Oleh: Paundra Jhalugilang

Cerita kegagalan Italia ke Piala Dunia 2018 masih menghiasi pemberitaan terutama di media daring dan media sosial. Coba ketik saja “Italia” di Google, niscaya masih keluar beberapa berita kelanjutan gagalnya mereka hari Senin kemarin.

Cerita kegagalan Italia memang lebih seksi dibandingkan dengan kegagalan Belanda apalagi Chile. Padahal, Chile statusnya juara Amerika Selatan yang lebih bergengsi ketimbang Italia.

Namun, Italia seolah memiliki magis tersendiri yang membuat warga bola sedunia sangat menyayangkan kegagalannya. Pertama karena di Rusia nanti mereka tak punya permainan dengan pendekatan berciri khas Italia. Yakni Catenaccio atau pertahanan grendel.

Ya, permainan Italia memang tak secantik Raline Shah atau semenarik Via Vallen. Malah cenderung membosankan. Namun entah kenapa, mereka selalu ditunggu oleh publik sedunia.

Bisa jadi alasan pertamanya karena Italia biasanya diisi oleh pemain-pemain bintang yang melegenda. Selalu ada saja legenda-legenda kelas dunia yang datang dari Italia.

Pada skuat terakhir, masih ada nama Gianluigi Buffon, Andrea Barzagli, dan Daniele De Rossi yang jadi pahlawan Italia menjuarai Piala Dunia 2016. Lalu masih ada nama Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci yang kenyang dengan Scudettonya bersama Juventus.

Tentu saja menyisakan luka mendalam bagi mereka-mereka yang sudah pada tua itu. Terutama Buffon yang seharusnya bisa jadi Piala Dunia keenamnya, memecahkan rekor jadi pemain paling banyak ikut serta di Piala Dunia.

Apalagi, Buffon mengawali kariernya di timnas saat melawan Rusia di babak play-off di Moskow tahun 1997. Kalau saja bisa menutup karier dengan manis di Rusia. Pasti manis banget, manisnya melebihi manis kecap bubur.

Sayang, karier Buffon yang diawali di babak play-off, harus diakhiri juga di babak play-off. Gagal pula di Rusia. Malah mengakhirinya dengan tragis di San Siro, kontrakannya Milan dan Inter.

Apa daya, apa boleh dikata, tim berkostum biru kayak tabung gas itu gagal melangkah. Sebagian besar menyalahkan pelatih Gian Piero Ventura yang terlihat bodoh menjadi pelatih. Bisa iya, bisa enggak.

Namun, menyalahkan pelatih saja sepertinya masih kurang jika mau dianalisis kegagalan Italia. Masih ada lagi hal yang perlu dibenahi jika sepak bola Italia kembali sukses seperti dulu. Kira-kira apa saja itu? Mari kita simak, siapkan kuaci makanan setan yang tak akan bisa berhenti kalau belum habis.

Pelatih Kakek-Kakek, Medioker Pula

Tak bisa dipungkiri memang, kakek Ventura yang sudah berusia 69 tahun itu tampak bodoh saat menangani Italia. Segenap warga Italia beserta fans-nya di seluruh dunia, mungkin 95% tak ada yang mendukung Ventura untuk tetap jadi pelatih Italia. Kecuali keluarganya mungkin. Itu juga belum tentu.

Bahkan isu pemecatannya sudah ada ketika mereka dibantai Spanyol 0-3 beberapa bulan lalu. Kemudian dilanjutkan dengan hasil biasa-biasa saja lawan Israel dan Albania yang cuma menang 1-0. Lalu seri 1-1 dengan Makedonia.

Ventura banyak dapat kritikan karena strateginya yang kurang pas di mata Italia. Yakni dengan menerapkan formasi 4-2-4 di beberapa laga. Kemudian berubah lagi jadi entah apa, tak pernah ada pakem formasi yang jelas. Pokoknya labil banget kayak ABG baru kenal Brazzers dan BangBros.

Kemudian dia kerap menurunkan pemain yang tak sesuai dengan posisinya. Seperti Lorenzo Insigne yang merupakan pemain sayap, malah ditaruh jadi gelandang tengah ketika lawan Swedia di leg pertama. Alessandro Florenzi juga begitu, dipasang jadi gelandang padahal belakangan dia lebih familiar di sisi sayap.

Lalu pada leg kedua, si Opa malah menurunkan Manolo Gabbiadini ketimbang Andrea Belotti atau Eder di lini depan. Terus terang saja, Gabbiadini sepanjang kualifikasi juga jarang dipasang jadi starter.

Kemudian sepanjang laga, Ventura tanpa nama depan “Ace” itu seperti bingung harus berbuat apa. Beberapa kali tertangkap kamera cuma tepuk tangan saja, padahal tak ada perayaan ulang tahun di sana. Burung juga enggak ada.

Dia enggak pernah kelihatan memberikan instruksi atau ngomel-ngomel khas Antonio Conte, Fabio Capello, atau Massimilliano Allegri. Buktinya, permainan Italia tampak buntu kayak usus.

Menguasai permainan sih iya, tapi begitu-begitu saja. Berputar-putar di area lawan yang cuma menunggu datangnya bola. Tanpa kreasi dan inovasi. Kalah sama PlayStore yang sebentar-sebentar ngupdate sesuatu, ada saja inovasinya.

Yang lebih lucu lagi, beredar video De Rossi marah-marah ke staf pelatih karena memintanya bermain. Padahal, Italia sedang butuh gol. Buat apa memasukkan pemain bertipikal bertahan ketimbang memasukkan penyerang.

Ya pokoknya begitu deh. Kelakuannya bikin fans Italia gregetan. Ingin rasanya melilit leher Ventura dengan kabel casan Vivo.

https://twitter.com/Football__Tweet/status/930384225253064704

Jika dilihat secara statistik, performa Ventura sebenarnya tidak jelek-jelek amat. Persentase kemenangannya mencapai 56,25% dengan sembilan kemenangan standar, empat seri dengan ikhlas, tiga kekalahan yang tak bisa dipercaya.

Catatannya pun masih lebih bagus dibanding Conte yang hanya 50%, Cesare Prandelli (46,64%), bahkan Marcello Lippi di periode kedua (42,31%). Makanya dia masih pede dengan hasilnya itu.

Dalam beberapa laga uji coba pun, Italia sukses mengalahkan beberapa tim kuat macam Uruguay dan Belanda. Lalu mengimbangi Spanyol dan Jerman. Mereka cuma kalah dari Prancis saat pertama kali membesut Italia usai Piala Eropa 2016.

“Saya mempunyai hasil terbaik sebagai pelatih timnas Italia dalam 40 tahun terakhir. Saya hanya kalah dua kali dalam dua tahun,” ujarnya, dikutip Kompas.

Terserah lah dia mau ngomong apa. Toh, Italia sudah tidak lolos kecuali ada pemain Swedia yang tidak sah berlaga di play-off. Sehingga bisa digugat ke Komisi Disiplin dan kalah WO 0-3.

Entah apa alasan pemilihan Ventura di awal-awal oleh FIGC. Padahal Italia sangat kaya dengan pelatih-pelatih kelas dunia. Seolah tak pernah ada habisnya.

Tapi yang ditunjuk malah Ventura sang Detektif Hewan, pelatih minim prestasi yang bahkan cuma meraih gelar Seri C bersama Lecce. Sebuah gelar yang sangat hebat yang tak pernah dimenangkan oleh Lippi, Capello, dan Carlo Ancelotti sekalipun.

Tim-tim yang dilatihnya juga rata-rata tim gurem dan medioker. Seperti Venezia, Cagliari, Udinese, Messina, Verona, Pisa, Bari, dan yang agak mendingan itu Torino.

Tapi beredar kabar, Ventura ini gurunya Conte. Logikanya dengan memanggil sang guru harusnya bisa lebih jago daripada murid. Nyatanya tidak selamanya begitu. Kadang murid SD yang sukses jadi pejabat saat ini belum tentu merasa guru SD-nya lah yang berhasil mendidiknya.

Liga yang Kuno dan Kurang Kompetitif

Faktor kedua, adalah kompetisi liga yang masih memble. Usai Calciopoli 2006, Liga Italia Seri A sepertinya masih kurang greget dibanding liga-liga lain. Sebagai buktinya saja, mana ada yang mau menyiarkan siaran langsungnya di Indonesia dalam dua tahun terakhir.

Penghabisannya, fans Seri A ini cuma bisa streaming saja di Yalla-Shot atau langganan di Supersoccer dengan bayar Rp 50 ribu sebulannya. Sudah kena kuota, disuruh bayar lagi buat langganan. Belum lagi kalau streaming-nya macet. Amsyiong.

Mungkin Seri A ini sudah dianggap kurang seru dan kurang menjual. Belakangan cenderung kurang kompetitif. Juventus tampak perkasa sekali padahal enggak minum obat kuat alias tidak butuh investor kaya raya.

Enam musim dikuasai Juve tanpa sebab. Napoli dan Roma macam formalitas saja biar kelihatan ada lawan. Sisanya cuma jadi tim hore.

Ya, Italia boleh saja memiliki karakter permainan yang kuat. Main di Italia itu susah, banyak pemain yang gagal main di sana. Banyak pemain yang mengakuinya juga.

Main di Italia itu tak seperti di Inggris yang lebih banyak mengandalkan kekuatan skill dan fisik. Tapi juga membutuhkan otak untuk berusaha membongkar permainan rapat khas tim-tim Italia. Mainnya harus sabar, tapi juga harus kasih kabar biar pacar tidak marah.

Makanya, jarang ada pemain muda Italia yang langsung bersinar. Seri A memang bukan untuk darah muda yang nafsuan. Jarang ada bintang muda yang jago bahasa Italia bisa berkembang dengan hebat belakangan ini.

Permainan Italia yang cenderung membosankan mulai ditinggal oleh fans bola terutama anak-anak milenial zaman ‘now’. Sudah kuno, enggak enak disaksikan selain pendukung klub masing-masing. Mereka lebih suka melihat permainan modernnya Spanyol dan Inggris. Lebih seru ditontonnya, enggak bikin ngantuk.

Dan ternyata memang benar. Tim-tim Italia yang kurang modern ini ketinggalan zaman. Tak bisa bersaing di level Eropa baik Liga Champions dan Liga Europa. Terakhir kali tim Italia yang menjuarai kompetisi Eropa adalah Inter Milan pada 2010. Itu juga sebagian besar pemainnya diisi pemain asing.

Coba kita tengok Jerman yang sudah melakukan modernisasi permainan pada 2006. Jika sebelumnya permainan Jerman sangat monoton, beda saat ditangani Juergen Klinsmann dan Joachim Loew. Permainan Jerman lebih agresif dan atraktif. Hal itu diikuti pula dengan keberhasilan Bayern Muenchen beberapa kali ke final Liga Champions.

Juventus memang sempat masuk final dua kali. Tapi keok di tangan wakil Spanyol Barcelona dan Real Madrid. Judulnya tetap saja tidak juara. Roma dan Napoli yang belakangan masuk Liga Champions juga tampak tak berkutik dan tak mampu bersaing.

Begitu juga di Liga Europa. Dari Inter, Torino, Lazio, Atalanta, Fiorentina, bahkan Sassuolo sepertinya kok susah banget untuk mencapai perempat final. Lagi-lagi isinya tim dari Spanyol. Ya mungkin memang sekarang ini eranya Spanyol, tak lagi Italia yang sempat berjaya pada 1990-an.

Mungkin alasannya karena permainan yang belum dimodernisasi itu tadi. Bisa dibilang permainan Italia sudah ketinggalan zaman. Perlu di-upgrade atau di-update di Playstore.

Mungkin banyak yang protes kenapa enggak berani mengandalkan pemain muda? Tak semudah itu mempercayai pemain muda. Pemain muda Italia berbeda dengan pemain muda Inggris dan Spanyol yang lebih punya skill dan berkembang cepat.

Pemain muda Italia ini semacam punya barrier saat berkompetisi di Seri A seperti yang sudah dijelaskan tadi. Seri A bukan kompetisi mudah untuk pemain muda. Ketika dikasih kesempatan, mereka tak akan mudah membayarnya. Hanya pemain-pemain spesial saja yang bisa melakukan itu.

Minim Pemain Juara

Faktor ketiga berkaitan dengan faktor kedua. Memblenya kompetisi dalam negeri membuat klub-klub Italia ini gagal bersaing di level Eropa. Akibatnya, pemain-pemainnya juga tak banyak merasakan kerasnya berkompetisi di luar sana.

Di skuat Italia saat ini, mungkin cuma Buffon, Barzagli, Bonucci, Chiellini, De Rossi, dan Marco Veratti saja yang kelasnya sudah tingkat Eropa. Lima nama pertama tak usah ditanya, statusnya sudah jadi pemain juara bahkan juara dunia.

Lalu nama-nama lainnya, ada beberapa yang sudah mencicipi Liga Champions tapi tak berbuat banyak. Pasalnya ya itu tadi, langkah klub mereka cuma sampai babak awal saja. Tidak ada yang merasakan atmosfer perempat final apalagi final.

Sebut saja Lorenzo Insigne, Jorginho (Napoli), Stephane El Shaarawy, dan Florenzi (Roma) yang sempat mencicipi Liga Champions. Tapi hasilnya gitu-gitu saja. Mereka juga bukan pemain juara karena memang belum menjuarai trofi bergengsi apapun. Paling banter hanya Piala Super atau Coppa Italia.

Masih ada nama Davide Zappacosta di Chelsea dan Matteo Darmian di Manchester United. Tapi kedua pemain itu juga terhitung baru untuk berlaga di Liga Champions.

Sedangkan nama-nama seperti Belotti, Ciro Immobile, Eder, Antonio Candreva, Marco Parolo, dan lainnya, levelnya belum ke sana. Immobile boleh saja statistiknya mengagumkan. Bikin banyak gol dan assist dalam dua musim terakhir.

Tapi saat melawan Swedia kemarin, tak ada tajinya. Kebanyakan menunduk saja mungkin karena kurangnya menit bermain di level atas. Kegagalan di Borussia Dortmund seolah menjadi bukti bahwa Immobile ini bagusnya di kompetisi lokal saja. Levelnya saat ini ya cuma sampai di situ saja. Tidak lebih.

Fans Italia mungkin boleh membela pemainnya habis-habisan. Jorginho itu bagus, Federico Bernadeschi itu bagus, Belotti itu bagus, Parolo itu bagus, Florenzi itu bagus, dan sebagainya.

Mereka memang bagus. Tidak ada yang bilang tidak bagus. Tapi not good enough. Untuk saat ini mereka belum punya level bermain di kelas dunia. Belum memiliki mental juara karena belum menjuarai trofi bergengsi apapun.

Selain pemain-pemain dari Juve, memang tak ada pemain di skuat saat ini yang pernah mencicipi gelar Scudetto. Mungkin hanya Veratti bersama PSG-nya. Itulah kaitannya dengan faktor kedua, Juve yang terlalu dominan membuat liga kurang kompetitif sehingga kemampuan pemain nasional kurang merata.

Kalau memang hebat, mengapa hanya dua pemain Italia yang masuk nominasi pemain terbaik dunia. Itu juga Buffon lagi, Buffon lagi. Paling-paling diselingi Bonucci.

Ini yang membedakan dengan skuat juara Italia pada 2006. Di situ banyak pemain-pemain juara yang memang pernah merasakan gelar juara bersama klubnya. Bahkan sebagian sudah mencicipi final Piala Eropa 2000 yang kalahnya bikin nyesek. Tidak juara memang, tapi sudah merasakan atmosfer final tingkat tinggi.

Mulai dari Buffon, Fabio Cannavaro, Mauro Camoranesi, Gianluca Zambrotta (Scudetto bersama Juventus), Andrea Pirlo, Gennaro Gattuso, Alessandro Nesta (Scudetto dan Liga Champions bersama Milan), Francesco Totti (Scudetto bersama Roma), Alessandro Del Piero dan Angelo Peruzzi (Scudetto dan Liga Champions bersama Juventus).

Usia mereka memang ada yang sudah di atas 30 tahun. Ada juga yang sedang dalam masa keemasan. Tapi usia jadi kekuatan karena di situlah mereka punya kematangan bermain.

Itu berarti, usia pemain di Piala Dunia tak terlalu berpengaruh, yang penting adalah mental juaranya. Buktinya, Zinedine Zidane masih oke banget saat main di final 2006 meski usianya 34 tahun.

Lalu jangan lupa, Italia juga menjuarai Piala Eropa U-21 yang saat itu diperkuat Daniele De Rossi, Marco Amelia, Alberto Gilardino, dan Cristian Zaccardo. Keempatnya masuk skuat Piala Dunia 2006.

Silakan cek skuat Brasil, Spanyol, dan Jerman saat menjuarai Piala Dunia 2002, 2010, dan 2014. Materinya memang diisi pemain-pemain juara di level klub. Mental juara adalah kuncinya.

Hasil gambar untuk italy national football team 2017
Gimana? Masih enak zamanku toh?

Bagaimana dengan Swedia? Mereka tak punya pemain kelas dunia, mental juara pun rasanya cuma di level Liga Swedia saja. Tapi kok bisa menang? Ya namanya sepak bola pasti bisa saja menang. Tim medioker macam Genoa juga pernah membantai Juventus.

Jawabannya bisa dibilang keberuntungan. Swedia memang mainnya solid, tapi mereka juga beruntung karena mampu membuat gol rada untung-untungan di leg pertama. Sudah gitu beberapa peluang Italia juga meleset dan ada yang kena tiang.

Dan nyatanya Italia juga memang tak punya mental juara. Para pemain “Gli Azzurri” seolah dengkulnya sudah gemetaran duluan karena merasa berat buat mengejar ketertinggalan 0-1 di leg pertama. Dapat dilihat di awal permainan yang begitu terburu-buru.

Memang, pelatih di sini sangat berpengaruh andai bisa mengangkat mental mereka buat menang. Tapi jika para pemainnya sudah punya bekal mental juara, tanpa dikasih instruksi mereka akan cari sendiri bagaimana caranya mencetak gol dan menang ketika mengalami kebuntuan.

Apapun dan bagaimanapun caranya. Mereka akan membuat perbedaan, itulah bedanya pemain juara dengan pemain yang hanya sekadar bagus.

Contoh saja Indonesia. Meski pelatihnya sudah bagus banget, Luis Milla, nyatanya masih belum bisa juara. Ya karena mungkin pemainnya tak punya mental juara. Sudah jiper duluan pas mau main.

BACA INI JUGA DONG: Beda Pemain Juara, Bagus, dan Medioker

Sayangnya, pemain-pemain juara Italia lawan Swedia kemarin adanya di posisi bertahan. Yakni Buffon dkk itu tadi. Jadi biar pertahanannya hebat, kalau yang depan enggak punya mental oke untuk menang, ya susah juga.

Terlalu Pro-Asing

Bukan pemerintah Indonesia saja yang sibuk mencari investasi dari asing. Klub-klub Italia juga sama. Mereka seolah sudah tak lagi mempercayai kekuatan tenaga kerja lokal.

Ketiga tim yang berlaga di Liga Champions musim ini tak punya banyak pemain lokal. Pasalnya, itu memengaruhi mental bertanding seperti yang sudah dijelaskan. Mereka lebih percaya dengan kekuatan asing untuk bersaing di pentas Eropa.

Juventus sebagai sang juara dan tauladan cuma punya sembilan pemain Italia saat ini. Bahkan cuma tiga orang saja yang jadi starter inti. Padahal, Juve termasuk klub yang dikenal sangat “Italia” alias gemar memakai pemain-pemain lokal.

Napoli cuma punya tujuh pemain lokal. Itu pun Jorginho statusnya pemain Brasil yang dinaturalisasi. Macam di Indonesia saja sedikit-sedikit dinaturalisasi.

Roma bahkan lebih parah. Masak cuma punya enam pemain lokal itu juga termasuk El Shaarawy yang asli Mesir. Hadeuh!

Lalu siapa lagi? Lazio? Cuma punya delapan pemain lokal. Fiorentina? Cuma punya delapan. Inter? Sesuai namanya “Internazionale” jangan harap punya banyak pemain Italia karena sejarah klub mereka memang didirikan untuk pemain-pemain asing. Saat ini cuma punya delapan pemain lokal, itu termasuk Eder yang juga dinaturalisasi.

Yang rada banyak itu cuma Milan. Mereka punya 16 pemain asli Italia, setidaknya masih melebihi jumlah pemain asing di timnya. Tapi, seperti diketahui Milan belakangan ini statusnya lagi asyik jadi medioker. Jadi berharap pada mereka macam berharap Setya Novanto dipenjara gara-gara korupsi.

Akibatnya, timnas Italia kesulitan mencari pemain-pemain bertalenta lokal dan bermental juara. Malah, FIGC cenderung memakai cara instan kayak Indomie dengan menaturalisasi beberapa pemain seperti Eder, El Shaarawy, Gabriel Paletta, sampai Emerson.

Pilihannya memang tak banyak. Jika dibandingkan zaman ‘past’, mereka gampang banget nyomot pemain-pemain dari Juve, Milan, Parma, Lazio, Roma, bahkan Inter. Isinya masih banyak pemain Italianya dan statusnya main di klub besar yang langganan main di kompetisi Eropa. Mental bertandingnya sudah teruji lah.

“Tanda-tandanya dimulai sekitar lima hingga enam tahun yang lalu saat klub tidak banyak menggunakan tenaga lokal. Tapi pada saat itu, tidak banyak yang sadar,” kata pelatih timnas U-21, Luigi Di Biagio.

Artinya, baik FIGC dan klub-klub Italia saat ini juga perlu mengevaluasi diri. Kalau mau membentuk timnas yang kuat, sebaiknya mulai dari sekarang mempercayai lagi talenta-talenta lokal secara perlahan.

Sulit memang, tapi tak ada salahnya dicoba. Buktinya sudah muncul nama seperti Gianluigi Donnarumma dan Daniele Rugani yang mulai masuk skuat utama di Milan dan Juve.

Sudah Takdir

Faktor terakhir sepertinya tak bisa diganggu gugat. Garis takdirnya memang sudah begitu, Italia tidak lolos ke Piala Dunia 2018. Entah mengapa, tim Italia ini semacam jauh dari keberuntungan. Mungkin kurang doa, kurang sedekah, atau belum mandi wajib. Entahlah.

Dari segitu banyaknya tim, mengapa Italia ditakdirkan satu grup dengan Spanyol di babak kualifikasi. Italia memang statusnya ada di pot kedua karena buruknya penampilan mereka di Piala Dunia 2014 sehingga peringkat FIFA melorot ke posisi 17 per 2015.

Nah bicara buruknya performa Piala Dunia 2014, ini juga lagi-lagi kurang beruntung. Entah gimana Italia segrup dengan Inggris dan Uruguay. Dua tim yang pernah jadi juara dunia.

Sama dengan kualifikasi, kenapa kocokannya jatuh ke grupnya Spanyol. Kenapa enggak Rumania atau Wales gitu yang lebih gampang. Tapi ya itu tadi, sudah takdirnya begitu.

Kemudian ada faktor perpecahan di lini belakang Italia di mana Trio BBC ini akhirnya berpisah. Kabar perselisihan di Juventus tampaknya berpengaruh di timnas. Chiellini dan Barzagli tampak sebal dan memusuhi Bonucci usai keonaran yang dibuatnya pada final Liga Champions.

Usai bercerai, Italia pun diacak-acak dijadikan martabak telur oleh Spanyol 0-3. Chiellini, Bonucci, dan Barzagli sepertinya masih rada awkward. Mungkin butuh waktu rada lama untuk bisa kembali kompak.

Lalu dua laga di play-off juga bisa dibilang jauh dari keberuntungan. Di leg pertama, Swedia bikin gol untung-untungan saat tendangan Jakob Johansson terbentur pemain Italia sehingga berbelok arah. Buffon sudah kadung jatuh tak sempat menggapainya.

Lalu beberapa peluang dari Italia tak ada yang masuk. Sekali kena tiang. Di leg kedua juga begitu, beberapa kali peluangnya masih bisa ditepis kiper lawan. Apes pokoknya, apes.

Begitulah akhir dari cerita yang panjang ini. Ternyata memang masalahnya sangat pelik dan saling berkaitan. Bagaimana mau dapat pemain mental juara dan kelas dunia kalau klub-klubnya masih bermain di level standar, kompetisinya timpang, belum bisa bersaing di Italia apalagi di Eropa.

Sekalinya mau bersaing maka dibelilah pemain-pemain juara kelas dunia dari negara lain. Tapi jadi serba salah, malah dibilang pro pemain asing yang mematikan kesempatan pemain lokal untuk berkembang.

Tapi pemain lokalnya juga enggak bagus-bagus amat mainnya, enggak pede. Dikasih kesempatan tapi tidak dibayar dengan baik.

Sekalinya dapat pemain lokal berpotensi, klubnya gagal di babak awal kompetisi Eropa lantaran tak mampu bersaing itu tadi. Jadinya tak punya banyak kesempatan untuk merasakan atmosfer bermain di Eropa lebih jauh.

Lalu saat masuk timnas dengan harapan main di level internasional, Italianya segrup dengan tim-tim kuat yang levelnya di atas mereka. Alhasil, mau mentas jadi susah.

Yah, memang saat ini bakatnya pemain Italia tak seperti dulu lagi. Tak ada Buffon, tak ada Totti, tak ada Inzaghi, tak ada Del Piero, tak ada Nesta, tak ada Maldini, tak ada Materazzi, dan sebagainya. Inilah yang dinamakan krisis.

Tapi penggemar Italia boleh berharap timnas U-21 yang kini terlihat ada potensinya. Seperti Simone Scuffet, Rolando Mandragora, Manuel Locatelli, Federico Chiesa, Riccardo Orsolini, dan Patrick Cutrone.

Ada banyak nama pemain muda di timnas sekarang yang juga berpotensi jadi pemain berkelas seperti Donnarumma, Andrea Conti, Leonardo Spinazzola, Roberto Gagliardini, Verratti, Mattia Caldara, Rugani, Bernadeschi, dan Belotti. Memang saat ini belum mentas saja.

Semoga saja bisa berkembang menjadi pemain hebat. Lalu gairah sepak bola Italia kembali lagi seperti dulu.

Main photo: Sports Illustrated


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here