Mantan ujung tombak timnas Turki, Hakan Sukur, menceritakan kehidupannya setelah gantung sepatu dari dunia sepak bola. Sempat terjun ke dunia politik, hidup Hakan Sukur kini benar-benar terbalik hingga berakhir di Amerika sebagai supir taksi online.

Nama yang satu ini memang sangat familiar bagi remaja-remaja akhir Orba atau yang tumbuh di awal 2000-an.

Salah satu momen yang paling melekat di ingatan adalah ketika Hakan Sukur berhasil membawa Turki melaju ke semi final Piala Dunia 2002 di Korea Selatan-Jepang.

Meski disingkirkan Brasil, saat itu Turki akhirnya berakhir di peringkat ketiga usai menaklukan tuan rumah Korea Selatan.

Pada perebutan tempat ketiga, Hakan Sukur mampu mencuri perhatian usai mencetak gol tercepat sepanjang sejarah Piala Dunia.

Hanya 11 detik setelah peluit panjang dibunyikan, Hakan Sukur yang menjadi kapten Turki saat itu berhasil mencetak gol pembuka. Cepat sekali memang. Kalau download lagu dengan internet yang cepatnya 10mb/ detik sudah dapat satu lagu Dream Theater sepertinya.

Ujung tombak berusia 48 tahun itu pernah memperkuat Torino, Parma, inter Milan, hingga Blackburn Rovers hingga Galatasaray.

Usai memutuskuan gantung sepatu, bukannya bikin kontrakan atau pemancingan, Hakan Sukur mencoba peruntungannya dengan terjun ke dunia politik. Sapatauyaro mungkin.

Ternyata dunia politik justru membuat hidup Hakan Sukur terbolak-balik. Jika ia dulu dielu-elukan sebagai salah satu pahlawan sepak bola Turki, kini kehidupan Hakan Sukur berada di bawah gara-gara politik.

Sempat bergabung dengan partai AKP yang dipimpin Erdogan pada 2011, namun Hakan Sukur keluar dua tahun berselang setelah dilaporkan ada beda pendapat.

Pada 2016 silam, ia dituding menjadi bagian dari pergerakan Fethullah Gulen yang dituduh mencoba melakukan kudeta terhadap pemerintahan Recep Tayyip Erdogan.

Tudingan itu memaksanya mengasingkan diri dari Turki dan kini tinggal di Amerika Serikat. Sempat berbisnis restoran, Hakan Sukur kini menjadi sopir taksi online dan berjualan buku.

“Batu-batu dilempar ke butik milik istri saya, anak saya diperlakukan kasar di jalan. Saya menerima banyak ancaman untuk setiap komentar saya. Ketika saya pergi, mereka menahan ayah saya – dan semua yang saya miliki disita.

“Saya tidak punya apa-apa lagi di dunia ini. Erdogan mengambil semuanya dari saya; kebebasan saya, hak saya untuk menjelaskan, untuk mengekspresikan diri, untuk bekerja.”

“Jadi saya pindah ke Amerika Serikat, awalnya menjalankan cafe di California. Tapi orang-orang mencurigakan terus berdatangan ke bar. Sekarang saya mengemudi untuk Uber dan berjualan buku,” imbuhnya seperti dilansir dari Detik.

https://twitter.com/FootyAccums/status/1216997936879558658?s=20

Main photo: Twitter

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here