Generasi milenial mungkin tak mengenal Karl-Heinz Riedle, pahlawan Borussia Dortmund di final Liga Champions 1997. Bagaimana tidak kenal, lahir saja mungkin belum. Sebagian lagi juga masih ada yang asyik main mobil-mobilan.

Bagi generasi 80-90-an, pasti tahu pemain yang satu ini. Minimal pernah dengar selentingan-selentingannya. Selain menjadi penggawa Jerman saat menjuarai Piala Dunia 1990, dia membuat dua gol ke gawang Juventus di final 1997 yang bikin Juventini menangis semalaman.

Dua gol Riedle mengantarkan “Die Borussen” meraih juara Liga Champions pertama kalinya dan satu-satunya sampai sekarang. Mereka menang 3-1 di mana satu golnya lagi dilesakkan Lars Ricken yang terkenal dengan first touch goal-nya.

Ceritanya, Riedle sedang mengunjungi Indonesia beberapa hari belakangan. Warga asli Jerman itu sedang melakukan promosi klubnya itu agar makin besar lagi awareness-nya di Indonesia. Bolatory mendapat kesempatan wawancara ekslusif bersama Riedle yang fasih sekali bahasa Jermannya.

Riedle4
Riedle bersama dua kru Bolatory yang payah-payah.

Dalam kesempatan wawancara tersebut, Riedle mengaku sudah kedua kalinya mengunjungi Indonesia. Bapak berusia 52 tahun itu pernah mengunjungi negara kita tercinta yang warganya suka pada sok tahu ini tahun lalu.

Dia mengaku tak banyak tahu soal Indonesia. Namun, Riedle sudah memprediksi kalau Indonesia adalah negara yang indah dengan penduduknya yang baik hati dan ramah-ramah.

Bagaimana tidak baik dan ramah, mau parkir saja ada yang parkirin. Mau putar balik sudah ada yang setop-setopin mobil dari arah berlawanan. Mau makan-minum sudah banyak di pinggir jalan, tak perlu ke mal.

“Saya tahu Indonesia dari rekan saya, dia orang Singapura. Dia tahu banyak hal dan memberitahu saya bahwa Indonesia adalah negara yang sangat indah. Ekspektasi saya saat itu adalah antusiasme sepak bola yang luar biasa dan ternyata benar. Di sini sangat antusias dan semua orang Indonesia sangat baik dan ramah,” katanya.

Bicara soal Indonesia, Riedle mengaku senang dengan masakan-masakan di sini. Mungkin berbeda dengan masakan Jerman yang serba instan. Sebentar-sebentar roti, sebentar-sebentar bir. Mana haram pula.

Kalau di Indonesia, banyak bumbu yang bisa bikin lidah menari-nari. Makanya, Riedle suka sekali dengan Sate Ayam. Ternyata sama seperti Barrack Obama yang juga menggemari Sate Ayam ketika ke Indonesia dulu. Selain Sate, dia juga suka Ayam Bakar.

“Di sini saya suka makanan-makanannya, beraneka-rasa. Kalau ditanya, saya sangat suka sate ayam dan ayam bakar,” sambung pria berambut rada pirang seperti terkena mentega cair itu.

Bukan cuma Obama, Suzanna juga senang makan sate ayam. Bahkan sampai 200 tusuk. Setelah itu minta soto. “Beli sate, 200 tusuk makan di sini!” ujar Suzanna dalam film Sundel Bolong.

Takut Penalti

Sebagai seorang striker yang hobinya mencetak gol, Riedle mengaku sangat takut dengan penalti. Dari semua situasi sulit yang dihadapi sebagai striker, penalti-lah yang paling menjadi momok menyeramkan. Dia pernah menjadi algojo penalti saat semifinal Piala Dunia 1990 lawan Inggris. Beruntung, Riedle sukses menjalankan tugas.

“Penalti adalah hal tersulit yang saya hadapi sebagai seorang striker. Itu adalah situasi yang sangat sulit. Saya pernah menjadi algojo saat di semifinal Piala Dunia lawan Inggris, itu benar-benar situasi yang penuh tekanan,” sambung Riedle dalam bahasa Inggris.

Saat ditanya mengenai bek dan kiper tersulit yang dia hadapi sepanjang kariernya, bekas pemain Lazio dan Liverpool itu menjawab, “Marcel Desailly dan Oliver Kahn. Entah mengapa kedua pemain itu benar-benar tangguh.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here