Premier League resmi menggunakan Video Assistant Referee (VAR) sejak dimulainya musim 2019/2020. Penggunaan VAR kerap terjadi pada sejumlah pertandingan sejauh ini. Meski demikian, adanya teknologi VAR justru membuat James Milner merasa sedikit gusar.

Sejumlah liga top Eropa telah menggunakan VAR terlebih dahulu. Hingga akhirnya Premier League sebagai salah satu kiblat sepak bola dunia juga ikut-ikutan menggunakan VAR.

Memang sejak pertama kali diperkenalkan, teknologi VAR cukup banyak menimbulkan perdebatan. Tak kalah sengitnya dibanding perdebatan Lucinta Luna sebenarnya laki-laki tulang lunak atau bukan.

Adanya teknologi seperti VAR disebut membuat sebuah pertandingan akan kehilangan esensi awalnya. Banyak yang menilai bahwa sepakbola justru makin seru dinikmati karena adanya bumbu-bumbu kontroversi dan kesalahan wasit.

Selain itu keberadaan VAR terkadang tak juga menghindari wasit dalam melakukan kesalahan dalam mengambil keputusan.

VAR juga seringkali membuat laga terhenti selama beberapa waktu. Hal ini jelas membuat tempo permainan yang sedang maksimum bisa jadi loyo lagi. Apalagi kalau sudah mencetak gol, tapi ternyata harus dicek VAR dulu.

Selebrasinya tentu sedikit kurang greget. Ada jeda-nya dulu macam menelpon pakai Whatsapp.

Salah satu perdebatan paling sengit sekaligus nirfaedah dapat langsung disaksikan DIMARI tinggal klik doang.

https://twitter.com/SkySportsNews/status/1188787935782420483?s=20

Penerapan VAR di kompetisi teratas Inggris ternyata juga dipandang kurang asyik oleh Milner. Ia cukup gusar nampaknya dengan adanya VAR karena dianggap mengganggu atsmofer pertandingan.

Milner juga mengakui dirinya merupakan sosok yang cukup konservatif (baca: kolot) macam orang-orang lain yang tidak setuju dengan penggunaan VAR.

“Saya sama sekali tak senang dengan itu semua. Mungkin itu hanya karena saya sosok yang kuno. Namun saya pikir masih ada terlalu banyak perdebatan terkait VAR,” ujar Milner dikutip dari Detik.

Dia lalu melihat kalau VAR turut merusak ‘orgasme’ ketika mencetak gol. Sudah selebrasi segala macam ternyata enggak jadi gol. Sama saja seperti sudah orgasme, enggak tahunya yang di-‘pakai’ ternyata bencong.

“Teknologi garis gawang adalah hal yang luar biasa – keputusan yang diambil cepat dan mutlak. Namun sangat sulit untuk VAR ketika keputusan yang diambil masih menimbulkan perdebatan dan merusak atmosfer pertandingan.”

“Anda mencetak gol, ada gemuruh yang luar biasa setelah itu. Namun kemudian itu berakhir dengan VAR. Kamu harus menunggu. Apakah itu gol?” keluhnya.

Milner juga menilai keberadaan VAR juga tak menghilangkan kontroversi dan perdebatan. Masalahnya, ada juga yang sudah pakai VAR tapi tetap saja wasit salah memberikan keputusan.

“Jika VAR menghapus kontroversi, saya akan mendukungnya 100 persen. Tapi VAR masih menimbulkan perdebatan. Saya berpikir banyak pesepak bola yang memiliki pendapat tak jauh berbeda dengan saya,” ujarnya menyimpulkan.

Main photo: @skysportsnews

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here