Oleh: Paundra Jhalugilang

Pentas Euro 2020 yang diselenggarakan 2021 telah usai. Italia keluar sebagai juaranya setelah mempertontonkan penampilan seru selama turnamen. Namun siapa sangka, Juventus lah yang jadi sorotannya.

Bukan, bukan karena Italia banyak dihuni pemain Juventusnya. Itu bahasan lain. Namun karena di pentas Euro ini, para pemain Juventus benar-benar menunjukkan performanya. Dari yang jelek sampai yang bagus, dari yang jadi badut sampai jadi pahlawan.

Jeleknya bukan sekadar jelek, tapi blunder dan itu membuat timnya menemui kegagalan di Euro ini. Yang mainnya bagus, benar-benar bagus. Sampai ada yang jadi top skor dan man of the match di final.

Sesuai julukannya, “badut Eropa”, Juventus benar-benar menampilkan para badutnya di Euro. Tujuannya untuk memberikan hiburan memalukan ketimbang di-elu-elu-kan.

Diawali dari Merih Demiral yang jadi sorotan utama lantaran menjadi pencetak gol pertama di Euro 2020. Namun bukan ke gawang lawan, melainkan ke gawang sendiri. Timnya Demiral, Turki, juga jadi tim terburuk di Euro karena tidak mendapat satu poin pun dengan rincian hanya 1 gol dan menderita 8 kebobolan.

Badut kedua diperagakan kiper utama Juventus, Wojciech Szczesny, yang membela Polandia. Di laga pertama, beliau melakukan gol bunuh diri. Penyakitnya kebobolan tiang dekat terjadi, tendangan Robert Mak tidak bisa ditepisnya. Kemudian mengenai tiang dan memantul ke tangannya sehingga menghasilkan gol bunuh diri.

Szczesny juga gagal membawa Polandia lolos ke babak berikutnya dengan kebobolan enam gol.

Badut ketiga adalah Matthijs De Ligt. Tampil solid dan luar biasa selama fase grup bikin Belanda jarang kebobolan. Belanda kebobolan ketika De Ligt tidak bermain akibat cedera.

Sangat disayangkan, pada babak 16 besar dia melakukan kesalahan fatal. Dia memakai topeng badut untuk memberikan hiburan kepada rakyat Ceko. Sebuah aksi handball dengan sengaja dilakukan dan membuatnya kartu merah.

De Ligt memang agak kurang cerdik sedikit. Dengan jelasnya dia menghentikan bola pakai tangan, dikata sedang main basket kali ya.

Gara-gara kartu merah yang diterima pada menit ke-55, Belanda pun pincang. Mereka kebobolan tak lama setelah itu dan akhirnya kalah 0-2 lewat gol Tomas Holes dan Patrik Schick. Sudah jelas, penyebab utama kegagalan Belanda adalah kartu merah De Ligt.

Badut terakhir adalah Alvaro Morata. Badut yang ini memang sedikit epic. Baru saja dipuji jadi pahlawan saat menundukkan Kroasia, tapi jadi biang kegagalan saat melawan Italia.

Morata mencetak gol krusial di babak ekstra lawan Kroasia usai dipaksa imbang 3-3. Morata mencetak gol pengubah laga menjadi 4-3 lewat gol cukup berkelas. Hingga akhirnya Spanyol menang 5-3.

Di semifinal lawan Italia, Morata pada awalnya juga jadi pahlawan Spanyol saat mencetak gol penyama kedudukan. Tak lama masuk lapangan, dia bikin gol cukup enak dilihat.

Namun, saat adu penalti, Morata jadi biang keladi kegagalan negaranya. Tendangan penaltinya gagal dan bikin Spanyol jadi kalah. Percuma dia masuk ke lapangan kalau begitu. Mending kalah 0-1 sekalian, enggak usah capek-capek sampai babak adu penalti.

Demiral, Szczesny, De Ligt, dan Morata adalah kumpulan badut dari Juventus yang menghibur lawannya. Tapi di sisi lain, Juventus juga menghadirkan gelar Golden Boot dan pahlawan untuk negaranya.

Image

Cristiano Ronaldo didaulat sebagai pencetak gol terbanyak Euro dan berhak meraih Golden Boot berkat sumbangan 3 gol penaltinya selama turnamen. Ya meskipun penaltinya banyak, tapi tetap saja dia dapat Golden Boot karena punya 1 assist.

Ronaldo juga mencetak lima dari tujuh gol yang dicetak Portugal. Artinya kalau tidak ada Ronaldo, belum tentu Portugal lolos ke babak berikutnya. Damage-nya masih gede.

Dari segi kepahlawanan, khususnya Italia, Juventus menyumbang Federico Chiesa, Leonardo Bonucci, Giorgio Chiellini, dan tentu saja Federico Bernardeschi. Keempatnya memberikan andil dalam gelar juara Italia.

Chiesa jadi pahlawan dua kali saat mengalahkan Austria dan Spanyol. Ketika diimbangi 0-0 lawan Austria di babak normal, Chiesa masuk sebagai pemain pengganti dan memecah kebuntuan. Italia pun menang 2-1.

Lawan Spanyol, Chiesa juga memecah kebuntuan dengan membuat gol cantik placing R2+Kotak. Meski disamakan Morata, akhirnya Italia pun menang adu penalti. Chiesa pun mendapatkan gelar man of the match sampai dua kali. Plus, masuk dalam Best XI juga.

Bonucci, jelas jadi pahlawan Italia di final. Tampil solid dari awal turnamen, jadi pahlawan di penghujung turnamen. Kalau tidak ada golnya, sudah pasti Italia kandas menjadi juara.

Pada dua kali babak adu penalti, Bonucci juga menyelesaikan tugasnya dengan baik. Sangat sempurna. Sama halnya dengan Bernardeschi. Masuk sebagai pemain pengganti dan ditugaskan jadi algojo penalti, dua-duanya bisa masuk dengan tenang. Bahkan waktu lawan Spanyol, jadi penalti terbaik bagi timnya.

Juventus menjadi klub yang paling banyak menyumbang pemain di tim yang menjuarai Euro 2020. Yakni empat pemain itu tadi.

Tak hanya itu, Juventus juga menjadi klub yang paling banyak menyumbang gol di Euro dengan 12 gol. Unggul jauh dari Manchester City dan Inter Milano (8 gol), seperti yang tertera pada gambar di atas.

Ke-12 gol itu dicetak Ronaldo (5 gol), Morata (3), Chiesa (2), Ramsey (1), dan Bonucci (1). Benar-benar produktif sekali dari lini belakang sampai depan turut menyumbang gol.

Itu belum termasuk gelar man of the match. Juventus memiliki 4 pemain yang menjadi man of the match, yakni Chiesa (2x), Bonucci, dan Ronaldo. Paling banyak di pentas ini ketimbang tim lain.

Jadi kesimpulannya, memang Euro 2020 ini jadi panggungnya para pemain Juventus. Panggung untuk menjadi badut sekaligus jadi pahlawan timnya.

Mengutip dari tweet Gerry Sewow (@ijo23), “Juventus memang harus imbang. Juventus itu hitam (yin) dan putih (yang), simbol keseimbangan. Ya ngebadut sama jd pahlawan di Euro 2020 inilah aktualisasinya.”

Kalau dipikir-pikir betul juga. Di satu sisi Juve sering mengharumkan nama Italia lewat prestasi dan pemain-pemainnya, tapi juga sering membuat malu nama Italia. Entah kegagalan di UCL atau kasus skandal 15 tahun lalu. Ah sudahlah.

Yang pasti, Juvendut ini luar biasa!


This image has an empty alt attribute; its file name is Screen-Shot-2021-07-02-at-16.01.31.png

Paundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here