Oleh: Harry Hardian

Kekalahan mengejutkan diterima Persib Bandung di kandang sendiri, Stadion Si Jalak Harupat, dalam lanjutan babak semifinal turnamen Piala Presiden 2017. Melalui babak tos-tosan, Pusamania Borneo FC (PBFC) berhasil melenggang ke babak final yang akan dilaksanakan pada akhir pekan ini.

Permainan atraktif mampu dipertontonkan oleh kedua tim, bahkan makin sedap jika ditemani kopi dan gorengan. Persib sempat unggul terlebih dahulu berkat gol sundulan Shohei Matsunaga pada babak pertama, memanfaatkan umpan manis manja Vladimir Vujovic yang merusak prahara rumah tangga PBFC. Bikin menggelegar!

Memasuki babak kedua PBFC berhasil menyamakan kedudukan pada menit ke-53. Tandukan Dirkir Glay memaksa Made Wirawan memungut bola yang berbentuk bulat itu dari gawangnya.

Tak patah arang, Persib terus melancarkan serangan untuk lolos ke babak final. Akhirnya, serangan Persib akhirnya membuahkan hasil melalui gol Atep yang seperti biasa bikin heboh komentator ‘jebret’. “Gol..gol..gol.. Ing ngarsa sing tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani!” ucap sang komentator yang cuma terdengar suaranya saja.

Keunggulan Persib yang hanya 2-1, tidak langsung membuat Persib melenggang ke final. Kekalahan persib di leg pertama dengan skor yang sama, memaksa pertandingan dilanjutkan extra time.

Jual beli serangan seperti di Pasar Tanah Abang tak dapat dihindari. Namun, tetap tidak ada gol tambahan sampai akhirnya memaksa pertandingan dilanjutkan lewat babak yang dikenal orang dengan sebutan adu penalti.

Dua penendang awal Persib berhasil menceploskan ke gawang PBFC. Penendang ketiga Persib, Kim Kurniawan, membuat rekan-rekannya ikut tertunduk lesu, seakan tidak percaya tendangannya tinggi mengangkasa yang bisa saja mengenai burung.

Sedangkan bagi PBFC, memancarkan rona bahagia setelah algojo penentu kemenangan mereka, seorang pemuda bernama Glay, berhasil menceploskan bola ke gawang Wirawan.

Bermain di hadapan ribuan Bobotoh, kekalahan ini menjadi luka bagi tim Persib. Sebagai juara bertahan Piala Presiden tahun lalu, hal yang mungkin menjadi faktor Persib gagal ke final. Kira-kira apa yang salah dari Persib?

Kehilangan Pemain Kunci

Jika ditelusuri lebih lanjut, meski tak sampai bikin survei ataupun penelitian kualitatif, hilangnya Sergio Van Dijk sangat terasa. Harus diakui, cederanya Van Dijk memaksa pelatih Djajang Nurjaman menempatkan Matsunaga sebagai ujung tombak.

Dua bek besar dan jangkung milik PBFC, Kunihiro Yamashita dan Glay, sangat menyulitkan Matsunaga untuk melakukan penetrasi. Febri Haryadi, wonderkid Persib, hanya dapat menyisir sisi lapangan. Berhubung sisirnya banyak patahnya, jadi rada sulit memberikan umpan karena terlalu liarnya pergerakan Matsunaga yang kayak kecoak terbang.

Bench pemain Persib pun sulit memberikan perubahan. Dikarenakan tidak adanya tipe striker yang mampu memenangkan duel udara dan kuat dalam menahan bola.

Masuknya Tantan tak mampu memberikan perubahan taktik dan strategi yang diinginkan Djadjang. Sepertinya pergantian hanya formalitas saja. Sekadar mengganti pemain yang lebih fresh, dengan skema yang sama memanfatkan kecepatan para pemain.

Jika dilihat pada suksesnya persib menjuarai liga dan Piala Presiden sebelumnya, tidak terlepas hadirnya sosok Makan Konate. Makan itu adalah nama depannya, bukan kata kerja dalam Bahasa Indonesia. Pemain berpaspor Mali itu tugasnya bukan sekadar bermain bola, tapi juga jadi penghubung pemain tengah dengan para striker.

Sosok Konate mampu mengubah jalannya permainan dan dapat mengubah permainan. Hariono tak sulit mem-passing bola ke kedua sayap, namun bisa lebih dulu memberikannya ke Konate yang menjadi tugasnya.

Kehilangan Konate masih menjadi ganjalan, silih bergantinya pemain masuk, belum ada yang mampu menggantikan perannya.

Ketenangan Duo Bek PBFC

Saat duel bola atas pun, Persib sangat sulit untuk memenangkan duel. Ketenangan dan membaca permainan yang bagus Yamashita menjadi kredit poin bagi tim “Pesut Etam”.

Konsistensi permainan cowok akamsi Jepang itu wajib mendapat acungan 2 jempol selama pergelaran Piala Presiden. Meski cuma dikontrak hanya turnamen ini, tidak membuat dia bermain setengah hati, apalagi seperempat.

Yamashita sukses menjadi tumpuan dan mengkoordinir pemain belakang dengan rapi. Berkomando bagaikan tukang parkir di Alfamart, bikin para pemain disiplin dan solid menjaga pertahanan. Pelatih Ricky Nelson pun mempercayakan jabatan kapten di lengannya.

Maka tidak heran, hanya sedikit gol yang bersarang di gawang Wawan Hendrawan selama turnamen ini. PBFC sukses meraih cleansheet dalam empat pertandingan sampai laga perempat final kemarin. Mereka baru kebobolan di semifinal lawan Persib pada leg pertama pekan lalu.

Hal inilah yang menjadi momok bagi para pemain Persib ketika menghadapi PBFC. Sulit dan sukar menembus ketangguhan pemain yang berasal dari negeri penjajah Indonesia selama 3,5 tahun itu.

Terlepas dari itu, kita patut berikan selamat untuk PBFC yang berhasil melangkahkan kakinya ke babak final. Usaha keras dan cerdas memaksa Persib gigit jari lengkap dengan kuku-kukunya di kandang sendiri. Good Job!

Main photo credit: Radar Indo


Harry Hardian 2Harry Hardian

Penulis yang selalu diawali dengan kata mantan. Mantan pemain, mantan pelatih dan mantan seseorang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here