Oleh: Paundra Jhalugilang

Sekembalinya Steven Gerrard memang bikin fans  Liverpool girang. Seolah berhasil mendapatkan mantannya kembali setelah dipacari orang. Namun, kehadiran cowok mapan berusia 36 tahun itu malah bikin Liverpool kalah 2-3 dari Swansea City. Simbol kesialan kah?

Mutan kelas empat Liverpool itu memang sudah fix kembali ke kampung halamannya. Dia akan bergabung bersama staf pelatih Liverpool untuk menangani akademi klub tersebut. Gerrard akan menangani para brondong dan ABG labil di tim muda “The Reds“.

Lucunya, Liverpool malah menelan kekalahan hanya sehari setelah sepatu necis Gerrard menginjak kampung halamannya. Kemudian ramailah tetangga kiri-kanan yang semakin yakin jika Gerrard adalah simbol kesialan “The Reds“.

Mengapa sial? Mungkin memang sudah takdirnya begitu. Tapi jika lihat kembali tanda-tandanya bisa mengarah ke sana.

Kita semua tahu bahwa Gerrard sama sekali gagal mempersembahkan gelar Liga Primer buat Liverpool. Padahal, gelar itu dimimpi-mimpikan fans-nya yang merasa paling ganteng itu. Memang sih, Gerrard sukses memberikan gelar Eropa sampai tiga buah.

Semua pasti ingat bagaimana pemain asli Merseyside itu memberikan trofi Liga Champions usai menang super dramatis atas Milan bahkan mengalahkan drama Korea ‘Goblin’ sekalipun. Selain itu, Gerrard juga sukses memberikan gelar Piala UEFA tahun 2001 plus Piala Super Eropanya.

Di Inggris, gelandang keren ini mempersembahkan Piala FA dua kali, Piala Liga tiga kali, dan Community Shield satu kali. Sayangnya, selama 710 penampilan, 186 gol, dan 10 trofi bersama Liverpool, tak satupun ada yang namanya gelar ‘Liga Primer’ di sana. Tragis.

Gerrard hampir saja mendapatkan gelar tersebut jika saja dirinya tak kepeleset dengan kocak saat menghadapi Chelsea pada penghujung 2013/14. Para The Kop juga pasti masih ingat betul kejadian itu, di mana kaptennya malah memberikan gol pertama kepada Demba Ba.

Hasil gambar untuk gerrard slip
Insiden kepeleset ala Gerrard yang kemudian banyak gambar plesetannya. (101 Great Goals)

Gerrard memang tak sempurna menerima umpan dari Mamadou Sakho. Bola yang nakal itu ngeloyor saja melewati kaki Gerrard. Saat pemain bernomor delapan itu hendak mengambilnya kembali, dia malah kepeleset padahal tidak ada air atau kulit pisang di sana.

Gara-gara aksi tak pantas tersebut, Liverpool pun kalah 0-2 dan posisinya disalip Manchester City pada pekan berikutnya yang kemudian dengan enak meraih gelar juara. Padahal, fans Liverpool saat itu sudah ‘pede’ bisa meraih gelar pertamanya sejak 1990. Namun, sang kapten sendiri yang merusaknya.

Pasca-kejadian itu pun bikin Gerrard trauma berat, depresi, meski tak sampai bunuh diri di kosan. Mau makan tak enak, minum tak enak, baca komik One Piece juga tak enak. Rasanya seperti kehilangan keluarga katanya.

“Saya sudah bertahun-tahun tidak menangis, tetapi ketika itu, saya tidak bisa menahannya. Air mata terus mengalir. Saya merasa mati rasa, seperti kehilangan anggota keluarga. Jika teringat dengan momen itu, saya bahkan tidak sanggup mencoba untuk membendung tangisan senyap tersebut,” ujar Gerrard saat diwawancarai Dailymail dua tahun lalu.

Memang, tidak ada fans Liverpool yang menyalahkan Gerrard. Mereka malah berusaha menghibur dan menyemangatinya. Maklum, Gerrard bak cucu pertama yang selalu disanjung-sanjung.

“The Kop dan seisi Anfield menyanyikan lagu ‘You’ll Never Walk Alone’, tapi tetap saja saya merasa tak ada harapan tersisa dan rasanya hendak bunuh diri,” sambungnya.

Kesialan Berikutnya

Gerrard akhirnya memutuskan untuk berhenti berkarier di Liverpool pada 2015 dan pindah ke LA Galaxy. Momen perpisahan kemudian diisi dengan isak tangis. Sialnya, laga terakhir Gerrard menelan kekalahan dari Crystal Palace 1-3 di kandang sendiri. Ya, di kandang sendiri.

Laga terakhirnya di Anfield malah menelan kekalahan. Sungguh “terlalu” dengan gaya khas Rhoma Irama. Lucunya lagi, dia kalah dari Crystal Palace, tim yang bikin Liverpool disalip City pada musim 2013/14 yang hampir saja juara itu.

Jadi ceritanya, usai dikalahkan Chelsea 0-2 yang ada aksi kepelesetnya Gerrard itu, Liverpool masih mimpin klasemen. Pada pekan berikutnya tepatnya pekan ke-37, mereka menghadapi Crystal Palace dan sempat memimpin 3-0 sampai menit ke-78.

Namun, memang karena sudah takdirnya begitu, Gerrard tidak boleh dapat gelar Liga Primer, Crystal Palace entah gimana bisa menyamakan skor jadi 3-3 hanya dalam sisa waktu 12 menitan saja.

Gara-gara hasil itu, City kemudian sukses menyalip Liverpool dan mengamankan gelar juara pada laga terakhir pekan berikutnya. Kasihan banget, semua pemain Liverpool lemas, selemas-lemasnya mahasiswa negeri kena DO padahal wisuda tinggal sebentar lagi.

Mungkin masih banyak kesialan-kesialan Gerrard lainnya di Liverpool. Dan, bisa saja itu hanya sekadar kebetulan. Tak perlu dikait-kaitkan, hanya kebetulan.

Tapi anehnya, usai Gerrard meninggalkan Anfield, Liverpool yang diasuh Juergen Klopp saat ini malah bagus kembali. Seolah Dewi Fortuna yang turun dari langit-langit menghampiri kubu Liverpool.

Memang, saat ini Chelsea yang masih memimpin, tapi Liverpool juga punya kans besar untuk bisa jadi juara setelah melihat penampilan gemilangnya musim ini. Mereka merupakan tim paling produktif dengan 51 gol dan belum pernah takluk di Anfield sampai….. dikalahkan Swansea 2-3, tepat kembalinya Gerrard ke Anfield.

Kebetulan kah? Bisa saja, tetapi dengan beberapa tanda dan fakta yang sudah diuraikan dengan memakan waktu sampai satu jam itu, kesialan itu tak bisa dianggap remeh.

Liverpool tentu inginnya Gerrard sukses membina para ABG labil. Itu merupakan langkah awalnya berkarier sebagai pelatih. Setidaknya dia punya kans besar merasakan wangi-wanginya trofi Liga Primer ketika jadi pelatih nanti.

“Rasanya seperti menyelesaikan putaran dengan sempurna, kembali ke tempat di mana semuanya bermula. Saya rasa tak perlu menjelaskan lagi kepada orang-orang apa arti klub ini bagi saya. Ini soal apa yang bisa saya berikan untuk Liverpool. Peran ini memberikan saya peluang besar untuk belajar dan mengembangkan kemampuan sebagai pelatih,” ujar Gerrard, penuh kenangan.

Gerrard akan memulai pekerjaannya dalam fase pengembangan profesional para bibit-bibit muda. Dia dipercaya manajemen karena merupakan salah satu alumni jebolan akademi Liverpool dengan nilai summa cumlaude. 

Dia memang tipikal mahasiswa teladan saat masih di akademi Liverpool. Selalu datang sebelum dosennya ada di kelas, rajin kasih fotokopian ke teman-teman, tak pernah bolos, apalagi titip absen, sampai jadi ketua BEM.

“Jika saya harus memilih satu sosok yang mewakili karakteristik dan nilai-nilai yang ingin kami tanamkan di Kirkby, maka tentu saja Steven Gerrard. Melihat antusiasmenya menjadi bagian dari rencana besar kami adalah berita bagus bagi semua orang yang terhubung dengan klub ini,” kata bos Gerrard, Direktur Akademi Alex Inglethorpe, yang namanya susah dieja itu.

Semoga saja, pelukan mantan ini bukan sebuah tanda kesialan bagi si mantan. Kita doakan saja Gerrard dapat sukses bersama Liverpool nantinya. Al Fatehah!

Main photo credit: This is Anfield


paundraPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here