Oleh: Paundra Jhalugilang

Jerman semakin digdaya di kancah persepak bolaan. Meski masih kalah jauh dari Indonesia di kancah perbulu tangkisan. Tim nasionalnya mereka kemarin baru saja jadi juara Piala Konfederasi 2017 di Rusia usai mengalahkan Cile 1-0.

Yang lebih keren lagi, cuma berselang satu hari dengan timnas U-21 mereka yang menjuarai Piala Eropa U-21 setelah mengalahkan Spanyol dengan skor yang sama seperti abangnya.

Belum lagi tim nasional wanita mereka juga berhasil jadi juara Piala Eropa enam kalinya berturut-turut, terakhir tahun 2013. Status mereka masih jadi juara Eropa karena Piala Eropa berikutnya dilangsungkan 16 Juli nanti.

Apa-apaan ini? Kenapa Jerman bisa segitu hebatnya? Kalau ditanya mungkin jawabannya ya simpel saja. Mereka semua pada latihan yang giat jadi bisa jadi juara. Namun, jawaban itu tentu tak memuaskan para pembaca.

https://twitter.com/Football__Tweet/status/881625404016140288

Memang ada banyak faktor mengapa tim nasional Jerman begitu kuat. Bukan cuma belakangan ini saja, tapi sudah dari zaman dahulu kala saat Soekarno masih jadi presidennya Indonesia.

Jerman disebut-sebut sebagai tim mental turnamen. Mereka sudah mengoleksi empat gelar Piala Dunia dan tiga gelar Piala Eropa. Penampilan mereka di kedua turnamen tersebut juga sangat konsisten. Tak seperti band-band macam ST12 yang baru booming langsung nyungsep lagi.

Jerman selalu masuk semifinal mulai dari Piala Dunia 2006, Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010, Piala Eropa 2012, Piala Dunia 2014, dan Piala Eropa 2016. Bukti bahwa timnas mereka begitu konsisten dan mentalnya jelas bukan mental tempe.

Karakter Orang Jerman

Tak perlu mencari penelitian atau bertanya ke teman kita yang ada di Jerman. Cukup dengan Google saja dan ketik “karakter orang Jerman”, Anda sudah tahu jawabannya.

Orang-orang Jerman adalah orang-orang yang pekerja keras dan disiplin. Terorganisir, tahu aturan, penuh perhitungan, tak sembarangan dalam membuat keputusan. Apalagi kalau jadi anak yang soleh dan taat pada orang tuanya.

Orang Jerman adalah orang yang benar-benar efektif. Mereka bekerja dari pukul delapan sampai pukul lima sore, tergantung jam kerja yang ditentukan. Tapi jam kerja itu mereka manfaatkan benar-benar untuk bekerja. Bukan dipakai untuk baca koran apalagi main media sosial macam Bigo Live.

Mereka juga tak segan-segan menolak bekerja pada hari libur. Jika bukan jam kerjanya, jangan harap mereka mau bekerja meskipun mendatangkan uang sekalipun.

Parahnya lagi, mereka tak segan mengutamakan hak mereka sendiri. Jika ada penyeberang jalan yang tertabrak mobil saat lampu hijau untuk mobil, maka yang disalahkan bisa jadi si penyeberang jalan. Justru pengendara mobil yang bisa marah karena itu adalah haknya.

Kalau di sini terbalik. Yang dilihat siapa yang lebih besar atau lebih superior. Kalau motor tabrakan sama mobil, yang disalahin duluan pasti mobil karena merasa orang naik mobil pasti duitnya lebih banyak dari pengendara motor.

Hasil gambar untuk germany meme
Source: BuzzFeed

Orang Jerman selalu menyiapkan sesuatu dengan detail dan terorganisir. Pada Piala Dunia 2014 kemarin, mereka sampai menghitung jarak dan waktu tempuh dari bandara, hotel, tempat latihan, dan stadion. Mereka menyiapkan semuanya dengan terukur dan penuh perhitungan.

“Jarak jadi salah satu masalah yang dihadapi. Terakhir kali saya ke Brasil saya menempuh perjalanan 24 jam untuk sampai penginapan. Anda tak bisa ke sana dalam waktu singkat. Kami sudah siapkan apapun untuk mengaturnya sedemikian detail,” ucap Oliver Bierhoff, manajer timnas Jerman pada 2014 silam.

Jika dilihat timnas senior bisa juara Piala Dunia, yang rada junior bisa juara Piala Konfederasi, lalu yang masih junior jadi juara Eropa U-21, ditambah yang cewek juga juara Eropa.

Maka bisa dibuktikan bahwa memang orang Jerman punya mental yang kuat, tipikal petarung sejati. Main bola tak cuma sekadar menendang bola atau ajag-ijig gocek-gocek. Tapi juga butuh mental dan karakter yang ternyata dimiliki rata-rata orang Jerman.

Dari mental dan karakter yang kuat, pekerja keras, serba rapi, disiplin, dan terorganisir itulah, baru kemudian muncul faktor-faktor lainnya yang menambah timnas Jerman jadi lebih hebat.

Hasil gambar untuk germany meme
Source: BuzzFeed

Pembinaan Pemain

Orang Jerman yang serba terorganisir, sudah memikirkan pembinaan pemain sejak lama. Faktor pembinaan mereka yang begitu mantap jiwa sudah disiapkan sejak 2004, artinya butuh waktu 10 tahun persiapan untuk jadi juara dunia pada 2014.

Nama seperti Bastian Schweinsteiger, Philipp Lahm, dan Lukas Podolski yang masih belia adalah jebolan skuat Piala Eropa 2004. Saat itu mereka memang berdarah-darah, hancur lebur seperti remahan kue nastar lebaran.

Tapi pada 2006 di bawah arahan Juergen Klinsmann, mereka mampu bangkit. Mengubah permainan sepak bola Jerman dari yang tadinya membosankan, menjadi lebih atraktif.

Pada 2008 sukses masuk final Piala Eropa, tapi belum cukup jadi juara. Pada 2010 lahirlah pemain-pemain muda jebolan Piala Eropa U-21 yang jadi juara pada 2009.

Mereka adalah Manuel Neuer, Mesut Oezil, Jerome Boateng, Benedikt Hoewedes, Sami Khedira, dan Mats Hummels. Sebagian sudah main di Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012 tapi rasanya belum cukup karena pengalaman mereka masih kalah dari para pemain Spanyol dan Italia.

Sampai akhirnya, hasil yang ditunggu-tunggu itu terjadi tahun 2014. Generasinya Lahm dipadukan dengan generasinya Khedira, ditambah yang rada mudaan macam Toni Kroos, Mario Goetze, Julian Draxler, dan Shkodran Mustafi jadi campuran skuat yang menakjubkan.

Piala Eropa 2016 sebenarnya bisa mereka juarai andai tak banyak masalah cedera yang hinggap pada laga semifinal lawan tuan rumah Prancis. Empat pemain kunci mereka, Khedira, Hummels, dan Mario Gomez tak bisa main padahal lagi bagus-bagusnya.

Schweinsteiger juga baru pulih dari cedera terpaksa dimainkan. Jerman makin KO setelah Boateng ikut-ikutan cedera pada menit ke-60-an. Ditambah dua gol Prancis dihasilkan dari penalti dan buah kesalahan Joshua Kimmich, sepertinya harus diakui mereka kalah karena “kalah hoki” kalau kata anak tongkrongan.

Terlepas dari kekalahan mereka di Piala Eropa kemarin. Yang pasti Jerman punya banyak stok pemain yang bikin Loew makin bingung di Piala Dunia 2018 nanti. Skuat mereka akan jadi dalam banget, sedalam cinta Habibie kepada Ainun.

Jenjang Karier Kiper

Regenerasi kiper tak boleh dikesampingkan. Jerman adalah salah satu negara yang hampir tak pernah kehabisan stok kiper, macam Italia. Ini juga bukti begitu rapinya orang Jerman mengorbitkan seorang kiper. Tahu kapan saatnya mereka menurunkan kiper yang sudah matang.

Selalu ada saja kiper-kiper gokil yang jadi andalan di bawah mistar gawang “Tim Panser”. Sebut saja Sepp Maier, Toni Harald Schumacher, Bodo Ilgner, Andreas Koepke, Oliver Kahn, Jens Lehmann, Neuer, sampai terakhir Marc-Andre ter Stegen.

Uniknya, para kiper itu punya jenjang karier yang tertata dengan baik. Tak serta-merta langsung jadi kiper utama di timnasnya. Tapi jadi junior yang baik terlebih dahulu, alias jadi kiper cadangan.

Dimulai pada Piala Dunia 1990, kiper utama mereka adalah Bodo Ilgner. Cadangannya adalah Koepke. Lalu pada 1994, Ilgner yang usianya lebih muda dari Koepke tetap jadi pilihan utama. Kemudian kiper muda Oliver Kahn muncul jadi kiper ketiga.

Pada Piala Dunia 1998, Koepke naik pangkat jadi kiper utama. Kahn naik pangkat juga jadi kiper kedua, lalu muncul Jens Lehmann sebagai kiper ketiga.

Pada Piala Dunia 2002, Kahn naik jadi kiper utama. Lehmann kedua, lalu muncul Hans-Jorg Butt sebagai kiper ketiga.

Pada Piala Dunia 2006, gantian Lehmann yang jadi kiper utama. Kahn diturunkan sebagai kiper kedua karena sudah mulai dimakan usia. Kemudian muncul Timo Hildebrand sebagai kiper ketiga.

Sayangnya, pada 2010 Hildebrand maupun Butt tak bisa melanjutkan tongkat estafet sebagai kiper utama setelah Lehmann dan Kahn undur diri. Beruntung, Neuer saat itu sudah lahir ke muka bumi sehingga langsung ditempatkan sebagai kiper utama.

Neuer ini bisa dibilang ikutan Management Trainee. Tahu-tahu sudah jadi kiper utama setelah sebelumnya main di U-21. Begitu juga dengan Marc-Andre ter Stegen yang baru dipanggil pada Piala Eropa 2016 kemarin.

Konsisten dengan Pelatih

Faktor terakhir adalah faktor kepelatihan. Jerman adalah tim yang jarang gonta-ganti pelatih. Tak seperti Al Ghazali yang sering banget gonta-ganti pacar, maklum anak muda.

Selama timnas Jerman dibentuk sejak zaman Budi Oetomo, yakni pada 1908, Jerman hanya memiliki 10 pelatih saja. Konsistensi jadi kuncinya.

Mereka adalah Otto Nerz (1926-1936), Sepp Herberger (1936-1942 & 1950-1964), Helmut Schoen (1964-1978), Jupp Derwall (1978-1984), Franz Beckenbauer (1984-1990), Berti Vogts (1990-1998), Erich Ribbeck (1998-2000), Rudi Voeller (2000-2004), Juergen Klinsmann (2004-2006), dan Loew (2006-sekarang).

Saat Jerman jadi juara dunia tahun 1954, Herberger sudah menangani timnas sejak 1936. Lalu saat Jerman juara dunia tahun 1974, Schoen sudah menangani Jerman sejak 10 tahun sebelumnya.

Kemudian saat Jerman juara dunia tahun 1990, Beckenbauer sudah memegang timnas sejak 1984. Terakhir adalah Loew yang jadi juara 2014 setelah menangani timnas sejak 2006.

Artinya, rata-rata pelatih yang membawa Jerman jadi juara dunia adalah pelatih yang minimal menangani timnas mereka selama enam tahun. Ini bukti bahwa mereka mengutamakan konsistensi dan visioner.

Gagal pada musim-musim awal tak masuk hitungan karena sejatinya target mereka adalah 6-10 tahun berikutnya. Tim mereka juga makin kompak karena dilatih hanya dengan satu orang.

Kalau ditangani beda-beda orang, sudah pasti pondasi tim bakal berubah dan jadi kurang solid. Permainan tim juga pasti berubah sehingga bakal tak terorganisir dengan baik, bertolak belakang dengan mental dan karakter mereka yang serba rapi.

Apalagi kalau pelatih utamanya ada delapan orang, sudah pasti nanti bingung terima arahannya dari siapa. Yang satu maunya 4-3-3, yang satu maunya 3-4-1-2.

Masa Depan Cerah

Yang pasti, Jerman tak perlu ketakutan kekurangan pemain. Jebolan tim U-21 mereka yang jadi juara Eropa pada 2009, generasinya Khedira dkk telah membuktikan diri di Piala Dunia 2014 dan jadi pemain-pemain kelas dunia saat ini.

Timnas U-21 Jerman baru saja jadi juara Eropa beberapa hari lalu, tentu ingin mengikuti jejak Khedira dkk. Seperti Max Mayer, Serge Gnabry, Julian Pollersbeck, Maximilian Philipp, Maximilian Arnold, dan Jeremy Toljan bakal meneruskan tongkat estafetnya.

Tapi tunggu dulu, sebelum mereka masuk, bakal diisi dulu oleh para milenial senior yang menjuarai Piala Konfederasi kemarin. Seperti Emre Can, Leon Goretzka, Joshua Kimmich, Lars Stindl, Timo Werner, Sebastian Rudy, dan Antonio Ruediger.

Silakan antri yang rapi ya!

Main photo: http://jaysbrickblog.com


Paundra finPaundra Jhalugilang

Penulis adalah pemuda harapan bangsa yang biasa-biasa saja. Bekas wartawan tanpa pengalaman yang melihat sepakbola dengan penuh pesona. 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here