Lewat sebuah pertandingan lumayan sengit dan dramatis, Eintracht Frankfurt akhirnya keluar sebagai juara Piala Jerman DFB Pokal usai mengalahkan Bayern Muenchen 3-1. Hasil tersebut cukup mengejutkan mengingat Bayern yang lebih dijagokan. Namun Frankfurt membuktikan kalau Bayern bukanlah dari Asgard, tapi dari Planet Bumi.

Dominasi Bayern memang bikin kompetisi di Jerman lumayan membosankan. Juaranya dia lagi dia lagi. Wajar kalau di final ini, banyak yang berharap Frankfurt yang jadi pemenangnya. Apalagi, Frankfurt ini sempat jadi finalis tahun lalu tapi dikalahkan Borussia Dortmund.

Alhasil, “Die Adler” lumayan penasaran dengan pencapaian musim lalu. Sudah diujung tapi kalah, rasanya benar-benar kentang alias kena tanggung. Pada final kali ini mereka sangat termotivasi dan benar-benar spartan.

Bahkan sampai-sampai, tiang gawang mereka juga ikutan spartan. Baru tujuh menit, tiang gawang kiper Lukas Hradecky sudah membuat penyelamatan gemilang.

Tendangan bebas Robert Lewandowski yang bebas-bebas saja dengan teknik sempurna, meluncur deras melewati pagar bagus dan pagar ayu Frankfurt. Namun ternyata ada tiang gawang yang menyelamatkan nyawa Frankfurt. Mereka masih bisa napas dan selamat.

Justru Frankfurt yang mampu mencuri gol pada menit ke-11. Sebuah kesalahan sepele dari Thiago Alcantara, kontrol bola tidak lihat kaca spion, kemudian dipotong oleh Ante Rebic yang badannya kuat, cocok buat ajak gelut.

Bola potongan tersebut diberikan kepada Kevin-Prince Boateng untuk dibuat sebuah umpan osore wancu alias satu-dua. Rebic ini semacam borok sikutan, sudah memberikannya kepada Boateng lalu meminta bola lagi.

Akhirnya Boateng mengalah dan memberikan bola lagi kepada Rebic lewat sebuah operan pencetan segitiga untuk diselesaikan dengan cermat oleh gelandang yang jago bahasa Kroasia itu.

Bayern tak mau tinggal diam, kalau diam saja bisa-bisa dibobol lagi dengan mudah oleh lawannya yang pakai baju putih hitam kayak anak SMK mau magang. Thomas Mueller mencoba peruntungannya lewat sundulan bahu kanan tapi masih melebar di samping gawang.

Begitu juga dengan sundulan tipis rambut kiri Joshua Kimmich. Meski wajahnya masih kelihatan anak-anak, tapi dia sudah bisa menyundul bola hasil umpan Mueller. Sayang lagi-lagi masih melebar.

Frankfurt cuma menyerang sekali-sekali saja, macam tukang asinan yang sudah jarang lewat depan rumah. Hari begini biasanya mangkal, atau kalau mau order via GO-FOOD.

https://twitter.com/AnfieldExpress/status/997953473869176833

Di babak kedua, Bayern kembali berusaha. Memang lebih baik berusaha daripada tidak berusaha sama sekali. Seperti tipikal orang Indonesia, yang penting niat dan usahanya.

Usaha tersebut akhirnya membuahkan hasil. Lewandowski mampu menyamakan kedudukan lewat sodoran dari Kimmich. Tendangannya sebenarnya mampu diblok oleh seorang warga Frankfurt yang tak mau disebutkan namanya, tapi itulah hikmahnya.

Bola jadi berbelok arah semaunya. Bikin kiper Hradecky jadi bingung dan malah terduduk lesu. Untung saja tak sampai duduk bersila, bisa-bisa nanti dikira mau Tahlilan.

Bayern lalu berusaha lagi demi menggandakan gelarnya musim ini. Mereka mau menggandakan gelar dengan usaha sendiri dan cara halal, tak mau menggandakan ala Dimas Kandjeng Taat Pribadi.

Lagi-lagi usahanya masih kurang disertai doa. Tendangan dengkul asal-asalan dari Lewandowski masih tipis di samping mistar. Begitu juga dengan sundulan Mats Hummels yang masih diselamatkan tiang gawang.

Justru Frankfurt yang kembali mencetak gol memanfaatkan serangan balik pada menit ke-83. Aksi serobot-serobotan terjadi di lapangan tengah agak ke pinggir. Lalu Boateng melepaskan umpan LDR antar kota antar provinsi kepada Rebic.

Bola sebetulnya bisa dijangkau oleh duo bek Bayern, Hummels dan Niklas Suele. Namun sepertinya Rebic larinya jauh lebih cepat seperti motor Yamaha, bikin yang lain makin ketinggalan.

Rebic mampu menyalip Hummels dan Suele yang larinya tampak terlihat slow motion. Bola kemudian dikontrol sekali sebelum diceploskan ke gawang Sven Ulreich.

Wasit sebenarnya sempat melihat tayangan CCTV karena Boateng dianggap melakukan handball sebelum mengumpankan bola. Tapi wasit berkata tidak, selamat lah Frankfurt berkat CCTV.

https://twitter.com/FCBayernEN/status/997927171955023872

Bayern masih mencoba menyamakan sampai menit akhir. Kiper Ulreich bahkan sampai maju-maju ke depan meninggalkan barang dagangannya. Tak peduli gawangnya bobol lagi, toh ini sudah menit-menit hidup mati.

Sempat ada kejadian dramatis pada menit ke-90 saat Javi Martinez kesepak Boateng tak sengaja sampai terjatuh. Bola yang lepas ditendang Lewandowski tapi bisa ditepis Hradecky.

Para pemain Bayern melancarkan protes minta belas kasihan wasit untuk penalti. Wasit lalu kembali melihat tayangan CCTV dan lagi-lagi berkata tidak. Selain pada tiang gawang, Frankfurt mesti berterima kasih juga kepada CCTV.

Bayern masih punya satu peluang terakhir lewat tendangan sudut. Namun gagal dan bola jatuh di kaki Mijat Gacinovic yang namanya cocok jadi tukang pijat. Gacinovic lalu berlari dari kotak penalti sendiri sampai ke kotak penalti lawan tanpa mampu dikejar lawan.

Backsong Tsubasa cocok untuk menggambarkan situasi ini, bahkan bisa-bisa habis satu episode tersendiri cuma menyorot dia berlari sejauh itu. Bagaimana tak dibawa lari, gawang Bayern juga kosong karena Ulreich maju ke depan.

Gacinovic berlari sambil diteriaki teman-temannya di pinggir lapangan. Percaya diri mereka bisa menjuarai trofi ini. Sampai di depan gawang, dengan mudah bola ditendang pelan tapi pasti sekaligus menutup ulasan laga ini yang sudah lumayan panjang.

Gacinovic disambut rekan-rekannya dan seluruh warga Frankfurt. Setelah 30 tahun menunggu, akhirnya Frankfurt bisa mengangkat trofi lagi.

https://twitter.com/JayOhEeElEyeEe/status/997934980511789057

Yang menarik, pelatih Frankfurt yang mengalahkan Bayern adalah Niko Kovac, yang notabene pelatih Bayern musim depan. Itu artinya, keputusan Bayern merekrut Kovac sudah tepat. Namun, Kovac pergi meninggalkan Frankfurt dengan klimaks dan penuh kebahagiaan.

“Sepak bola menulis cerita-cerita terbaik. Itu yang membuat olahraga ini sangat menarik. Saya sangat senang untuk klub ini, untuk penggemar, dan untuk tim yang luar biasa. Sedih ketika saya pergi karena saya meninggalkan tim dengan karakter hebat dan pemain yang luar biasa,” ujarnya dikutip Republika. 

Sedangkan ini menjadi perpisahan yang kurang asyik bagi Jupp Heynckes. Pelatih yang sudah jadi kakek-kakek dan lebih cocok menimang cucu itu mengungkapkan kekecewaannya gagal mempersembahkan gelar terakhir.

“Memang menyedihkan. Untuk memenangkan final DFB Pokal kami harus memberikan yang terbaik tapi kami tak melakukan itu. Kami memang kurang beruntung, dan itulah yang dimanfaatkan oleh Frankfurt,” tutupnya.

Selamat, Eintracht Frankfurt!

https://twitter.com/DFBPokal_EN/status/997937344434114560

Main photo: @eintracht_eng

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here