Pandemi COVID-19 memang membuat ekonomi jadi tak menentu. Usaha besar, kecil, menengah, apalagi mikro (UMKM) juga banyak yang terdampak. Tak terkecuali klub bola. Enak saja kau, Ferguso. Bukan berarti dirimu bisa aman ya, wahai klub bola.

Tak usah bahas di Indonesia, di Eropa dulu aja sana yang lebih sejahtera, banyak klub bola yang juga mulai merana. Sebagian ada yang memangkas gaji pemain untuk menyeimbangkan neraca keuangan.

Wajar saja, tanpa pertandingan otomatis klub juga tak ada pemasukan. Baik dari tiket pertandingan sampai kehilangan duit dari jatah hak siar. Bahkan di Liga Primer, klub-klub dipaksa membayar uang kompensasi dengan mengembalikan uang hak siar televisi hingga Rp6,8 triliun karena Liga Primer dianggap melanggar kesepakatan dengan pemegang hak siar.

“Apapun yang terjadi, akan ada kehilangan pendapatan signifikan bagi klub, itu tak terhindarkan,” kata Richard Masters, ketua eksekutif Liga Primer, dikutip Bolalob, Mei lalu.

Wajar kalau klub-klub bola saat ini tengah menggencarkan efisiensi. Caranya, ya potong gaji pemain. Bukan cuma karyawan hotel atau Ramayana saja yang dipotong gajinya atau dirumahkan, staf dan pemain bola juga sama.

Namun, di balik itu semua klub bola juga harus memutar otak untuk bertahan hidup. Selain potong gaji, beberapa klub mulai memanfaatkan kesempatan berjualan masker. Ya betul, bukan cuma UMKM di Indonesia saja yang jualan masker. Klub bola juga ikutan!

Jualan masker memang jadi profesi favorit di tengah pandemi ini. Semuanya pada jualan masker. Bukan cuma abang-abang di pinggir jalan, bahkan tetangga di komplek perumahan juga ada saja yang jualan. Yang biasanya jualan baju, sprei, sampai gorden di Tanah Abang, ikutan banting setir jualan masker.

Buktinya, pedagang masker yang pernah diwawancarai Tribunnews, bernama Ahmad Hardiman di link ini, dapat keuntungan sampai Rp1 juta per hari. Kalau sebulan dapat Rp30 jutaan lah kira-kira. Siapa yang enggak ngiler.

Maklum, masker sekarang banyak dicari karena makin kreatif modelnya. Dari yang polos, bercorak batik, superhero, sampai bergambar wajah juga ada. Hanya yang bergambar kelamin saja yang belum ada.

Makanya, klub bola memang ikut memanfaatkan itu. Bahkan wajib hukumnya. Hal itu sudah dilakukan beberapa klub seperti saudara sekontrakan yang kompak sekali, Milan dan Inter, Manchester City, dan Barcelona.

https://twitter.com/Inter/status/1270295829031669762

Sebagian dari mereka masih tahapan pre-order, alias stok barangnya belum ada mesti dipesan dulu. Namun, hal ini memang cukup menjanjikan.

Mari kita berhitung saja, harga masker yang Milan dan Inter tawarkan berkisar 6-7 euro (sekitar Rp95-110 ribuan). Barcelona rada mahal seharga 18 euro atau Rp291 ribuan. Sedangkan City paling mahal, seharga 23 dolar atau sekitar Rp322 ribuan.

Jika dibandingkan dengan jersey yang mereka jual, memang beda jauh. Harga jersey Milan kisaran 54 euro atau Rp850 ribuan. Inter dan City lebih murah di kisaran 25-35 euro atau Rp390-550 ribuan.

Namun ingat, biasanya fans beli jersey cuma sekali sepanjang musim. Kalau yang fanatik banget mungkin bisa beli tiga karena ada 3 model, kandang, tandang, dan jersey ketiga. Tapi umumnya orang cuma beli 1 selama semusim.

Sedangkan masker, orang mungkin bisa beli 2-3 sekaligus, apalagi kalau modelnya banyak. Tingkat pembelian kembali (repeat order) juga lebih besar. Soalnya masker kalau keseringan dipakai lama-lama bisa bulukan, rusak, dan sudah tak higienis lagi. Apalagi masker juga gampang hilang, suka nyelip di mana gitu atau ketinggalan saat lagi main ke rumah sodara.

Barcelona saja mengeluarkan peringatan kalau masker yang mereka keluarkan hanya bisa dipakai 40 kali. Jadi ada kemungkinan orang akan beli sampai 3 buah buat ganti-ganti. Kalau sebulan punya 3 buah, maka dia cuma bisa pakai masker selama 120 hari. Artinya setelah empat bulan mesti beli lagi.

Memang sih, mungkin dia punya masker corak lain, tapi yang namanya fans biasanya cenderung lebih senang pakai corak tim idolanya.

Ditambah lagi keunggulan dari masker, bisa dipakai di mana saja dan kapan saja, dan tetap bisa bangga pamer-pamer klub idolanya ke orang lain. Kalau pakai jersey kan enggak bisa sembarang waktu. Kalau lagi kerja yang mesti pake baju kantor atau baju lapangan, kalau lagi kondangan ya jarang ada yang pakai jersey kecuali yang urat malunya tipis.

Jadi ada kemungkinan orang kembali membeli masker itu sebulan atau dua bulan kemudian. So kira-kira selama setahun, orang bisa 3-4 kali membeli masker. Itu juga sekali beli bisa 2-3 buah buat cadangan.

Belum lagi ada juga yang buat ukuran anak-anak. Jadi kalau bapak-bapak ngefans banget sama Barcelona atau Inter, dia mungkin akan beli juga masker untuk anaknya. Apalagi kalau anaknya ada 11 kayak keluarga Halilintar.

Jadi kalau dihitung-hitung, jualan masker sebenarnya bisa lebih untung dibanding jualan jersey. Jika ditotal, mungkin seorang fans akan beli 10-12 buah masker dalam setahun. Nah kalau sebuahnya harga 100 ribuan, maka total masker yang terjual mungkin bisa sejutaan. Lebih tinggi daripada jualan jersey, bukan?

City yang jualannya lebih mahal juga harusnya bisa semakin gede lagi pemasukannya. Tapi perlu diingat, fans City juga kan enggak sebanyak yang lain. Jadi mereka sepertinya cukup ‘darwis’ alias sadar wisata kalau suka dijuluki “ghoib”.

Di sisi lain, jualan jersey dan merchandise lainnya juga enggak disetop. Tetap jalan terooos. Jadi dengan jualan masker akan menjadi sumber pemasukan baru.

Di Indonesia, Sriwijaya FC juga sudah merambah ke bisnis ini. Laskar Wong Kito juga turut jualan masker untuk para pendukungnya serta masyarakat umum. Bedanya kalau di sini, harganya jauh lebih murah yakni sekitar Rp15 ribu saja. Kalau dijual harga ratusan ribu ya enggak ada yang beli. Ada sih yang beli, tapi sedikit.

Yah, memang belum kelihatan hasilnya efektif atau enggak, karena klub-klub bola tersebut kan baru mau mulai. Belum bisa diukur juga apakah mampu membantu menambah pendapatan secara signifikan atau tidak. Baru kelihatan efektif hasilnya mungkin nanti saat akhir tahun.

Namun kalau dilihat-lihat, cukup menjanjikan. Kalau katanya Tokopedia, mulai aja dulu. Jadi harusnya klub-klub lain yang belum berjualan masker, bisa harus gerak cepat untuk jualan. Manfaatkan pemain-pemain tenarnya untuk ikutan promo maskernya. Kakaa… maskernya kakaa….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here