Oleh: Labieb Sadat

Perhelatan UEFA Champions League musim 2016/2017 akan mencapai puncaknya pada akhir pekan ini. Bertempat di Cardiff, Wales, dua tim terbaik Eropa akan saling sikut dan jegal. Wakil Italia Juventus akan menantang juara bertahan tahun lalu asal Spanyol, Real Madrid.

Bukan tanpa asa mereka berhasil menapaki partai puncak di Eropa musim ini. Berbekal komposisi terbaik masing masing tim mereka juga berhasil keluar sebagai penguasa di liganya masing-masing.

Menilik performa Juventus musim ini, tidak adil rasanya kita tidak melihat suksesor Antonio Conte dari 3 tahun lalu. Ya, Massimilliano “Max” Allegri berhasil membawa Juve ke papan atas Eropa lagi dalam beberapa musim belakangan.

Bukannya melupakan sukses Conte yang berhasil membawa Juventus unbeaten 49 pertandingan atau meraih 3 gelar juara liga dalam 3 tahun berturut turut. Tapi Allegri berangkat dari ketidakpercayaan beberapa pihak, ternyata berhasil menjawab kritik-kritik pedas tersebut dengan raihan yang luar biasa.

Pada tahun awal Allegri melatih Juve, beliau berhasil membawa sepasang gelar yaitu Scudetto dan Coppa Italia. Bahkan hampir saja merebut gelar juara Liga Champions pada akhir musim 2014/2015. Andai Barcelona tidak memupus harapan anak-anak Turin mencium ‘Si Kuping Besar’ yang sudah lama tak mereka raih sejak zaman Soeharto.

Musim berikutnya performa mantap tetap diperlihatkan Juventus di bawah tangan dingin rasa es batu yang masih bentuk balok Max Allegri. Scudetto berhasil diamankan kembali begitu juga Coppa Italia.

Sayang langkah Juventus harus kandas di babak 16 besar. Juventus terpaksa bertemu raksasa Jerman, Bayern Munchen. Aggregate 2-4 di Allianz Arena merangkum akhir perjalanan Allegri kala itu.

Musim ini, berbekal skuat yang bisa dikatakan lebih komplit, Allegri pantas berbangga hati namun tidak sombong dan rajin menabung. Nama-nama beken macam Gonzalo Higuain, Miralem Pjanic serta anak berbakat asal Brazil, Dani Alves berhasil menjadi pilar penting Juventus. Menyempurnakan kedalaman skuad “I Bianconerri dalam beberapa tahun belakangan.

Nyatanya hal tersebut memang terbukti, Scudetto serta Coppa Italia kembali mereka dapatkan melalui agresivitas serta kolektivitas khas permainan Juve sejak kembali dari masa terpuruknya. Apalagi banyak pihak yang berharap tahun ini mereka berhasil mendapatkan rekor Treble Winner memecahkan catatan sejarah Inter Milan.

Bicara “Los Merengues“, Real Madrid dalam dua tahun belakangan rasanya sulit tidak mengedepankan dua nama besar. Ya, Zinedine Zidane serta Cristiano Ronaldo adalah elemen penting klub kebanggaan ibukota saat ini.

Bagaimana tidak, Zidane yang datang ke Santiago Bernabeu awal tahun 2016 langsung berhasil mendaratkan Trofi Liga Champions ke-11 mereka sepanjang sejarah. Perjalanan singkat tersebut bukan tanpa alasan.

Sang Entrenador adalah mantan pemain Madrid versi “Los Galacticos” jilid pertama di bawah presiden Florentino Perez saat itu. Wajar pria berdarah Aljazair mengenal betul kultur serta sejarah Real Madrid tercinta.

Tahun ini, kesuksesan juga kembali direbut Zidane bersama Sergio Ramos dkk. Juara Liga Spanyol kembali mereka dapatkan setelah terakhir mereka dapatkan pada tahun 2012. Menjadikan mereka sebagai klub paling sukses di Spanyol.

Bicara pemain andalan, rasanya tidak muluk-muluk mengangkat nama beken Ronaldo yang makin hari makin terlihat tampan seperti pemain sepak bola. Ujung tombak sekaligus mesin gol Madrid ini sudah menjadi pencetak gol terbanyak klub memecahkan rekor apik Raul Gonzales.

Ronaldo juga jadi aktor utama Madrid saat memenangkan dua gelar Liga Champions dalam tiga tahun terakhir. Dua kemenangan atas adiknya sendiri, Atletico Madrid, pada 2014 dan 2016, menjadi pertanda bahwa Madrid benar-benar “Los Galacticos“, menjadi yang terbaik saat ini di dunia.

Dengan bahu-membahu bersama beberapa pemain seperti Gareth Bale, Karim Benzema serta Sergio Ramos yang namanya mirip merek beras, tahun ini mereka kembali memiliki kesempatan mempertahankan gelar Liga Champions.

Apabila mereka berhasil mendapatkan itu, maka akan menjadi sejarah untuk pertama kalinya sebuah klub mendapatkan gelar back-to-back. Alias meraih gelar dua musim berturut-turut.

Sampai saat ini belum ada yang berhasil melakukannya. Juventus pernah nyaris mendapatkannya saat tiga kali masuk final Champions pada 1996, 1997, dan 1998. Tapi cuma sekali doang yang jadi juara.

Itulah mengapa, duel final Liga Champions ini benar-benar mempertemukan dua klub terbaik di Eropa saat ini. Yang satu adalah jawara Italia yang mampu juara sampai enam kali berturut-turut, pengoleksi Coppa Italia terbanyak, singkatnya jadi klub tersukses di Italia saat ini.

Yang satu lagi, jawara Spanyol dengan koleksi trofi La Liga terbanyak serta trofi Liga Champions terbanyak di Eropa. Menariknya, keduanya sama-sama mengumpulkan 33 trofi liga domestik.

Jawara Italia versus jawara Spanyol. Dua-duanya beraksen putih. Bianco versus Blancos. Keduanya benar-benar layak tampil di Cardiff, tanggal 3 Juni nanti.

Main photo: The Quint


LabibLabieb Sadat

Hard-worker. Seorang penikmat sepakbola dan pecandu futsal, karena pada hakikatnya “Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan?”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here