Kompetisi sepak bola Eropa kembali dimenangkan oleh tim dari Spanyol. Negeri matador makin menancapkan kuku dominasinya pada era dua ribu belasan ini setelah Atletico Madrid menjuarai Liga Eropa dengan membantai Marseille 3-0.

Setelah dua kali gagal di final Liga Champions, “Los Rojiblancos” sepertinya menurunkan targetnya untuk dapat piala. Mungkin Liga Champions masih ketinggian, makanya diturunkan sedikit biar merasakan gelar Eropa.

Tampil di depan para penonton yang sebagian besar tidak dibayar macam penonton Dahsyat, Atletico justru tertekan pada menit-menit awal. Marseille tampak main lepas, tak ada apa-apa di pundaknya.

Terlihat baru beberapa menit berjalan, umpan rendang bulan puasa Dimitri Payet kepada Valere Germain gagal dimaksimalkan. Padahal, Germain posisinya sudah enak banget tinggal berhadapan dengan kiper Jan Oblak.

Tapi mungkin Germain rada grogi macam lagi interview bank BUMN. Soalnya bola malah ditendang ke atas gawang, bukan ke gawang. Dipikirnya gawang rugby, tinggi sampai bermeter-meter.

Tak henti sampai di situ, Adil Rami mencoba peruntungan. Sayangnya masih tak beruntung. Tendangan Si Buta dari Gua Hantu alias tidak lihat gawang masih melenceng di samping gawang Oblak.

Memang rada sok-sokan, menendang bola malah membelakangi gawang tanpa dilihat dulu. Akibatnya malah terjadi tendangan asal-asalan tanpa alasan.

Begitu juga dengan tendangan Bouna Sarr yang ikut rada asal-asalan. Tendangannya memang tepat sasaran, tapi sasarannya ke papan sponsor yang gambarnya gonta-ganti terus macam menteri di kabinet kita.

Atletico yang menyerangnya jarang-jarang malah unggul duluan berkat sebuah kehokian luar biasa. Main bola memang tak perlu jago, yang penting hoki.

Berawal dari umpan standar kiper Steve Mandanda kepada Andre Anguissa, tapi tak bisa dikontrol dengan baik oleh Anguissa. Bola akhirnya malah mental ke mana-mana lalu diserobot Gabi. Semoga bukan hal yang disengaja.

Aksi serobotan Gabi yang tidak mau antri itu langsung tertuju pada Antoine Griezmann. Posisi Griezmann sudah enak buat bikin gol lantaran bek-bek Marseille sedang tidak siap. Dia kemudian menceploskan si kulit bundar ke gawang Mandanda yang salah langkah lalu kena skakmat. 

Seperti biasa Griezmann berselebrasi menyebalkan, jurus goyang Fortnite dikeluarkan. Bawaanya ingin pukul pankreasnya melihat selebrasi Fortnite Griezmann tersebut.

Marseille makin tertimpa tangga setelah kapten sekaligus pemain andalannya si Payet, harus keluar lapangan karena cedera. Payet bahkan sampai menangis tak percaya dengan takdirnya. Harus mengakhiri hubungannya dengan final Liga Europa lebih cepat. Belum lagi ancaman tak bisa ikut Piala Dunia.

Kondisi ini bikin Marseille nge-down. Babak kedua baru berjalan empat menit mereka bobol lagi. Kembali lewat Griezmann usai memanfaatkan operan pendek Koke, dia menerobos kotak penalti lawan tanpa permisi. Ditutup dengan tendangan congkel kaca spion untuk mengelabui Mandanda.

https://twitter.com/Footy_JokesOG/status/996857616755130368

Marseille mencoba bangkit usai tertinggal 0-2. Mau apa lagi, laga final harus habis-habisan karena setelah ini sudah libur lebaran. Sebuah peluang sirup Mardjan yang enak diseruput kala buka puasa didapat Konstantinos Mitroglou.

Umpan silang dari rekannya sendiri disundul pakai otak kiri Mitroglou. Bola meluncur ke gawang tampak bakal terjadi gol. Ternyata belum, tiang gawang masih bisa menepisnya dan selamatlah gawang Oblak.

Tiang gawang Atletico tampak lebih jago dari tiang gawang Marseille yang sudah menepis satu kali. Memang Marseille ini masih belum hoki.

Sampai akhirnya pertandingan ditutup oleh gol Gabi pada akhir laga. Tendangan standar dari pemain berwajah ganteng demokrasi itu tak bisa dicegah Mandanda. Skor 3-0 buat Atletico sekaligus meraih trofi ketiga mereka di Eropa yang semuanya adalah Liga Europa.

“Tim pelatih kami beruntung bisa menemukan pemain-pemain kuat yang berkembang dari tahun ke tahun. Saya memiliki chemistry yang bagus dengan pemain, meski saya nonton di hotel, para pemain tetap bermain bagus,” ujar Simeone.

Simeone juga memuji secara khusus buat Fernando Torres. Ini merupakan gelar besar pertama yang diraihnya selama berseragam Atletico sampai dua kali. Padahal, Atletico adalah klub masa kecilnya yang mengorbitkan sang pemain.

“Saya tak pernah memberikannya apa-apa. Tapi buat dia, kini mimpinya bisa terwujud. Dia merupakan pemain yang fantastis,” sambung Simeone.

Main photo: Squawka

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here