Oleh: Febrian Wahyu H.

Seorang kiper muda belia AC Milan yang masih berusia 18 tahun bernama Gianlugi Donnarumma tiba-tiba saja menjadi viral di jejaring sosial dan menghiasi banyak laman media olahraga.

Bukan karena penampilan menawannya di bawah mistar gawang, bukan juga karena penyelamatan-penyelamatan gemilangnya, apalagi kabar perselingkuhan dengan artis Pesbukers. Tidak ada.

Kali ini dia menjadi buah bibir dan bahan cibiran karena baru saja menolak perpanjang kontrak bersama klubnya sekarang. Informasi yang beredar, Donnarumma ditawarkan gaji 4,5 juta euro per tahun ditambah bonus oleh Milan.

Namun, sang pemain tetap pada pendiriannya dan merasa angka tersebut seharusnya bisa lebih tinggi. Banyak yang menilai wajar jika Donnaruma menginginkan gaji lebih dari yang ditawarkan mengingat performanya yang apik dan konsisten.

Apalagi pada saat berusia 17 tahun, Jumat 2 September 2016 lalu, sang pemain telah menjalani debutnya dengan Timnas Italia dalam laga kualifikasi Piala Dunia 2018 kontra Prancis. Sungguh M E N A K J O E B K A N.

Di sisi lain usai konsorsium asal Tiongkok memiliki saham mayoritas Milan, klub ini pun berbenah. Lewat dana segar mereka menjadi sangat agresif di bursa transfer musim ini.

Tercatat sudah mendatangkan beberapa pemain seperti Mateo Musacchio (18 juta euro), Ricardo Rodriguez (22,5 juta euro), Franck Kessie (28 juta euro), dan Andre Silva (38 juta euro) yang artinya lebih dari 100 juta sudah digelontorkan manajemen untuk memperkuat barisan pemainya demi target Liga Champions yang telah ditetapkan.

Namun, ternyata ada yang terlupakan yaitu mempertahankan pemain-pemain potensial dan telah berkontribusi. Hal ini pun sering kita jumpai dalam tempat yang berbeda namun dalam konteks yang tidak jauh berbeda terutama dalam dunia kerja.

“Dia yang berjuang bersamamu adalah seorang yang layak kamu jaga dan pertahankan,” mungkin itulah kutipan yang menggugah hati dan menjaga iman dalam dunia pekerjaan.

Ketika bisnis berkembang dan cukup dana untuk ekspansi perusahaan sering kali terkesan lebih melihat keluar dibanding melihat ke dalam. Beberapa di antaranya lupa bahwa Employee Retention, atau retensi karyawan, juga merupakan hal penting yang wajib dilakukan perusahaan dalam mempertahankan karyawan-karyawan terbaiknya sebagai tenaga ahli utama di perusahaan.

Milan punya uang banyak untuk belanja pemain. Tapi mengapa gaji tinggi yang diinginkan Donnarumma tak sanggup dikabulkan? Padahal kalau dihitung-hitung, banyak kerugian yang ditanggung “I Rossoneri” kalau mereka harus mencari kiper baru.

Merekrut Pengganti Tidak Mudah dan Murah

Rekrutmen tidaklah mudah untuk dilakukan, dan sangat memakan waktu untuk melakukannya. Dengan adanya retensi karyawan perusahaan tidak perlu kesusahan untuk mencari karyawan dengan talenta terbaik lagi, perusahaan sudah memilikinya. Perlu diingat juga dalam proses rekrutmen ini belum tentu bisa berjalan mulus.

Selain harus menyeleksi banyak kandidat, di sisi lain perusahaan juga dituntut untuk menyiapkan paket offering yang tinggi agar kandidat tertarik untuk bergabung dengan perusahaan. Ada waktu dan biaya yang harus dikorbankan di awal meskipun tidak menutup kemungkinan perusahaan akan mendapatkan pengganti yang lebih baik.

Perlu Waktu untuk Beradaptasi

Selain waktu yang dibayarkan di awal proses rekrutmen, waktu kedua yang harus dibayarkan oleh perusahaan terhadap karyawan baru adalah waktu untuk mengenal dan memahami perusahaan.

Termasuk juga waktu untuk beradaptasi dengan lingkungan, budaya, dan karakteristik perusahaan perlu dikawal agar proses tersebut berjalan mulus seperti yang diharapkan. Seringkali karyawan baru kurang bisa langsung tune-in dan perform karena proses adaptasi yang kurang lancar.

Loyalitas Karyawan

Entah siapa yang pertama menggagas pernyataan bahwa si “kutu loncat” adalah orang yang paling mudah berdaptasi dengan lingkungan baru, hal ini mungkin dapat dilakukan untuk mempercepat waktu adaptasi yang diperlukan pada poin nomor 2. Namun di sisi lain, dengan merekrut tipe karyawan seperti itu ada konsekuensi yang harus ditanggung.

Karyawan lama dengan tingkat loyalitas yang tinggi pada manajemen dan
perusahaan akan lebih bagus untuk dipertahankan apalagi jika dikaitkan dengan kasus Donnarumma yang memiliki potensi dan performa menjanjikan.

Belum lagi jika isu kepindahan Donnarumma ke Juventus yang notabene adalah kompetitor AC Milan benar adanya, maka akan membuat perusahaan kalah 0-2, karena kehilangan talenta terbaiknya ditambah pula dengan makin kuatnya kompetitor.

High Turnover Ratio is a Nightmare

Tidak dapat dipungkiri bahwa turnover yang tinggi akan berdampak buruk bagi perusahaan. Turnover yang tinggi pasti akan memberikan efek terhadap biaya yang tinggi juga bagi perusahaan.

Namun dalam industri dengan level kompetisi yang ketat seperti sepak bola atau seperti bisnis-bisnis yang dinamis seperti sekarang ini, perlombaan untuk mendapatkan talenta-talenta terbaik menjadi sangat ketat.

Tawaran-tawaran menggiurkan dari perusahaan lain seakan berseliweran ke email karyawan bertalenta. Ambil contoh saja si Lina Jobstreet yang rajin banget kasih email padahal subscribe web tersebut sudah dari 7-8 tahun lalu.

Lantas akankah perusahaan hanya akan berdiam diri membiarkan satu per satu karyawan terbaiknya pergi? “Pastikan dia yang terbaik adalah yang akhirnya bersamamu di sisa hidupmu.”

Desakan untuk menemukan racikan atau formula yang tepat dan seimbang antara akuisisi dan retensi menjadi layak untuk dikaji dan dipertimbangkan oleh perusahaan. Sudah saatnya fungsi SDM menjadi business partner bagi perusahaan, tidak lagi hanya sebagai sebuah nama jabatan atau posisi dalam struktur organisasi.

Dalam kasus Donnarumma, memang Milan sudah melakukan bujuk rayu buat mempertahankannya. Tapi jika si karyawan merasa belum cukup, berarti usaha tersebut masih kurang. Apalagi jika melihat duit yang memang ada buat belanja pemain.

Betul bahwa menaikkan gaji Donnarumma setinggi langit mungkin bisa merusak tatanan gaji perusahaan. Tapi inilah bedanya dengan sepak bola. Seorang pemain bisa digaji tinggi banget saat sedang jaya-jayanya sampai jomplang dengan pemain lainnya.

Tapi, bisa berubah drastis jadi rendah gajinya jika performanya turun. Itu yang dilakukan beberapa klub seperti Real Madrid dan Barcelona. Apalagi jika melihat industri saat ini tren penggajiannya adalah performace based dengan sebutan partner layaknya mitra GO-JEK.

Seorang sahabat yang baru saja menambah istri bercerita kepada saya, “Membuat yang muda jadi mau itu mudah, membuat yang tua bersedia itu tantangan, membuat keduanya hidup rukun dan berdampingan itu luar biasa beratnya.”

Kira-kira begitulah kompleksnya menyeimbangkan rasio antara akuisisi dan retensi karyawan dalam perusahaan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan berfaedah dalam memenuhi kebutuhan dua orang istri.

Main photo: Gianlucadimarzio.com


Febri 2Febrian Wahyu H. 

Penulis adalah staf HRD penggemar bola lulusan Sastra Korea tapi anti-boyband

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here