Lionel Messi sangat girang bukan kepalang saat mendapati timnya menang adu penalti lawan Kolombia kemarin pagi. Setelah berjibaku ke sana-ke mari, Messi layak mendapatkan final ketiganya di ajang Copa America. Tinggal selangkah lagi dia benar-benar mendapatkan trofi untuk negaranya.

Messi memang belum mempersembahkan satu gelar pun kepada Argentina. Kalah dua trofi dari Cristiano Ronaldo yang sudah memberikan trofi Euro dan Nations Cup. Makanya banyak yang menganggap “Ronaldo > Messi”.

Memang rasanya ada yang kurang kalau seonggok Messi pensiun tanpa ada gelar internasional level negara. Padahal Ballon d’Or sudah berjibun, trofi level klub apalagi.

Padahal, skuat Argentina kurang apa coba. Banyak rekan setimnya jago-jago, mulai dari Javier Zanetti sampai Angel Di Maria. Namun, sejak 1993 Argentina justru tidak pernah juara lagi.

Messi yang sudah memperkuat Argentina di Copa America 2007 berturut-turut selalu gagal memenangkannya. Padahal, Copa America ini cukup sering digelar. Digelar 3 tahun sekali, bahkan sempat digelar dempetan 1 tahun karena merayakan 1 abadnya.

Sejak Messi memperkuat Argentina, sudah 6 edisi dilalui tanpa juara. Padahal, kontestannya tidak sebanyak Euro. Sedangkan Ronaldo, hanya butuh 4 edisi untuk memberikan gelar juara kepada Portugal, meski edisi kelima tahun ini gagal.

Makanya, pada Copa America tahun ini agak kebangetan kalau Messi gagal juara lagi. Meski dengan kondisi tim yang mungkin agak “kurang” bila dibanding Argentina-Argentina lainnya. Striker Barca itu tampak menggendong beban seluruh pemain Argentina, semuanya seperti dilakoni sendiri.

Ya mungkin pemain Argentina yang lainnya jadi segan. Takut kena omel Messi. Entah. Tidak ada yang tahu selain Tuhan dan pemain-pemain Argentina itu sendiri.

Pada laga melawan Kolombia, Argentina bermain imbang 1-1 selama 90 menit. Mereka unggul lebih dulu lewat aksi operan Messi yang menjadi assist bagi Lautaro Martinez. Tendangan mendatar Lautaro sukses masuk ke gawang David Ospina dengan tenang dan tidak rewel.

Kolombia mencoba membalas tapi hanya dua kali membentur tiang gawang. Doyan sekali ini para pemain Kolombia sama tiang. Enggak mau dipacari saja sekalian itu tiang.

Pada menit ke-61, Luis Diaz mencetak gol usai berlari kencang menyambut umpan Edwin Cardona. Dia menembak sambil terjatuh, meski tidak sambil tertawa.

Argentina mencoba berusaha keras dengan menembak tiang, ikut-ikutan Kolombia. Yang paling parah ketika Di Maria sudah melewati Ospina, gawang kosong tidak ditembak langsung, malah dioper ke Messi.

Messi memang lebih berpeluang, tapi tendangannya malah dipentokin ke gelandang Wilmar Barrios. Itu kalau Argentina sampai kalah, pasti penyesalannya sampai ke ulu hati.

Setelah 1-1, pertandingan tidak berlanjut ke babak ekstra alias langsung ke adu penalti buat hemat tenaga di zaman Corona. Messi wajib berterima kasih kepada kiper Emi Martinez setelah tiga penendang Kolombia mampu digagalkannya. Mantap betul.

Messi pun memperlihatkan ekspresi girangnya usai Martinez menepis penalti kedua. Kemudian saat menepis penalti ketiga, dia ikut berlari dengan mata berbinar-binar. Benar-benar mengharukan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here