Oleh: Bayu Budi P.

Bagi penggemar sepakbola eropa, nama Giovanni Moreno terdengar asing di telinga. Sama seperti mendengar ejekan jomblo ketika duduk termenung mengintip rintik-rintik hujan dari jendela atau pura-pura tidak kenal mantan ketika pas-pasan di pernikahan maupun restoran.

Bagi publik China khususnya penggemar Shanghai Shenhua namanya semerbak harum, selain karena menjabat kapten di Shenhua namun performanya yang ditampilkan begitu indah.

Pemain yang jabatanya sama dengan Ayana di tim T JKT48, merupakan salah satu poros penyerangan Shenhua. Dengan dribble nan elok bak koreografi member JKT48 yang membuat mata seakan dimanjakan persis seperti melihat mantan yang akhirnya ngajak balikan.

Pemain yang tingginya tak sampai setengah dari Monas ini juga memiliki akurasi umpan dan tendangan yang aduhai macam suaranya Via Vallen. Sebanyak 15 goal yang diciptakannya musim lalu pun menyamai Mohamed Salah saat membela panji-panji AS Roma.

Assist-nya saat melawan Chongqing Dangdai Lifan, klub yang tak terkenal di Indonesia, yang dikirimkan melalui dirinya sendiri tanpa menggunakan aplikasi GO-FOOD ini mampu membelah barisan pertahanan Dangdai dengan mudah.

Mungkin, karena kurang cakap saat mengikuti latihan Paskibra sehingga barisan pertahanan mereka mudah ditembus. Seharusnya mereka melakukan setengah lencang kanan dulu sebelum mulai diserang oleh lawan

Gaya bermainnya seperti playmaker Amerika Latin lainnya. Meskipun tidak cepat namun lincah membuat dia bisa menari-nari di lapangan dengan indah, sayang bakatnya menari hanya di lapangan jika terus berlatih bukan tidak mungkin dia akan menjadi kontestan ajang pencarian bakat asal jangan terjerumus barisan tulang lunak.

Pemain yang tidak memiliki ikatan darah dengan bek Liverpool, Alberto Moreno maupun Moreno Suprapto ini tetap menunjukkan konsistensinya dengan baik meskipun umurnya sudah lebih dari kepala tiga.

Entah karena terlalu jago atau memang pemain lawan yang sungkan merebut karena tidak enak hati karena dia merupakan teman satu angkatan legenda Chelsea, Didier Drogba, saat pertama kali ikut meramaikan Liga China.

Namanya pun ikut terdaftar dalam 35 nama yang dipanggil Jose Pekerman untuk membela timnas Kolombia di ajang Piala Dunia 2018 bersama playmaker “kenamaan” asal Bayern Munich, James Rodriguez. Sayangnya pemain sekelas Slamet Nurcahyo tak dipanggil Kolombia, padahal duetnya dengan Peter Odemwingie musim lalu begitu menakjubkan. Pasti Moreno makin mantap kalau berduet dengan Slamet.

Di ajang 4 tahunan sekali ini mungkin perannya akan sulit untuk dilihat, sebab posisinya yang sama dengan James sehingga Pekerman akan cenderung memilih James daripada dia. Memang orang tua selalu ingin mencari yang lebih muda dan BERPENGALAMAN.

Namun asa untuk bermain tetap ada jika Kolombia mampu menang di dua laga pertama yakni melawan Jepang yang dipimpin Keisuke Honda dkk dan Polandia yang dipimpin top skor Bundesliga , Robert “LewanGoalski” sehingga pertandingan terakhir melawan Senegal bisa jadi ajang melepas penat bagi pemain utama

Itulah Giovanni Moreno yang mungkin akrab disapa “No” alias ‘tidak’ itu. Hanya karena bermain di Liga China dia dianggap pemain biasa padahal keindahan yang ditampilkannya  selalu bisa meniyihir mata.

Bagi yang mau menyaksikan liga China yang katanya kalau gajian menggunakan uang bukan barter barang, mungkin bisa melihat aksinya di Youtube kesayangan Anda.

#AYOLIHATCSL #EROPAUDAHUSAI #MORENOAYOMAIN

Main photo: AS Colombia


Bayu BudiBayu Budi P.

Pelajar yang ikut SBMPTN

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here