Leicester City melanjutkan kisah Cinderellanya di Liga Champions. Tim asal kota Leicester itu sukses menyingkirkan Sevilla dan lolos ke babak perempat final Liga Champions dengan agregat 3-2. Kiper Kasper Schmeichel jadi pahlawan setelah menepis dua penalti dalam dua laga. Mantap jiwa!

Tak ada yang menduga sebelumnya jika Leicester yang baru saja memecat Claudio Ranieri bisa berbicara sejauh ini di Eropa. Maklum, penampilannya di Liga Primer saja terhuyung-huyung macam driver Go-Jek kena lubang di jalan.

Leicester mampu memecahkan kebuntuan pada menit ke-27 lewat paha montok Wes Morgan. Bek berwajah ganteng medioker itu tak sengaja menyentuh bola hasil umpan deras Riyad Mahrez. Bola pun meluncur dengan senang hati ke gawang Sergio Rico.

The Foxes” kembali menambah keunggulan kali ini lewat kaki mulus Marc Albrighton yang menerima bola muntahan dari sundulan Adil Rami. Cukup dua kali kontrol pakai dada bidang dan kakinya, Albrighton melepaskan tendangan yang bikin Rico mematung seperti manekin Ramayana.

Pertarungan semakin pecah saat Samir Nasri terlibat perselisihan dengan Jamie Vardy. Vardy berusaha memancing amarah Nasri, yang akhirnya benar-benar terpancing. Wasit kemudian menghadiahinya dua kartu kuning kepada dua pemain yang terlibat.

Sayang, Nasri sebelumnya sudah terkena kartu kuning sehingga dia terpaksa keluar karena otomatis mendapat kartu merah. Kejadian itu bikin pemain Prancis tersebut kesal bukan kepalang. Dia sampai mau mengajak Vardy ribut dengan tangan hampa. Beruntung, warga sekitar mampu melerai mereka berdua. Perkelahian dapat terhindarkan.

Bermain dengan 10 pemain tak membuat Sevilla mengendur. Pada menit ke-80, “Los Blanquirrojos” sebenarnya punya peluang yang sangat bagus saat seorang pemainnya dijatuhkan Kasper Schmeichel di kotak terlarang.

Sayang beribu sayang, Steven N’Zonzi gagal memanfaatkan peluang emas bercampur tahta kerajaan itu. Tendangannya mampu diblok oleh Kasper, anaknya si Peter, mantan kiper Manchester United.

Hasil gambar untuk schmeichel sevilla
Ini dia peluang emas bertahta kerajaan milik Sevilla yang gagal dimanfaatkan N’Zonzi. (Source: Okezone)

Padahal, kalau penalti itu bisa gol, minimal mereka bisa main imbang dan bukan tak mungkin berlanjut ke tambahan waktu. Bukan kali ini saja, Sevilla juga gagal memanfaatkan penalti di leg pertama.

Waktu itu yang menendang Joaquin Correa tapi lagi-lagi digagalkan Kasper, si hantu baik hati. Andai mereka bisa mengubahnya menjadi gol, pasti mereka sudah melenggang cantik ke perempat final.

Pelatih Leicester, Craig Shakespeare, menyebut kemenangan ini layak diraih timnya. Bahkan, dia berandai-andai bisa meraih gelar Liga Champions musim ini. Memang tak ada salahnya untuk bermimpi. Asal jangan bergadang kalau tiada artinya.

“Kami layak untuk lolos. Kami baru saja menyingkirkan salah satu tim terbaik di Eropa. Kami juga berterima kasih pada Schmeichel. Ketika kami membutuhkannya, dia selalu muncul. Para pemain bisa bangga dengan diri mereka sendiri. Kami sangat luar biasa dari awal sampai akhir,” ujar pria yang namanya sok-sokan kayak sastrawan itu.

Jika William Shakespeare bilang bahwa “Apalah arti sebuah nama”, sama halnya dengan kondisi Leicester saat ini. “Apalah arti sebuah nama Leicester”, nama boleh biasa-biasa saja, diragukan di Liga Champions. Nyatanya sampai ke perempat final.

Main photo credit: Goal

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here