Rada bingung memberikan satu kata untuk Real Madrid dan Zinedine Zidane. Tim berjuluk “Los Blancos” itu kembali meraih gelar juara Liga Champions untuk ketiga kalinya berturut-turut, juaranya terus-terusan seolah enggak mau berhenti, benar-benar rakus. Korban kali ini adalah Liverpool.

Kedua tim tampak bermain hati-hati di babak pertama demi menghindari kebobolan. Memang tak ada yang namanya tim mau dibobol, pasti inginnya tidak dibobol.

The Reds” sebenarnya sempat menekan beberapa kali tapi pertahanan Madrid masih kompak kayak ibu-ibu pengajian mau ziarah. Biasanya suka pakai baju seragam sambil mengaji atau shalawatan di bus.

Bukan cuma itu, baik para pemain Real Madrid dan Liverpool juga berhati-hati untuk menghindari cedera. Bahkan pemain Barcelona dan Bayern Muenchen juga hati-hati dalam menonton laga ini lewat TV, siapa tahu cedera hati.

Benar saja, di babak pertama kedua tim langsung kehilangan seorang pemainnya. Pertama pemain yang sedang gila-gilaan musim ini, Mohamed Salah, yang harus gugur di medan perang.

Salah kena jurus smack dari Sergio Ramos. Tak sengaja tangannya Salah masuk ke selipan ketiak Ramos yang belum terlalu bau karena pertandingan baru dimulai, meskipun sudah berkeringat.

Salah terbanting, tangannya tertindih badan Ramos yang namanya kayak merek beras. Akibatnya bahu pemain berwajah ganteng kreatif itu terkilir. Salah sempat masuk lagi untuk melanjutkan pertandingan. Tapi selang beberapa menit dia malah menangis.

Selain kesakitan, Salah juga sedih tak bisa melanjutkan permainan. Apalagi dua minggu lagi Piala Dunia bakal dimulai, warga Mesir pasti bakal mengutuk keras Ramos. Semoga saja pas lebaran nanti warga Mesir mau memaafkan Ramos.

Fans Liverpool turut bersedih. Sebagian warga bola juga ikut bersedih. Liverpool kehilangan salah satu anggotan Trio Firmansah. Sekarang tinggal “Firman” saja.

Bukan cuma Liverpool yang apes kehilangan pemainnya. Madrid juga sama, beberapa menit setelah Salah pergi dan tak kembali, kini giliran Dani Carvajal.

Carvajal ikut menangis di pojokan, macam lagi enggak diajak main. Ini seperti anak kecil saja, biasanya kalau ada bocah menangis, lalu bocah lainnya juga ikutan menangis tanpa sebab.

https://twitter.com/SquawkaNews/status/1000459968494100480

Namun, Carvajal pastinya enggak begitu. Dia nangis dengan sebab akibat. Sepertinya mengalami cedera serius. Nangisnya sesunggukkan sambil tengkurap mungkin sudah terbayang gagal tampil di Piala Dunia. Teman-temannya mencoba menghiburnya tapi apa daya tak mengubah apa-apa.

Kita doakan semoga Salah dan Carvajal bisa segera sembuh dan tampil di Piala Dunia. Kasihan juga sudah ngarep-ngarep selama empat tahunan.

Di babak kedua, Madrid akhirnya bisa unggul lebih dulu lewat sebuah gol kocak yang bikin bingung sekaligus tertawa terbahak-bahak. Loris Karius dengan percaya diri menangkap bola terobosan dari pemain lawan.

Dia lalu maksud hati melempar bola memberikannya kepada rekannya. Nahas, di sana ada Karim Benzema. Entah Karius ini pakai kacamata kuda atau gimana, bisa tak melihat ada lawan di sana.

Benzema mencegat bola tersebut dengan asal-asalan dan ternyata dapat. Bola hasil tendangan asal-asalan itu akhirnya masuk ke gawang dengan bahagia dan penuh ketenangan, penuh kedamaian.

Karius sempat protes kepada wasit entah protes apa. Padahal gol Benzema itu sah karena bola dalam keadaan aktif. Mungkin biar enggak kelihatan malu saja.

https://twitter.com/NaRedondaVideos/status/1000471386538770434

Beruntung, Liverpool bisa segera menyamakan kedudukan jadi Karius enggak disalah-salahkan amat. Sial banget kalau sampai kalah di final besar Liga Champions macam begini cuma gara-gara satu gol katro tersebut.

Berawal dari tendangan sudut yang dilakukan pemain Liverpool yang berbaju Liverpool. Kemudian disundul oleh Dejan Lovren ke arah gawang. Tahu-tahu Sane alias Sadio Mane yang tak terlihat muncul dari peradaban.

Dia menyambar bola sundulan tersebut sehingga membelokkan arah bola. Keylor Navas yang sudah jatuh tak bisa berdiri lagi buat menepis bola.

Para warga Liverpool yang pada pakai baju berlambang bango itu tentu kegirangan. Berharap slogan “We’ve won it five times” bisa berubah jadi “We’ve won it six times“.

Sayangnya, mereka tak sadar kalau yang dihadapi adalah Real Madrid, bukan Milan. Jadi embel-embel comeback tak pernah terjadi di laga ini.

Pasalnya, ada manusia bernama Zinedine Zidane yang kepalanya bersinar terang sehingga bisa dirubung laron kalau musim hujan. Bukan cuma kepalanya, tapi juga otaknya yang bersinar cemerlang.

 

Zidane langsung mengubah permainan dengan mengeluarkan Isco dari peredaran. Kemudian memasukkan Gareth Bale untuk mengembalikan lini depan menjadi BBC lagi.

Pergantian taktik tersebut benar-benar membawa perubahan dan langsung dijawab tunai oleh Bale. Pemain berambut gontai alias gondrong santai itu langsung mencetak gol setelah tiga menit masuk ke lapangan.

Golnya jauh lebih berkelas dari gol asal-asalan Benzema. Timpang banget pokoknya, karena golnya pemain Wales itu dicetak dengan cara salto. Tak mau kalah dari Cristiano Ronaldo dan Mario Mandzukic di final tahun lalu.

Berawal dari umpan mengambang dari Marcelo, entah gimana, tanpa diduga disambut oleh Bale lewat sebuah tendangan bicycle kick Wimcycle. Bola langsung mengarah ke gawang yang diiringi teriakan “Wuoh” dari para penonton yang menyaksikan, berdecak kagum. Benar-benar gol kelas dunia, gol kelas final Champions Eropa.   

Sebetulnya gol Bale ini sangat mudah dilakukan karena bolanya melayang di udara. Coba kalau umpan Marcelo ini menyusur tanah, pasti bakal sulit dilakukan oleh Bale atau Pele sekalipun.

Kena bobol begitu Liverpool jadi nge-down lagi. Sudah kebobolan gol katro, lalu dibobol lagi dengan gol super begitu.

Mane sempat nyaris menyamakan kedudukan andai gawang Navas digeser ke kanan beberapa sentimeter. Pasalnya tendangannya masih bisa ditepis tiang gawang. Namun namanya sudah nge-down, tak banyak yang bisa dilakukan Liverpool. Kalah mental, kalah pengalaman.

Buktinya, Madrid kembali memperlebar jarak mereka. Bale kembali membuat sebuah gol spektakuler dari jarak jauh. Tendangan LDR Anyer-Panarukan dilepaskannya pada menit ke-83. Lagi-lagi ada andil Karius di dalamnya.

Tendangan Bale tersebut sebenarnya tak akan menjadi gol andai Karius bisa menepisnya dengan baik, menepisnya ke depan tanpa tedeng aling-aling. Kocaknya, Karius yang sama-sama gondrong tapi tidak santai itu malah menepisnya ke dalam gawang. Warga Liverpool kembali menepuk jidat.

Para pemain Madrid tak kuasa menahan gol tersebut dan sudah pede tingkat tinggi bisa menjuarai kembali trofi si kuping lebar. Mereka perlu berterima kasih kepada Karius yang sudah dibayar untuk bermain di laga ini. Kalau tak dibayar, mana mungkin Karius mau bermain.

Peluit akhir dibunyikan mulut bau sang wasit. Para pemain “Blancos” tampak biasa saja, enggak heboh-heboh amat. Maklum sudah tiga kali berturut-turut dengan komposisi pemain yang hampir sama.

Meski begitu harus diakui mereka benar-benar juara Eropa sejati. Bukan sekadar keberuntungan, tapi benar-benar pengalaman dan jam terbang. Madrid pun memastikan gelar ke-13 Liga Champions Eropa. Paling banyak sendiri, benar-benar rakus.

Namun meraih tiga kali juara beruntun tak semudah kasih komentar di Instagram. Apalagi Madrid menyingkirkan banyak tim-tim juara macam Bayern Muenchen, Juventus, dan Paris Saint Germain.

Zidane pun menjadi pelatih yang memenangi Piala/Liga Champions sebanyak tiga kali. Menyamai Bob Paisley dan Carlo Ancelotti. Sedangkan di era modern bernama Liga Champions, Zidane lah yang pertama kali mencetak rekor tersebut.

“Kami harus menikmati momen besar ini, apa yang kami lakukan dalam membuat sejarah. Kami merasakan momen seperti ini, benar-benar menyenangkan. Inilah yang dimiliki tim ini, talenta dan kerja keras. Saya katakan kepada pemain, nikmatilah momen seolah tak mereka rasakan,” kata Zidane.

Di sisi lain, Klopp untuk kedua kalinya kalah di final setelah disingkirkan Bayern Muenchen ketika menangani Borussia Dortmund beberapa tahun lalu. Dia mengakui kekalahannya, plus ketidakberuntungan kehilangan pemain kunci Salah yang salah jatuh.

“Saya ucapkan selamat buat Real Madrid. Kepergian Salah benar-benar kehilangan besar dalam laga ini. Dia merasa sakit di bahunya dan sepertinya serius. Kami shock dan terlihat jelas, kami jatuh terlalu dalam. Ditambah gol salto Bale yang benar-benar tak bisa dipercaya,” ujar Juergen Klopp, pelatih Liverpool, dikutip situs UEFA.

Selamat buat, Real Madrid!

Main photo: @ChampionsLeague

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here