kata Mario Teguh.

Hal tersebut bisa terjadi sebab kemenangan tipis Iran 1-0 atas Maroko, dicetak melalui gol bunuh diri dari Aziz Bouhaddouz. Lebih dramatis lagi sebab gol tersebut tercipta di menit akhir. Benar-benar di menit akhir sebab gol bundir itu dilesakan satu menit jelang injury time usai. Kalau sedang main PES itu cuma kebagian kick-off saja, setelah itu wasit langsung meniup peluit.

Pada laga tersebut Maroko sebenarnya lumayan menguasai jalannya pertandingan. Wajar, skuat mereka diisi beberapa nama yang lumayan beken di kompetisi Eropa. Sebut saja Medhi Benatia, Hakim Ziyech, serta Achraf Hakimi yang bukan saudaranya Achraf Sinclair.

Pada menit ketiga, Ziyech sudah mengancam gawang Iran. Mendapat umpan datar hasil tendangan pojok, Ziyech malah lebih suka menendang angin. Mending kalau bolanya kena namun hanya menghasilkan tendangan pistol air. Sedangkan Ziyech menendang bola saja tidak kena. Entah angin tendangannya masuk ke gawang atau tidak.

Kemudian di menit ke-19 Maroko kembali membuat Iran ketar-ketir. Keramaian terjadi di dalam kotak penalti. Ternyata bukan ada yang sedang berdagang batu akik. Kemelut tersebut gagal dimanfaatkan oleh Younes Belhanda dan Benatia untuk mencetak gol. Beberapa pemain Iran yang ngerubung macam emak-emak rebutan diskon 80% Ramayana, berhasil membuat blok terhadap tendangan tersebut.

Perlahan Iran kemudian bisa lepas dari tekanan. Pada menit ke-43 Iran melakukan sebuah serangan balik cepat. Tergesa-gesa seperti ingin ngebom di toilet. Sardar Azmoun yang mendapat terobosan dengan cepat menggiring bola ke gawang.

Sayang sekali kiper Munir Mohand Mohamedi bermain cukup bagus dan membuat dua tepisan beruntun. Satu kali lagi bisa dapat payung coklat yang dijual di abang-abang SD.

Setelah menepis tendangan Azmoun, Munir kembali menahan tendangan yang dilesakan Alireza Jahanbakhsh. Hingga babak pertama usai tidak ada gol tercipta.

Iran baru bermain lumayan menekan pada babak kedua. Permainan pun menghasilkan beberapa pelanggaran akibat kontak fisik yang terjadi. Laga makin sengit di menit-menit akhir. Kedua tim saling berbalas serangan tanpa diiringi berbalas pantun. Wasit kemudian memberikan perpanjangan waktu hingga enam menit.

https://twitter.com/Sporf/status/1007668375798124546

Disinilah petaka terjadi buat Maroko tepatnya di menit 90+5. Tendangan bebas Ehsan Haji Safi justru disundul dengan mantul oleh Aziz Bouhaddouz dan menghasilkan gol bundir alias bunuh diri. Iran pun mengakhiri laga dengan kemenangan 1-0 atas Maroko.

Selepas pertandingan, pelatih Iran yaitu Carlos Queiroz mengajak semua pihak untuk memisahkan politik dengan sepak bola. Seperti diketahui bahwa persiapan Iran sempat terganggu oleh Amerika yang melarang Nike untuk mengirimkan sepatu untuk skuat Iran.

“Biarkan mereka menikmati sepak bola seperti semua pemain sepak bola lain di dunia. Mereka tidak menentang siapa pun atau melawan apa pun. Mereka hanya ingin mengekspresikan diri dan bermain sepak bola. Kami berada di Piala Dunia ini di bawah payung FIFA dan nilai utama FIFA adalah untuk memisahkan politik, tetapi ini bukan apa yang sedang terjadi,” katanya seperti dikutip dari Thestar.com.

https://twitter.com/brfootball/status/1007650472667250689

Main photo: Sporta Illustrated

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here