Meski sudah mengantongi kemenangan atas Inter 3-1 di kontrakannya sendiri, pelatih Roma, Luciano Spalletti, malah marah-marah. Bukan karena belagu skornya yang kurang gede, tapi karena sikap para haters yang suka mencari-cari kesalahan.

Spalletti mungkin baru merasakan ajaibnya haters. Apalagi haters di Instagram, mulutnya jauh lebih nyinyir dari Lambe Turah dan Lambe Nyinyir sekalipun.

Setelah kemenangan 3-1 atas Inter, timnya rupanya dapat sedikit serangan dari para haters. Hal itu bukan datang dari fans lawan, tapi entah dari mana. Banyak pihak yang mempermasalahkan insiden penalti saat Roberto Gagliardini dijatuhkan Radja Nainggolan, pemain berdarah Indonesia yang negaranya saat ini sedang ribut-ribut Pilkada.

Tak hanya itu, Roma juga dituding kerap diuntungkan wasit setelah melihat banyaknya penalti yang didapat klub asal Roma itu musim ini. “I Giallorossi” memang mendapat 12 penalti musim ini, 10 di antaranya masuk ke gawang dengan selamat sentosa.

Lucunya, statistik itu tak sempat dicek oleh Nainggolan yang belum lama menuding Juventus kerap dibantu wasit dari penalti. Padahal, justru timnya sendiri yang paling banyak penalti musim ini.

Kebetulan, saat melawan Inter mereka dapat lagi jatah penalti lewat Diego Perotti. Hal itulah yang dijadikan senjata bagi para haters untuk menyerbu Spalletti dan kawan-kawan. Alhasil, tudingan dari haters bikin pelatih yang kepalanya terjadi penggundulan besar-besaran itu meradang.

“Saya tidak tahu apa yang sebenarnya dicari orang-orang ini. Roma pantas menang dan orang malah mencari-cari insiden kecil. Contohnya saat Gagliardini dilanggar Nainggolan, padahal dia hanya melompat pada waktu yang salah,” kata Spalletti dikutip dari Goal. 

Lebih lanjut, pelatih berusia 57 tahun itu menambahkan bahwa dirinya sudah eneg dengan segala keributan soal penalti. Ribut soal pilkada saja sudah bikin pusing, apalagi ditambah penalti. Begitu mungkin pikirnya.

Spalletti kemudian mengisahkan bahwa banyaknya penalti cuma kebetulan saja. Buktinya musim lalu, klub berlogo serigala itu cuma dapat satu penalti saja dari 19 pertandingan.

“Lucunya, Roma bermain bagus tapi sepanjang pekan lalu orang bicara penalti terus-terusan. Ketika tahun lalu kami cuma punya satu penalti, angka ini tak pernah dibahas dan dibandingkan dengan tim lain,” ucapnya.

Spalletti memang harus memahami bahwa namanya haters memang seperti itu. Yang di-posting apa, yang dikomentari apa. Mungkin, Spalletti perlu belajar sama Ayu Ting-Ting yang banyak haters-nya. Bagaimana menangani para gelombang haters yang dari lahir memang hidupnya sudah membenci.

Bicara soal pertandingan, Roma mengawali kemenangan lewat gol Radja Nainggolan yang cukup cantik, secantik Dian Sastro di film Ada Apa Dengan Cinta 2. Setelah melakukan cutting inside ke pertahanan Inter, dia melepaskan tendangan yang tak mampu ditangkis Samir Handanovic. Kalau ditangkis berarti namanya tidak gol.

Dia mengulangi hal yang hampir sama saat mencetak gol kedua. Setelah melakukan aksi solo run dan rada kelewat maruk, Nainggolan melepaskan tendangan keras dari posisi tengah.

Diego Perotti kemudian memperbesar keunggulan lewat penalti yang ramai dibicarakan tadi. Padahal, tendangannya lembek banget kayak Indomie rebus kelamaan dimasak. Tapi Handanovic tangannya kurang panjang sehingga bola begitu mudahnya masuk ke gawang.

Mauro Icardi akhirnya memperkecil ketertinggalan sekaligus mengurang-ngurangi malunya Inter yang takluk di kontrakannya sendiri.

Main photo credit: Lineadiretta24

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here