Prancis kembali gagal membalaskan dendam atas kekalahan yang diterima dari Turki pada pertemuan pertama. Pada laga yang digelar di Stade de France, “Les Blues” hanya bermain imbang 1-1 melawan tamunya tersebut.

Hasil dari laga tersebut membuat perebutan klasemen puncak grup H makin sengit saja seperti ujian masuk CPNS. Kedua tim kini sama-sama kedinginan karena berada di puncak dengan jumlah poin yang sama.

Turki dan Prancis memiliki 19 poin dari delapan laga, namun tim asuhan Senol Gunes berhak berada di urutan pertama karena unggul head to head atas Prancis. Pada pertandingan pertama, Turki menang dengan skor 2-0 atas anak asuh Didier Deschamps.

Tidak ada takutnya mereka memang lawan Prancis. Dari dua laga, Turki bahkan tidak kalah lawan juara dunia 2018 tersebut. Tak terkalahkan dari jawara Piala Dunia, Turki ini juara antar galaksi sepertinya.

Turki akan berjumpa dengan Islandia dan Andorra di dua laga berikutnya. Sementara Prancis akan bertemu Moldova dan Albania.

Pada jalannya laga tersebut, Turki bermain efektif sekali dengan hanya membuat satu tendangan ke gawang dari lima percobaan sepanjang pertandingan tapi berbuah gol.

Untung saja hanya bisa satu kali Turki menendang tepat sasaran. Bayangkan kalau mereka bisa membuat 2415 tendangan tepat sasaran. Bisa jebol papan skor saking banyaknya gol yang dihasilkan.

Berbanding dengan 23 peluang Prancis dengan sembilan yang tepat sasaran. Tapi hanya bisa mencetak satu gol juga.

Gol pemecah kebuntuan di laga itu sendiri baru tercipta di menit ke-76 melalui striker kawakan Olivier Giroud yang turun sebagai pemain pengganti. Dengan posturnya yang tinggi, bola-bola lambung memang jadi santapan Giroud.

Kalau di PES atau FIFA, kasih bola crossing juga pasti disambar. Giroud sendiri mencetak gol berkat umpan sepak pojok Antoine Griezmann.

Namun hanya lima menit berselang, Turki membalas Kaan Ayhan. Juga melalui bola mati, tendangan bebas Hakan Calhanoglu berhasil disundul Ayhan dari sisi gawang. Hingga laga usai, skor 1-1 tetap bertahan untuk kedua tim.  

“Mereka mencetak gol serupa seperti saat pertandingan pertama (di mana Prancis kalah 0-2 di markas Turki pada Juni 2019 lalu), yakni dari set-piece. Kami sungguh naif,” keluh Deschamps dikutip dari Suara.com.

“Bola-bola mati direct seperti ini, bola-bola atas, kami semestinya dapat menghindarinya. Kami kebobolan gol yang benar-benar tidak perlu. Di sisi lain, kami harus melakukan apa yang perlu kami lakukan terkait peluang-peluang yang kami ciptakan. Kami perlu lebih tajam di depan gawang,” lanjut Deschamps.

https://twitter.com/Squawka/status/1183847033460940800?s=20

Main photo: bleacherreport.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here