Selain Pepe yang sering bermain kasar, bisa jadi cedera adalah momok yang sangat menakutkan bagi para pemain sepak bola di atas lapangan. Banyak pemain bagus yang gagal bersinar karena lebih sering dibekap cedera. Sebut saja beberapa diantaranya Sebastian Deisler, Owen Hargreaves, Jonathan Woodgate, dan masih banyak lagi, silahkan cari sendiri di Google.

Cedera memang tidak bisa dianggap remeh. Tetapi sering kita saksikan apabila terjadi momen benturan antar pemain di lapangan, pertolongan pertama yang diberikan biasanya adalah dengan disemprot. Tinggal semprot, keluar asap, kemudian beberapa detik kemudian sang pemain bisa berlarian ke sana ke mari dan tertawa.

Jelas bukan pilox yang disemprot karena yang datang adalah dokter bukan bomber lengkap dengan masker dan hoodie. Bukan juga obat nyamuk semprot yang bisa mengusir semut namun tidak bisa mengusir kesemutan.

Benda yang disemprotkan adalah pereda rasa sakit yang bernama etil klorida. Jangan diganti huruf ‘e’-nya menjadi ‘i’. Etil atau Ethyl Chloride adalah obat yang digunakan untuk mencegah rasa sakit yang disebabkan oleh suntikan atau operasi bedah minor. Etil klorida juga bisa digunakan untuk meringankan nyeri otot akibat keseleo atau terkilir ketika olahraga.

Hal inilah yang sering dimanfaatkan bagi para tim medis sepak bola untuk sebagai penanganan cepat ketika sang pemain berguling-guling di lapangan entah kesakitan atau sekadar mengulur waktu.

Efek tersebut dapat dicapai sebab etil klorida merupakan zat kimia yang sifatnya mendinginkan dan menyebabkan mati rasa. Sehingga cedera tidak terlalu terasa sakit untuk sementara. Makanya, etil ini membuat kulit jadi berasa dingin. Tapi bukan berarti bisa dipakai saat kepanasan juga.

Entah apakah bisa digunakan untuk orang yang sedang patah hati. Disemprotkan ke dadanya, lalu jadi mati rasa. Sebaiknya jangan diikuti. Juga buat yang sedang pusing belajar matematika lalu ingin pusingnya hilang, sepertinya sama saja tidak berguna.

18520956_401
dw.com

 

Etil yang biasa digunakan pada sepak bola biasanya berbentuk kaleng semprot (aerosol) yang cara pakainya langsung disemprotkan ke bagian tubuh yang sakit, bukan ke dalam mulut atau telinga. Jarang ada etil yang berbentuk cair lalu dimasukkan ke dalam kaleng cat.

Etil hanya bisa disemprotkan ke bagian kulit saja. Tidak boleh disemprotkan ke luka terbuka dalam atau bagian selaput lendir seperti halnya hidung dan mulut. Menghirupnya saja tidak boleh, apalagi dengan sengaja.

Hanya pemadat alias junkie saja yang doyan melakukan hal berbahaya seperti itu. Otak bisa jadi bubur kalau sering melakukan tindakan tersebut.

Walaupun sepertinya mudah digunakan dan kelihatannya gampang, tetapi pemakaian etil harus benar-benar tepat dan tidak boleh sembarangan atau sesukanya. Harus tim medis profesional yang bisa melakukan tindakan menyemprot etil.

Penyemprotan etil harus dilakukan dengan jarak tertentu dari kulit yang telah dibersihkan. Tidak harus dilakukan dengan jarak 10 km karena semprotan tidak akan sampai jika sejauh itu. Bahkan blangwir saja juga tidak mampu menyemprotkan air sejauh itu.

Pada umumnya etil tidak memiliki efek samping yang serius jika digunakan dengan tepat. Pemain bisa langsung lanjut bermain setelah disemprotkan obat. Namun pemeriksaan dan perawatan lanjutan perlu dilakukan setelah pertandingan. Sejauh ini belum ada laporan setelah disemprot etil lalu mengalami mutasi gen dan berubah jadi mutan.

Meski pada beberapa kasus penyemprotan etil menyebabkan reaksi alergi seperti pusing, perubahan warna kulit meski tidak sampai seperti bunglon, juga infeksi di bagian dalam yang disemprot. Namun tidak semua orang mendapat efek seperti itu sehingga etil masih sering digunakan di dunia olahraga.

Sumber: hellosehat.com

Main photo: latimes.com 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here