Oleh: Sakti Sakral

Jika seluruh penggemar sepakbola dunia dapat bersikap objektif, maka tak perlu diragukan lagi, bahwa semua orang pasti sependapat jikalau tim Barcelona pada medio 2008-2012 merupakan salah satu tim dengan gaya bermain paling atraktif dalam sejarah sepak bola.

Dipiloti oleh si Jenius muda Pep Guardiola, Barcelona kala itu menjelma menjadi suatu hegemoni dalam dunia sepak bola. Tidak hanya rentetan trofi yang terus mengalir bagai banjir Jakarta di dalam trofi kabinet mereka, tapi permainan elok rupawan bak permaisuri tak henti-hentinya memanjakan mata para penikmat sepakbola kala itu.

Bahkan para suporter dari tim rival yang terkenal viral dengan gengsinya yang amat tinggi, melebihi gengsi seorang perempuan untuk minta maaf duluan sekalipun, amat susah untuk menyembunyikan kekaguman di mata mereka setiap kali menyaksikan Iniesta dan Xavi beraksi dengan passing pendeknya.

Italia boleh saja bersombong ria memamerkan Cattenacio mereka, Brazil boleh punya Jogo Bonito kebanggaannya,  tapi Barcelona-nya Pep, dengan tiki taka yang membuat mata penonton berbinar-binar seperti mata cewek ketika melihat Pangeran Brunei itu, ada di kelas yang berbeda.

Inovasi yang ditawarkan Pep dengan tiki taka-nya kala itu membawa angin baru dalam dunia sepak bola yang pada waktu itu cenderung seperti komentar tetangga jika memakai baju yang sama berulang kali: itu-itu saja.

Hingga saat ini, ada banyak tim yang telah mencoba untuk mengadopsi dan menerapkan filosofi bermain yang diperkenalkan oleh Pep Guardiola tersebut, alias para tim dengan tiki-taka KW. Namun sebagaimana mestinya, adalah kemustahilan untuk dapat meniru produk asli secara sempurna.

Paling mentok, cuma sampai grade premium atau KW super kelas Tanah Abang. Entah abangnya siapa. Oleh karena itu, hingga kini, keorisinil-an Tiki Taka hanyalah milik Barcelona-nya Pep seorang.

Salah satu aspek terpenting dalam keberhasilan Tiki Taka Pep adalah ketajaman lini depan. Mari sedikit dipermudah dulu. Tiki Taka adalah filosofi bermain menyerang yang mengedepankan umpan pendek dari kaki ke kaki setiap pemain.

Untuk membongkar pertahanan lawan, Tiki Taka mengandalkan kelihaian para penyerang dalam memaksimalkan setiap servis umpan yang mereka terima. Baik itu kombinasi satu-dua dengan para gelandang, maupun pergerakan tanpa bola untuk menjemput through pass maut yang sekonyong-konyong dapat membelah pertahanan lawan seketika.

Dengan syarat yang ribet dan agak khusus begitu, agaknya tak heran apabila para penyerang Barcelona pada periode tersebut hampir semuanya merupakan pemain dengan tipe dan gaya bermain yang mirip; penyerang-penyerang kecil yang gesit dan dinamis. Sebut saja Pedro Rodriguez, Bojan Krkic, Alexis Sanchez, David Villa, dan Lionel Messi.

Perhatikan baik-baik, mereka semua merupakan penyerang dengan playing style yang mirip, bukan? Ditambah, Pep selalu memasang trisula tiga penyerang dalam tiki taka-nya.  Jadi bisa dibilang, juru gedor Barcelona adalah tiga orang penyerang setipe, yang kompak, berpostur mungil, namun mematikan seperti kusarigama.

Para penyerang ini memiliki peran yang bisa dikatakan unik lantaran mereka bermain terlalu dalam untuk dapat disebut sebagai winger, tapi kurang depan untuk disebut striker. Peran yang memang dikhususkan untuk mereka saja.

Oleh karena itu, Tiki Taka bukanlah filosofi bermain untuk para penyerang jangkung spesialis duel udara, atau striker nomor 9 klasik sebagai target man dengan insting membunuh yang mematikan. Soalnya dalam Tiki Taka, mereka tidak mengenal finisher utama, tidak ada pemain yang dispesialkan untuk mendapat pelayanan agar mudah mencetak gol seperti striker pada umumnya.

Striker murni macam Thierry Henry, Samuel Eto’o, dan Zlatan Ibrahimovic pun sampai rela diedit gaya bermainnya agar cocok dengan tiki taka. Lionel Messi boleh saja mencetak ratusan gol pada periode tersebut, tapi gol tersebut bukan serta merta lantaran ia merupakan pemain yang dikhususkan dan dilayani untuk mencetak gol, tapi ya karena memang kebetulan beliau mencetak gol saja dan memang jago.

Nah, dengan spesifikasi yang menarik begitu, mengakibatkan setiap penyerang yang singgah di Barcelona dalam periode tersebut, memang adalah penyerang yang gaya bermainnya sesuai dengan kualifikasi unik seperti di atas.

Bahkan hampir semua penyerang lulusan La Masia kala itu juga begitu gaya mainnya, sebut saja Gerard Deulofeu atau Adama Traore. Entah bagaimana manajemen akademi, kok bisa sampai kompak begitu. Kita mungkin menyaksikan sendiri bagaimana pemain model David Villa, Pedro Rodriguez, hingga Cesc Fabregas berhasil memainkan peran unik tersebut.

Tapi jika kita renungkan lebih jauh, ada berapa banyak penyerang muda berbakat, yang sudah terlatih dan dilatih untuk mematenkan peran ‘unik’ ini, namun tidak pernah berhasil menembus line-up utama? Apakah bakat ‘unik’ mereka akan sia-sia jika mereka berlabuh ke tim non tiki taka?  Dan, siapa saja mereka? Ya, tulisan yang pendahuluannya panjang ini ternyata tentang itu.

Bojan Krkic

Pria mungil ini adalah orang yang memecahkan semua rekor Lionel Messi diawal kemunculannya. Pencetak gol termuda Barcelona, debutan termuda, pencetak gol termuda di Liga Champions, dan beberapa rekor lainnya. Bahkan di gim Football Manager sudah mahal banget untuk wonderkid seumurannya.

Rutin mencetak belasan gol per musim untuk salah satu tim terbaik dunia yang dihuni para penyerang papan atas merupakan sesuatu yang luar biasa untuk pemuda yang bahkan kala itu belum berusia 20 tahun. Bojan seperti semestinya, kecil dan dinamis.

Memiliki andil dalam keberhasilan legendaris sextuple Barca di musim 2008/2009, dan selalu menjadi kartu truf Pep setiap kali mengalami kebuntuan. Namun sayang, pada musim terakhir Pep menukangi Barca, ia dikirim untuk menimba ilmu di Serie A bersama AS Roma dan AC Milan.

Menjalani masa peminjaman yang cukup baik di negeri Pizza, akan tetapi, selepas kepergian Pep, ia tidak pernah diberi kepercayaan  lagi untuk pulang ke rumahnya, Barcelona, yang kala itu sudah memiliki Neymar.

Bojan berakhir sebagai penyintas, membela banyak klub dari berbagai negara setelah dilepas Barca. Mulai dari Ajax Amsterdam, Stoke City, Alaves, dan beberapa klub lain. Kini, diusianya yang sudah 29 Tahun, mantan bocah ajaib ini sedang berusaha menata karir kembali di MLS, bersama Montreal Impact.

https://twitter.com/FTalentScout/status/1250461714543452160

Jeffren Suarez
Jika teman-teman masih ingat pertandingan El Clasico legendaris di musim 2010/2011, ketika Barcelona membantai Real Madrid 5 gol tanpa balas di Camp Nou, ada satu pemandangan tak biasa yang terjadi. Di papan skor, alih-alih muncul nama Messi atau Iniesta ketika gol kelima tercipta, nama Jeffren Suarez justru tertera di sana.

Nama yang mungkin cukup asing bagi para penikmat sepakbola, bahkan untuk para fans Blaugrana sekalipun. Dan ya, Jeffren yang alumnus La Masia memang hanya bertahan sebentar setelah mencetak gol tersebut, dan dilepas ke Sporting Lisbon pada akhir musim.

Tampil tidak sampai 50 kali sejak melakukan debut tahun 2007, kebanyakan sebagai pemain pengganti, dan hanya mencetak 3 gol. Aksinya di Camp Nou ketika mengunci pesta El Clasico mungkin adalah satu-satunya momen yang dapat dikenang public terkait sosok ini. Kini, Jeffren bermain di Kroasia, berseragam Slaven Belupo.

Isaac Cuenca
Cuenca berasal dari daerah yang sama seperti Sergio Busquets, Sabadell.  Sebuah kota kecil di Provinsi Barcelona. Namun sayang, nasibnya tidak seberuntung Busquets yang hingga kini masih menjadi  pemain kunci di lini tengah Barcelona sejak melakukan debutnya pada 2008.

Cuenca sejatinya adalah penyerang dengan kemampuan teknis yang mumpuni. Kendati hanya bertahan semusim, yakni musim 2011/2012, dimana Barcelona hanya menjuarai Copa Del Rey, Cuenca lumayan sering dipakai oleh Pep, meski kebanyakan sebagai pemain pengganti.

Cuenca bahkan dipercaya menjadi starting line-up dalam kekalahan pahit Barca di leg kedua Liga Champions kontra Chelsea, dan menyumbang satu assist untuk gol Busquets dalam laga tersebut. Total, Cuenca tampil sebanyak 30 kali di semua ajang, dan mencetak 4 gol.

Sebelum akhirnya dilego ke Deportivo La Coruna. Cuenca kini beraksi di Liga Jepang, memperkuat Vegalta Sendai.

Ibrahim Afellay
Afellay adalah nama paling mahal dalam list ini. Ditebus seharga €3 Juta dari PSV pada jendela transfer musim panas 2011, setelah menjadi bagian dari skuad timnas Belanda yang menembus final Piala Dunia 2010 dan turut andil dalam keberhasilan PSV menggondol empat gelar Eredivisie secara berturut-turut.

Tampil cukup regular diparuh pertamanya, bahkan sempat memberi assist untuk gol Lionel Messi pada El Clasico di semifinal Liga Champions. namun sayang, cedera di awal musim 2011/2012 harus mengubur mimpi Afellay sebagai pemain utama Barcelona, dan memaksa ia untuk dipinjamkan selama dua musim berturut-turut, kala itu kepada Schalke 04 dan Olympiakos.

Afellay akhirnya bergabung ke tim Premier League, Stoke City dan bereuni dengan sesama mantan penyerang Barca, Bojan Krkic. Di usianya yang sudah memasuki penghujung karier, Afellay kembali ke klub yang membesarkan namanya, PSV Eindhoven.

https://twitter.com/SportingLifeFC/status/1245639247089913856

Nolito

Nolito lulusan La Masia yang telat. Baru mendapatkan debut ke tim utama ketika sudah nyaris berusia 24 tahun. Usia di mana harusnya pesepakbola sudah berada di masa keemasan kariernya.

Nolito melakukan debut di musim 2010/2011, setelah tampil menawan untuk tim akademi. Masuk sebagai pengganti Pedro Rodriguez dalam pertandingan La Liga melawan Mallorca. Nolito hanya bertahan semusim, dan tampil sebanyak 5 kali dengan torehan satu gol. Nyaris tidak berkontribusi apa-apa untuk Barcelona.

Pada Juli 2011, Nolito berlabuh ke Benfica, dan berhasil membuktikan kualitasnya sebagai penyerang mumpuni. Nolito mengalami puncak karirnya selama 3 musim membela Celta Vigo, dalam rentan waktu dari 2013-2016. Performa impresifnya mengantarkannya menjadi winger andalan timnas Spanyol untuk Euro 2016. Dia ditebus mahal oleh raksasa Inggris, Manchester City, tepat seusai Euro. Nolito kini sudah kembali ke kampung halamannya, Barcelona, dan memperkuat tim raksasa tanggung Spanyol, Sevilla.

Cristian Tello
Di antara semua nama di atas, Tello mungkin yang paling berkontribusi bagi Barca selama masa baktinya. Tello sama seperti kebanyakan penyerang lain, merupakan alumnus La Masia. Tello merupakan penyerang dengan kecepatan sporadis, mengandalkan kemampuan lolos dari jebakan offside sebagai atribut utamanya.

Pada awal kemunculannya, gaya bermain Tello mengingatkan publik Barca akan sosok Ludovic Giuly. Tello mengabdi untuk Barcelona selama tiga musim. Dua musim di bawah naungan Pep Guardiola. Mencetak 20 gol dalam 86 kesempatan tampil, bahkan sempat mencetak hattrick ke gawang Levante dalam ajang Copa Del Rey.

Tello merupakan tipikal pemain yang selalu dapat menampilkan yang terbaik ketika diberi kesempatan. Kehadiran Neymar dan perginya Pep membuat penyerang cepat ini kehilangan menit bermain, lalu dipinjamkan selama total empat musim ke Porto & Fiorentina, sebelum memutuskan untuk hengkang ke Real Betis pada tahun 2017.

Hingga kini, Tello bermain untuk Betis di La Liga, menjadi andalan di lini depan El Balompie, dan masih secara rutin menghadapi tim lamanya, Barcelona setiap musim.

Gerard Deulofeu
Mungkin Deulofeu masih terlalu muda ketika pertama kali dipanggil Pep untuk melaksanakan debut di tim utama, namun jika menyaksikan aksinya ketika di tim akademi Barca, Deulofeu tidak mencerminkan anak muda berusia belasan.

Merupakan tipikal penyerang serba bisa yang dapat diplot sebagai gelandang serang, Deulofeu seharusnya bisa menjadi aset berharga buat Barcelona. Deulofeu membuat debutnya pada Agustus 2011, ketika dirinya masih berusia 17 tahun.

Sepanjang  musim tersebut, penampilannya hanya bertambah satu kali dan lebih sering beraksi untuk tim akademi. Di musim berikutnya, Deulofeu masih belum dipercaya untuk tampil seiring menumpuknya penyerang yang lebih senior di lini depan Barcelona kala itu.

Hingga akhirnya dioper ketiga klub, yakni Sevilla, Everton, dan Milan. Pada awal musim 2017/2018, Barcelona menarik kembali Deulofeu dari Everton, dengan mengaktifkan klausul buy back. Namun, dirinya hanya bertahan setengah musim untuk tim masa kecilnya, sebelum akhirnya dilepas kembali ke Everton.

Deulofeu kini berusia 26 tahun, dan tengah menikmati puncak kariernya bersama Watford. Nah, hingga selepas kepergian Pep pun, Barcelona masih tetap menganut paham Tiki Taka yang memang sudah mengakar dalam budaya mereka.

Tetap saja, jika ditelaah lagi, bahkan setelah Pep tidak menukangi Barca, Barcelona masih saja memakai penyerang dengan tipe ‘unik’ tadi. Para penyerang yang memang dimodifikasi agar sesuai dengan Tiki Taka. Sebut saja nama-nama seperti Sandro Ramirez, Munir El Haddadi, Ansu Fati, hingga Martin Braithwaite.

Jadi, dapat disimpulkan, bahwasanya, Tiki Taka tidak hanya membentuk filosofi permainan yang kuat, akan tetapi, Tiki Taka telah menciptakan karakter tersendiri dalam dunia sepakbola. Sebut saja mereka, para penyerang Tiki Taka.


Sakti Sakral

Pelajar SMA yang mencintai sepak bola melebih Alogaritma & Teorema. Seorang Madridtista tetapi setengah mati mengidolai Sergio Busquets.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here